'Jika Corona tak Bisa Diatasi, Jangan Bermimpi Atasi Resesi'

News - Muhammad Iqbal, CNBC Indonesia
06 August 2020 06:03
Didik Rachbini. Foto: dikhy sasra

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonom senior yang juga pendiri INDEF Didik J Rachbini merilis sebuah catatan dalam merespons pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2020. Seperti diketahui, BPS pada Rabu (5/8/2020) mengumumkan PDB Indonesia tumbuh negatif 5,32% di kuartal II-2020.

"Ini jelas merupakan kenyataan yang tidak bisa dihindari. Pemerintah dan tim ekonomi tidak bisa dituntut lebih jauh untuk mempertahankan pertumbuhan positif dalam keadaan pandemi sekarang ini. Tetapi yang harus dituntut oleh publik kepada pemerintah adalah respons kebijakan apa yang harus dilakukan menghadapi kenyataan seperti ini?," ujar Didik di Jakarta, kemarin.

Terdapat sejumlah poin yang disoroti oleh Didik.

Pertama, dia menilai krisis yang terjadi sekarang akibat pandemi Covid-19 merupakan masalah yang berat sekaligus peluang yang luar biasa. Bagi siapa? Tentu bagi mereka yang berdaya pikir dalam dan panjang ke depan.

Didik mengatakan, yang harus dikritisi pada saat ini adalah, masalah yang ada tidak dapat dihindari pemerintah tetapi peluang yang ada dibiarkan begitu saja dan tidak dikembangkan. Semua karena respons kebijakan yang tidak memadai.

Eks politikus Partai Amanat Nasional itu mencontohkan sektor transportasi, jasa pergudangan, akomodasi dan makanan-minuman dan jasa-jasa laiannya terkena dampak paling parah sehingga tumbuh minus antara -15 persen sampai -22 persen. Tetapi peluang pada sektor lain dibiarkan tidak berkembang seperti sektor informasi dan komunikasi hanya tumbuh 3,44 persen.

"Padahal peluang pertumbuhan sektor ini luar biasa besar karena hampir keseluruhan yang tidak bisa dilakukan dengan transportasi mestinya bisa digantikan oleh sektor informasi dan komunikasi," kata Didik.

Kedua, lanjut dia, peluang seperti ini hilang karena kebijakan diam di tempat dan tidak muncul inovasi dari dalam yang memberi jalan dan peluang agar sektor informasi dan komunikasi tumbuh pesat. Didik mengamati, beberapa perusahaan informasi dan komunikasi mendapat rezeki luar biasa seiring pandemi. 

Alasannya sederhana. Pandemi membuat transportasi mandeg, maka teknologi informasi (IT) tampil sebagai pengganti.

"Jadi wajar jika perusahaan IT bisa tumbuh sampai tiga ratus persen. Tetapi, mengapa sektor ini secara keseluruhan hanya tumbuh 3,44 persen? Jawabnya karena miskin ide dan inovasi, tuna kebijakan," ujar Didik.

Ia pun mengusulkan agar mengaktifkan Palapa Ring secara maksimal. Kemudian tiang-tiang listrik berikan gratis untuk sementara kepada Telkom dan Telkomsel serta perusahaan swasta agar segera mengembangkan jaringan di seluruh penjuru negeri.



"Jika hal sederhana ini bisa dilakukan, maka sektor infokom akan berkembang pesat. Karena tuna kebijakan, maka sektor ini tumbuh sangat rendah, tumbuh seadanya seperti sekarang karena tidak punya daya pikir dalam. Sebagai catatan, tingkat elektrifikasi kita sudah di atas 90 persen, yang siap menjadi penopang sektor infokom. Jika saran kebijakan ini juga tidak laku, maka saya pastikan ada penyakit bebal kebijakan," kata Didik.

Ketiga, lanjut dia, krisis ini sesungguhnya adalah peluang bagi "sektor drakula" penghisap devisa, yaitu sektor kesehatan. Didik menjelaskan, kebutuhan sektor kesehatan hampir mutlak didatangkan dari luar negeri. Sebagai pengimpor mutlak dari negara lain, sektor ini juga ditingkahi setan monopoli dan rente yang luar biasa besar.

Sektor ini adalah sektor neraka bagi ekonomi karena menghisap devisa, melemahkan rupiah, menggerus perolehan ekspor, dan memelihara hutan rente ekonomi, yang menyakitkan. Krisis ini adalah peluang untuk merontokkan drakula dan setan rente tersebut, yang menyebabkan biaya kesehatan dan harga obat mahal," ujar Didik.

Keempat, menurut alumni IPB ini, peluang juga ada di sektor pendidikan. Sebagai guru, Ia mengaku hampir tidak pernah mendapat hambatan dalam mengajar, menguji, dan praktek, terutama untuk jurusan ilmu-ilmu humaniora. Kuncinya adalah mekanisme pendidikan normal baru secara daring.

"Tetapi pendidikan di kota dan Jakarta berbeda dengan pendidikan di desa dan luar Jawa yang macet karena tidak ada jaringan internet. Jaringan internet tidak ada karena pemerintah kurang daya pikir, padahal di sini peluang itu ada," kata Didik.

Keenam, lanjut dia, pemerintah dan tim ekonomi sibuk dengan permasalahan internal sendiri. Hal itu diperparah koordinasi dan komunikasi yang buruk, kemarahan presiden yang tidak perlu, serta anggaran yang tidak terealisasi dengan memadai.

Didik pun mengkritik komunikasi pemerintah yang sangat kacau sedari awal di mana ada puluhan blunder komunikasi yang membingungkan dalam kebijakan Covid-19. Akhirnya, meskipun kasus Covid-19 terus meningkat, pemerintah pusat dipimpin Presiden tetap membuka PSBB sehingga kasus Covid-19 sudah di atas 100 ribu. Tidak lama lagi kasus itu akan mencapai 200 ribu bahkan sampai tiga kali dari kasus yang terjadi di China, tempat asal virus ini.

Ketujuh, ujar Didik, jika ini terus terjadi, yaitu tim pemerintah kacau dalam komunikasi, pemimpin gusar terhadap anak buah, dan tim tidak solid, maka Covid-19 mustahil bisa diatasi dengan baik.

"Jika covid-19 tidak bisa diatasi, jangan bermimpi bisa mengatasi resesi. Tidak ada pertumbuhan ekonomi tanpa mengatasi pandemi. Jika pandemi terus berkembang seperti sekarang, maka resesi akan berkepanjangan. Pemerintah akan kesulitan mengembalikan ekonomi tumbuh kembali," katanya.



[Gambas:Video CNBC]

(miq/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading