RI Bangun Pabrik Katalis, Solusi Kemandirian Energi?

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
31 July 2020 17:10
Menteri ESDM Ignasius Jonan melepas road test B30 di gedung KESDM, Jakarta, Kamis (13/6). B30 akan menggantikan pemakaian BBM impor sebesar 55 juta barel. B30 akan menggantikan pemakaian BBM impor sebesar 55 juta barel. Menteri ESDM Ignasius Jonan didampingi Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, me-launching Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 (campuran biodiesel 30% pada bahan bakar solar) pada kendaraan bermesin diesel. Launching Road Test B30 ditandai dengan pelepasan keberangkatan 3 unit truk dan 8 unit kendaraan penumpang berbahan bakar B30 yang masing-masing akan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana pembangunan pabrik katalis oleh PT Pertamina, Institut Teknologi Bandung dan PT Pupuk Kujang merupakan salah satu langkah untuk mewujudkan kemandirian energi Tanah Air. 

Seperti diketahui bersama, soal energi terutama minyak yang banyak digunakan untuk transportasi, Indonesia masih mengandalkan impor. Permasalahan utama yang dihadapi tak lain dan tak bukan adalah produksi minyak Indonesia yang terus berkurang, sementara dari sisi permintaan justru mengalami kenaikan. 

Lifting minyak mentah RI tiap tahunnya menurun. Mulai banyak sumur-sumur minyak RI yang menua sehingga produktivitasnya berkurang. Sementara itu seiring dengan berjalannya waktu cadangan juga terus menipis. 


Sebenarnya sejak tahun 2010 produksi minyak Tanah Air sudah tak mampu memenuhi kebutuhan domestik. Selisih antara produksi dan konsumsi ini pun terus melebar.

Alhasil untuk menambalnya keran impor pun dibuka. Impor minyak mentah dan hasil minyak di sepanjang tahun lalu tercatat masing-masing mencapai US$ 5,7 miliar dan US$ 13,7 miliar. 

Sementara itu di saat yang sama ekspor minyak mentah dan hasil minyak RI masing-masing hanya US$ 1,7 miliar dan US$ 1,9 miliar. Artinya ada defisit sebesar US$ 14,7 miliar. Inilah yang membuat neraca dagang tekor dan transaksi berjalan RI menjadi defisit selama bertahun-tahun.

Untuk menambal kebocoran ini, pemerintah terus mencari akal, selain mencoba menaikkan lifting juga dengan mendiversifikasi sumber energinya. Untuk poin yang kedua pemerintah mulai mengembangkan apa yang disebut bahan bakar nabati atau dikenal dengan istilah biodiesel.

Biodiesel merupakan bahan bakar yang dibuat dengan campuran minyak diesel dan minyak nabati. Berhubung tiap tahunnya RI memproduksi lebih dari 40 juta ton minyak sawit mentah (CPO) dan menjadi produsen terbesar di dunia, minyak nabati jenis ini digunakan sebagai campuran pembuatan biodiesel.

Kemudian muncullah program B30. Angka 30 menunjukkan persentase campuran minyak sawit atau dalam bahasa ilmiah dan keteknikannya disebut sebagai Fatty Acid Methyl Esther (FAME) sebanyak 30%, sementara sisanya 70% adalah minyak diesel.

Untuk mengubah CPO yang ada menjadi bahan bakar prosesnya tidak sederhana. Reaksi kimia konversi CPO menjadi bahan bakar nabati disebut dengan esterifikasi atau transesterifikasi. 

Proses Pembuatan BiodieselPembuatan BiodieselSumber: Kementerian ESDM

Namun agar reaksi tersebut dapat terjadi dan biodiesel terbentuk, membutuhkan suatu bahan atau zat yang berperan untuk mempercepat reaksi kimianya. Zat tersebut kemudian disebut sebagai katalis. 

Beruntungnya, salah satu pakar katalis yang berasal dari Teknik Kimia ITB sudah melakukan riset selama 30 tahun terkait pengembangan katalis untuk mengkonversi minyak sawit menjadi bahan bakar. Dengan ditemukannya katalis ini, sebenarnya Indonesia sudah punya tiket untuk mewujudkan kemandirian energi.

Katalis-katalis tersebut dinamai katalis merah putih dan sudah diuji di kilang milik PT Pertamina mulai dari Refinery Unit (RU) Dumai, Balongan hingga Balikpapan. Katalis tersebut terbukti mampu untuk mengubah minyak sawit menjadi bahan bakar seperti diesel dan avtur.

Terobosan ini jelas sangat berguna bagi Indonesia. Untuk itu ITB, Pertamina dan Pupuk Kujang berencana untuk mendirikan pabrik katalis dengan kapasitas 800 ton per tahunnya. 

Hal tersebut disampaikan oleh Deputy CEO PT Kilang Pertamina Internasional, Budi Santoso Syarif dalam Exclusive Interview CNBC Indonesia yang bertajuk "Biodisel Pascapandemi Covid-19, Lanjut atau Terhenti?", Kamis (30/7/2020).

Menurut Budi, pabrik katalis ini akan dibangun segera dan membutuhkan masa konstruksi sekitar 7-10 bulan. "Mulai dari katalis kita membuat sendiri, dalam arti buat pabriknya dan tidak tertutup kemungkinan bangun kilang," ujarnya.

Rasanya tidak berlebihan jika melihat terobosan ini sebagai golden ticket bagi sektor energi Indonesia terutama mengingat manfaatnya yang tidak saja menekan impor yang jor-joran tetapi juga mendorong perkembangan sumber energi alternatif lain yang menggunakan unsur TKDN yang tinggi.

Dengan begitu manfaat-manfaat lain seperti stabilisasi harga CPO karena peningkatan serapan domestik bisa dlakukan. Selain itu dikembangkannya katalis ini juga membuka jalan untuk meningkatkan nilai tambah industri sawit RI yang selama ini lebih banyak diekspor dalam bentuk mentah atau diproses untuk pembuatan minyak goreng saja.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading