Telur & Daging Ayam Ras Biang Kerok Utama Inflasi Juni 2020

News - Lidya Julita S, CNBC Indonesia
01 July 2020 12:27
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengumumkan Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi Juni 2020, Perkembangan Indeks Harga Perdagangan Besar Juni 2020,  Perkembangan Nilai Tukar Petani dan Harga Produsen Gabah Juni 2020, dan Perkembangan Pariwisata dan Transportasi Nasional Mei 2020. (Screenshot BPS Statistics)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Juni 2020 sebesar 0,18%. Inflasi ini lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 0,55%.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, inflasi tahun ini berbeda dari tahun biasanya karena kondisi yang memang di luar kendali yakni pandemi Covid-19.

"Kalau dibandingkan inflasi bulanan tahun sebelumnya, pola agak berbeda. Tahun-tahun sebelumnya ramadan dan lebaran selalu jadi puncak inflasi kemudian turun sesudahnya. Tapi tidak terjadi pada tahun ini karena situasi tidak biasa, ada pandemi," ujarnya saat rilis virtual, Rabu (1/7/2020).

Adapun penyebab utama adalah kelompok makanan dan minuman serta tembakau yang mengalami inflasi tertinggi 0,47% dengan andil 0,12%. Ada beberapa komoditas dalam kelompok ini yang dominan memberikan andil pada inflasi karena terjadi kenaikan harga cukup tinggi.

Pertama terjadi kenaikan daging ayam ras, berikan andil pada inflasi 0,14%. Kedua, telur ayam ras, andilnya 0,04%.

"Jadi kalau dilihat, pergerakan harga daging ayam ras selama Juni alami kenaikan dan kenaikannya terjadi di 86 kota IHK. Kenaikan tertinggi terjadi di Sitoli, 41% dan Lhokseumawe naik 37%. Sehingga pada bulan ini, daging ayam ras menjadi penyumbang utama untuk inflasi pada Juni 2020," jelasnya.

Sebaliknya, ada beberapa komoditas turun harga sehingga berikan andil deflasi. Penurunan harga adalah bawang putih yang berikan andil pada deflasi 0,04% dan penurunan harga cabai merah andil deflasi 0,03% serta juga cabai rawit, minyak goreng, gula pasir yang masing-masing berikan andil deflasi 0,01%.

Kelompok kedua yang menyumbang inflasi adalah transportasi yang mengalami inflasi 0,41% dengan andil 0,05%. Inflasi pada kelompok ini terjadi karena ada kenaikan tarif angkutan udara dengan andil inflasi 0,02%, kenaikan tarif angkutan antar kota dan tarif roda dua online yang masing-masing berikan andil 0,01%.

"Jadi, kenaikan angkutan udara ini terjadi di 24 kota IHK misalnya kenaikan tertinggi di Ternate naik 20%," kata Suhariyanto.



[Gambas:Video CNBC]

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading