Waspada, Deflasi di Indonesia Itu Sebenarnya Ngeri!

News - Lidya Julita S & Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
12 August 2020 14:48
Suasana Pasar Tanah Abang resmi dibuka kembali hari ini setelah sebelumnya tutup karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB) DKI Jakarta. 15/6/20, CNBC Indonesia/Tri Susilo
Pantauan CNBC Indonesia di Ruko Blok B Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2020), kawasan ruko ini didominasi oleh pedagang baju, kain dan kerudung. Setiap pengunjung berjalan, pedagang pun menjajakan barang jualannya.  

Sebelum memasuki pasar pengunjung dicek suhu oleh dinas kesehatan setempat dan pihak pengelola mal sudah menyediakan tempat cuci tangan di setiap Blok pintu masuk pasar.

Terdapat masyarakat dan pedagang yang sedang melalukan transaksi jual-beli. Mereka bertransaksi menggunakan masker. Namun, hanya sedikit pedagang yang menggunakan face shield.

Mayoritas pengunjung membeli barang dalam jumlah yang banyak. Bahkan, tak jarang pengunjung datang dengan membawa trolly lipat untuk memudahkannya membawa barang. 

Seperti diketahui, Perumda Pasar Jaya menerapkan sistem ganjil-genap di pasar-pasar yang dikelolanya. Skema ganjil-genap di pasar berlaku sesuai dengan nomor kios, misalnya apabila tanggal genap, maka kios yang bukan hanya bernomor genap.

Direktur Utama Perumda (PD) Pasar Jaya Arief Nasrudin mengatakan aturan ganjil-genap di pasar di wilayah DKI Jakarta akan berlaku pada 15 Juni 2020. Aturan tersebut diberlakukan untuk mencegah semakin masifnya penularan Virus Corona (COVID-19) di pasar. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah pandemi covid-19, di mana ekonomi masih lesu, inflasi bukan lagi menjadi ancaman. Justru yang harus disoroti adalah perlambatan laju inflasi menjadi deflasi karena minimnya permintaan.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada Juli 2020, Indonesia mengalami deflasi -0,1% (month to month). Ini membuat inflasi tahun kalender (year-to-date/YtD) menjadi 0,98% dan inflasi tahunan (year-on-year/YoY) 1,54%.

Kepala Ekonom BCA David Sumual berharap deflasi tidak akan lagi terjadi di Bulan Agustus. Pasalnya jika deflasi terjadi, maka akan membuat konsumen semakin pesimistis.

"Kemungkinan mereka akan menunda pembelian. Karena berharap nanti harganya lebih murah lagi. Itu artinya, aktivitas ekonomi dan daya beli belum berubah banyak, masih lemah. Mudah-mudah tidak terjadi di bulan Agustus ini," kata David kepada CNBC Indonesia, Rabu (12/8/2020).

Sementara, pertumbuhan ekonomi Indonesia 58% hingga 60% ditopang oleh konsumsi. Artinya apabila permintaan atau konsumsi rendah, membuat pertumbuhan ekonomi akan semakin tertekan.

Pada Kuartal II-2020 saja, pertumbuhan ekonomi sudah mengalami minus 5,32%. Kalau permintaan terus melemah dan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020, yang tinggal beberapa hari lagi, juga kemungkinan bisa kembali kontraksi dan membuat Indonesia masuk ke jurang resesi.

Dari catatan David, pada bulan Juni-Juli aktivitas ekonomi memang kembali meningkat, kendati demikian menjelang akhir Juli dan memasuki awal Agustus, aktivitas ekonomi kembali menurun.

Menurut David, menurunnya aktivitas ekonomi karena adanya permintaan yang tertunda dan sekaligus adanya dampak dari rentetan ekonomi dari covid-19.

"Dampak ekonomi dari covid-19 ini belum berakhir kalau menurut saya. Jadi, banyak perusahaan-perusahaan yang mengurangi capital expenditurenya, atau operasional expenditurenya. Dan ada juga yang mengurangi tenaga kerja. Nah, ini ada dampak multiplier ke dalam ekonomi," jelas David.

Hal yang bisa dilakukan agar tidak terjadi lagi deflasi pada Agustus, menurut David adalah dengan pemerintah melakukan percepatan belanja. Sekaligus juga dibarengi dengan penanganan covid-19 yang harus dilakukan secara serius.

Pasalnya, angka penularan covid-19 di Indonesia belum ada tanda-tanda menurun. Malah semakin bertambah setiap harinya. Sampai dengan 11 Agustus 2020, terjadi penambahan kasus covid-19 sebanyak 1.693 pasien. Dengan demikian, total ada 128.776 kasus covid-19 di Indonesia.

"Otomatis hal itu tidak membuat masyarakat nafsu untuk berbelanja, karena lebih baik untuk saving dan berjaga-jaga. Terutama untuk industri yang berpengaruh sangat parah, seperti pariwisata belum pulih. Saya khawatir mereka masih berjaga-jaga, precautionary," tutur David.

Secara terpisah, Ekonom CORE Piter Abdullah menjelaskan, deflasi atau inflasi yang terlalu rendah tidak menguntungkan secara ekonomi, karena tidak memberikan insentif kepada dunia usaha untuk berproduksi.

"Antara inflasi yang sangat rendah dan deflasi sama saja tidak menguntungkan secara ekonomi. Yang dibutuhkan adalah inflasi yang rendah dan stabil, di tengah permintaan atau konsumsi yang bertumbuh," jelas Piter.

Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira pun merasa janggal apabila Indonesia bisa mengalami deflasi, mengingat penduduk Indonesia ada lebih dari 270 juta penduduk. Semestinya dengan jumlah penduduk sebanyak itu, bisa menjadi dorongan pemerintah untuk membentuk kenaikan harga.

Apabila di bulan Agustus deflasi masih terjadi, menurut Bhima Indonesia berpotensi mengalami depresi besar, seperti yang pernah terjadi di Amerika Serikat (AS) pada 1930-1933.

"Demand force kita besar sekali, butuh makanan minum dan kebutuhan lainnya. Jadi aneh kalau deflasi. Berarti ada yang salah dengan sisi permintaan. Situasi deflasi yang berkelanjutan bisa mirip dengan depresi besar tahun 1930-1933. Jadi, ini pertanda kelesuan di hampir semua sektor," tuturnya.

Jika ditarik ke krisis 1998 dan 2008, Indonesia masih mengalami inflasi. Pada 1998 terjadi inflasi 77,6% dan pada krisis 2008 terjadi inflasi 11%.

"Baru kali ini deflasi jadi bisa dikatakan sinyal yg lebih berbahaya dari krisis sebelumnya yang pernah ada. Model krisisnya berbeda dan kita belum siap hadapi pelemahan daya beli yg ekstrem," kata Bhima menegaskan.



[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ngeri 2 Kali Berturut-turut Deflasi Terjadi, Krisis Itu Nyata


(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading