Duh, Pria ini Ditangkap Polisi China Gegara Kritik Xi Jinping

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
06 July 2020 17:13
Soldiers of People's Liberation Army (PLA) are seen before a giant screen as Chinese President Xi Jinping speaks at the military parade marking the 70th founding anniversary of People's Republic of China, on its National Day in Beijing, China October 1, 2019. REUTERS/Jason Lee

Jakarta, CNBC Indonesia - Xu Zhangrun, seorang akademisi dan profesor hukum dari Universitas Tsinghua, China, ditangkap polisi pada Senin (6/7/2020) dini hari waktu setempat. Xu ditangkap lantaran melontarkan kritik pedas terhadap perluasan kontrol Partai Komunis di bawah pemerintahan Presiden Xi Jinping.

Peristiwa ini dikonfirmasi oleh beberapa teman Xu, salah satunya adalah pebisnis wanita di industri penerbitan dan film, Geng Xiaonan. Menurut Geng, petugas kepolisian menggerebek rumah Xu yang terletak di Beijing utara, mengambil komputer, buku-buku, serta esai penelitian milik Xu.

"Tetangga menggambarkan sekitar 10 kendaraan polisi dan puluhan petugas yang memblokir dan memasuki rumahnya, dan membawanya pergi," kata Geng, melalui telepon kepada The New York Times. Dua teman Xu yang tidak bersedia memberikan identitasnya, juga membenarkan peristiwa itu.

"Xu Zhangrun berkata dia siap secara mental untuk dibawa pergi. Dia menyiapkan tas berisi pakaian dan sikat gigi, tergantung di pintu depan sehingga dia siap untuk ini," lanjut Geng. "Benar-benar mengejutkan ketika itu benar-benar terjadi."

Geng mengatakan bahwa seorang petugas polisi telah memberi tahu istri Xu bahwa ia dituduh meminta pelacur saat mengunjungi kota Chengdu di barat daya China. "Ini hanya jenis fitnah keji yang mereka gunakan terhadap seseorang yang ingin mereka singkirkan," papar Geng.

Xu, yang kini berusia 57 tahun, sudah lama mengajar di universitas bergengsi di Beijing tersebut. Namun, pada 2019, pihak Universitas Tsinghua melarangnya mengajar atau melakukan meneliti setelah Xu menerbitkan serangkaian esai yang menyerang partai di bawah Presiden Xi Jinping.



Esai yang ditulis Xu memang sudah dilarang terbit di China, tetapi kini beredar luas melalui internet melalui saluran pribadi. Xu pertama kali menarik perhatian setelah mengeluarkan esai tahun 2018 yang berisi penghinaan untuk para pembela partai, dan mengecam politik garis keras Xi Jinping yang semakin meningkat dan menghambat perdebatan.

"Orang-orang di seluruh negeri, termasuk seluruh elit birokrasi, merasa sekali lagi tersesat dalam ketidakpastian tentang arah negara dan tentang keamanan pribadi mereka sendiri," tulis Xu dalam esai itu.

Xu terus menulis esai meskipun ada peringatan dari pejabat universitas, dan beberapa rekannya untuk berhenti. Tahun ini Xu telah menerbitkan esai yang mengecam pemerintah China atas keterlambatan dan penipuan pada awal munculnya epidemi Covid-19.

"Epidemi virus corona telah mengungkapkan inti busuk pemerintahan China," tulis Xu pada Februari lalu. "Kehidupan politik bangsa berada dalam keadaan runtuh... Inti etis dari sistem telah dibuat hampa."

Penahanan Xu adalah contoh terbaru dari kampanye ekspansif pemerintah China untuk meredam perbedaan pendapat. Pekan lalu, Beijing memberlakukan undang-undang keamanan nasional besar-besaran untuk memperketat kontrol atas Hong Kong.

Kasus Xu ini juga dapat memperbesar kekhawatiran di Hong Kong bahwa kritikus intelektual Partai Komunis China di wilayah semi-otonom juga dapat menghadapi penangkapan.

Atas penangkapan Xu tersebut, belum jelas kepolisian Beijing mana yang membawanya pergi. Sekolah Hukum Universitas Tsinghua juga tidak memberikan komentar atas peristiwa penangkapan tersebut.



[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading