India-China Ribut di Perbatasan, Siapa Paling Merugi?

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
23 June 2020 16:38
PM India Narendra Modi dan Presiden China Xi Jinping di Zhejiang, China, 4 September 2016. REUTERS/Damir Sagolj/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan India dengan China panas setelah konfrontasi militer di perbatasan terjadi. Retaknya hubungan India-China pada akhirnya hanya akan membawa kerugian ekonomi bagi kedua belah pihak.

Pemicu terjadinya bentrokan militer antara India dengan China adalah perselisihan soal klaim wilayah sebelumnya juga terjadi di perbatasan India tepatnya di Lembah Galwan, Ladakh, yang merupakan perbatasan antara kedua negara.


India menyebut kawasan ini Ladakh sementara China menyebutnya Aksai Chin yang jadi wilayah Xinjiang. Konflik akibat saling klaim wilayah perbatasan itu telah menelan korban jiwa. India mengonfirmasi 20 orang tewas. Meski tidak mengumumkan angka resmi, China juga mengakui adanya korban.

Aksi ini menimbulkan amarah di India, di mana warga menyerukan boikot produk China. Pemerintah sendiri disebut tengah mengkaji sejumlah fakta perdagangan yang terkait impor China.

Sebenarnya India dan China memiliki hubungan ekonomi yang erat melalui perdagangan dan investasi. The Week, sebuah surat kabar asal India melaporkan sejak April tahun lalu hingga Februari tahun ini, 11,8% dari total impor India berasal dari China. Sementara ekspor India ke China hanya mencapai 3%. 

India memang tekor ketika berdagang dengan China. Defisit neraca dagang India dengan China dilaporkan mencapai US$ 3,3 miliar hingga Februari tahun ini atau naik 13% dari tahun lalu. 

Lebih lanjut The Week melaporkan Confederation of All India Traders (CAIT) menginginkan impor India dari China turun dari US$ 70 miliar pada 2018-19 menjadi US$ 13 miliar. CAIT merencanakan untuk substitusi produk impor tersebut dengan produk lokal.

India mengimpor produk-produk manufaktur seperti barang elektronik, farmasi dan komponen otomotif dari China. Impor produk elektronik India dari China nilainya mencapai US$ 18 miliar atau seperempat dari total impor pada bulan Februari.

Sementara itu India juga mengimpor berbagai mesin dan reaktor nuklir dari China yang nilainya mencapai US$ 12 miliar. Impor India dari China naik dari 13,7% pada 2018/19 menjadi 14,1% pada 2019/20.

Dari sisi ekspor, India banyak memasok berbagai komoditas mineral dan tambang ke Negeri Tirai Bambu. Ekspor India ke China meliputi senyawa kimia organik, bijih mineral, minyak slag & slash dan produk industri lainnya. 

Jika konflik ini membuat hubungan perdagangan keduanya ikut retak, maka India akan kehilangan akses yang murah terhadap produk-produk elektronik asal China. Kerugian pun juga akan dirasakan oleh China, karena kehilangan pasar yang besar mengingat populasi di India mencapai 1,3 miliar penduduk.

Dari sisi aliran modal investasi, menurut laporan Brookings India, total rencana investasi China ke India mencapai US$ 26 miliar. China juga menjadi investor bagi perusahaan rintisan (start up) India. 

Mengutip laporan The Week, investor China telah menginjeksi modal ke start up India senilai US$ 4 miliar sejak 2015. Alibaba contohnya, raksasa e-commerce China besutan Jack Ma ini telah telah menanamkan modalnya ke beberapa start up India seperti Snapdeal (e-commerce), Paytm (e-wallet) dan jasa pengiriman makanan Zoomato.

Bahkan studi yang dilakukan oleh Gateway House menyebutkan bahwa lebih dari setengah unicorn India memiliki investor yang berasal dari Negeri Tirai Bambu.

India dan China sama-sama saling menghubungkan. Ambil contoh saja di pasar smartphone. Xiaomi sebagai salah satu merek ponsel pintar buatan China pangsa pasarnya di India mencapai 30%. 

Banyak perusahaan teknologi China seperti Xiaomi Corp dan BBK Elektronic sebagai pemilik ponsel pintar merek Oppo & Vivo telah banyak berinvestasi di China. Maklum populasi yang besar dan kelas menengah yang terus tumbuh menjadi target yang menarik bagi perusahaan teknologi asal China.

Total penjualan smartphone asal China ke India nilainya diperkirakan mencapai US$ 16 miliar pada tahun 2019. Saking besarnya pasar di India bahkan para pembuat smartphone telah membangun pabrik di India dan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat India.

Xiaomi misalnya, telah mendirikan pabrik smartphone yang memproduksi hampir 95% dari total yang dijualnya ke India. 

Jika hubungan keduanya semakin retak, hingga perusahaan asal China harus hengkang dari India itu juga berarti angka pengangguran di India akan meningkat. Jika melihat hal ini maka India terlihat lebih membutuhkan China.

Namun tak bisa dipungkiri bahwa China juga mengalami kerugian yang besar karena India menjadi salah satu destinasi ekspor utama China. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading