Bangun Kilang Butuh US$48 M, Duit Dari Mana Pertamina?

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
01 July 2020 16:46
foto : REUTERS/Darren Whiteside

Jakarta, CNBC Indonesia - Pembangunan kilang yang tak kunjung terwujud selama 30 tahun terakhir menjadi salah satu pembahasan dalam rapat dengar pendapat (RDP) antara Pertamina dengan Komisi VII DPR RI di ruang rapat Komisi VII DPR RI, Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (1/7/2020).

CEO Refinery & Petrochemical Subholding (PT Kilang Pertamina Internasional) Ignatius Tallulembang memaparkan risiko bisnis ini. Ia mengatakan bisnis minyak dan gas karakteristik adalah berisiko tinggi di hulu dan midsteram.


"Risiko cost of run bisa juga karena keterlambatan pembangunan kilang dampak dari return. Unschedule shutdown, ledakan dan sebagainya. Deep Water Horizon di Meksiko mengakibatkan 11 orang meninggal, BP hampir bangkrut," ujarnya.

Lebih lanjuta, Ignatius mengatakan risiko ini bisa terpapar dalam bisnis yang pihaknya kelola. Untuk mengantisipasi, selain dengan budaya yang diperketat, juga dengan mencari strategic partner untuk berbagi risiko.


"Investasi yang besar, biaya besar bangun kilang satu progress yang berjalan prioritas pertama yang akan kami laksanakan upgrading kilang eksisting yang ada ditambah kilang baru yang akan dibangun di Tuban," katanya.



Angka untuk membangun semua projek ini jumlahnya mencapai US$ 48 miliar, di mana pembangunan akan memakan waktu selama 6 -7 tahun.

"Dari sisi pembangunan operasi dana butuh capital besar, working capital," ujar Ignatius.

Ia menyebut untuk kebutuhannya dibutuhkan US$ 20 miliar per tahun, sehingga butuh investasi yang besar. Bisa dari mitra bond, loan, dan lain-lain.

"Equity 40-50%, debt 60%. Kita mengupayakan lebih banyak debtnya," ungkapnya.



Saat Ignatius Tallulembang menyampaikan paparan, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyela dan mengatakan total kontrak saat ini sebesar US$ 48 miliar tahap satu, progresnya saat ini sudah 18% dikali dengan ekuitas 40% dan 60% dari loan.

"Total 48 miliar, tahap 1 Balikpapan progress 18% dikali dengan 40% dari ekuitas, 60% dari loan," jelasnya. 


Lette sapaan akrab Ignatius Tallulembang lanjut memaparkan dari awal konsep sampai operasi dibutuhkan 8-10 tahun, dengan upaya terobosan didapatkan metode baru sehingga bisa dieksekusi dalam lima tahun.

Berikut adalah target penyelesaian proyek kilang Pertamina

Target penyelesaian proyek kilang PertaminaFoto: Dokumentasi Pertamina
Target penyelesaian proyek kilang Pertamina
Saksikan video terkait di bawah ini:

Pertamina akan Kurangi Stok Premium & Pertalite


(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading