Ini Dua Kunci Perubahan Moneter AS dalam Pidato Powell

News - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
27 August 2020 21:39
FILE - In this Nov. 25, 2019, file photo Federal Reserve Board Chair Jerome Powell addresses a round table discussion during a visit to Silver Lane Elementary School, in East Hartford, Conn. On Wednesday, Dec. 11, the Federal Reserve issues a statement and economic projections, followed by a news conference with Powell. (AP Photo/Steven Senne)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bos bank sentral Amerikat Serikat (AS), otoritas moneter terkuat di dunia, baru saja menyampaikan pidato yang paling dinanti pasar sepanjang Agustus. Dua perubahan kebijakan moneter diambil guna mempercepat pemulihan ekonomi dunia.

Perubahan pertama sesuai dengan ekspektasi pasar, yakni kebijakan moneter yang terkait dengan inflasi. Dalam pidatonya, bos The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa bank sentral setuju menjalankan kebijakan dengan menargetkan "rerata inflasi."

"Banyak yang menilai bahwa akan gegabah jika The Fed menaikkan inflasi," tutur Powell mengawali pidatonya, sebagaimana dikutip CNBC International. "Namun, inflasi yang secara persisten terlalu rendah bisa menimbulkan risiko serius terhadap perekonomian."


Dengan kata lain, The Fed akan membiarkan inflasi di atas 2% "untuk beberapa waktu." Imbasnya, jika tingkat pengangguran menurun maka bank sentral AS tersebut tidak serta-merta harus menaikkan suku bunga acuan, selama inflasi masih sesuai dengan rerata target.

Selama ini, The Fed mematok target inflasi 2%, tetapi sejak krisis finansial 2008 target tersebut sulit tercapai. Biasanya, tingkat pengangguran rendah berujung pada kenaikan inflasi, dan bank sentral akan bergerak cepat untuk mencegah itu terjadi.

"Tingkat suku bunga yang diantisipasi pasar cenderung pada The Fed yang dovish (longgar) dan bersedia menerima bahwa inflasi bisa lebih tinggi untuk jangka lebih panjang," tutur Rick Rieder, Kepala Investasi Global BlackRock, kepada CNBC International.

 

Target Lapangan Kerja Ditiadakan

Perubahan kedua terkait dengan kebijakan moneter yang menyasar pasar tenaga kerja. Pendekatan baru akan dilakukan, di mana The Fed akan melakukan asesmen atas selisih angka pengangguran sekarang dari level maksimumnya.

"Perubahan ini merefleksikan apresiasi kami atas manfaat pasar tenaga kerja yang kuat, terutama di komunitas berpenghasilan menengah-rendah," ujar Powell. Hal tersebut, lanjut dia, merefleksikan pandangan bank sentral bahwa "pasar tenaga kerja yang kuat bisa dipertahankan tanpa memicu lonjakan inflasi".

Ke depan, The Fed tak akan mematok target angka pengangguran tetapi akan membiarkan kondisi lapangan yang menentukan apakah penyerapan tenaga kerja sudah penuh atau belum. Untuk itulah mereka bakal melakukan asesmen.

Dengan demikian, lagi-lagi, tolak ukur untuk menentukan orientasi kebijakan moneter ketat, yakni dari sisi penyerapan tenaga kerja, dibuat menjadi lebih fleksibel. Ini memungkinkan suku bunga rendah berjalan lebih lama lagi guna menopang pemulihan ekonomi di tengah pandemi meski pasar tenaga kerja membaik.

Menyambut pidato tersebut, bursa saham AS dibuka melesat hingga 257,67 poin (+0,91%) ke 28.589,59 setengah jam setelah pembukaan. Indeks Nasdaq menguat 21,08 poin (+0,18%) ke 11.686,14 dan S&P 500 naik 16,79 poin (+0,48%) ke 3.495,52.

Saham-saham bank pun menguat, seperti Citigroup yang naik 0,9%, demikian juga JP Morgan dan Bank of America serta Wells Fargo yang menguat 1%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading