FAO Ingatkan Krisis Pangan, Wamenhan RI Siapkan Strategi Ini

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
20 June 2020 13:47
Wahyu Sakti Trenggono (CNBC Indonesia/Chandra Gian Asmara)

Jakarta, CNBC IndonesiaOrganisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO/Food and Agriculture Organization) mengingatkan akan potensi krisis pangan dunia di masa pandemi Covid-19. Persoalan pangan ini juga jadi perhatian serius Kementerian Pertahanan (Kemhan). 

Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan pemerintah ingin meningkatkan ketahanan pangan guna mengantisipasi munculnya dampak terburuk dari pandemi. Trenggono mengingatkan soal pentingnya cadangan pangan mulai dari gula hingga beras.

Dia mengatakan strategi yang dipilih adalah membuat lahan khusus untuk ketahanan pangan nasional. Jika rencana pengadaan lahan pangan ini terealisasi bisa menyumbang sekitar 20% bagi cadangan pangan nasional nantinya.


Pemerintah juga memastikan lahan tersebut digunakan untuk mencapai ketahanan pangan. Untuk itu, kawasan yang dipilih tidak boleh berubah fungsi dari kawasan tanaman pangan yang akan kita kembangkan.

Mengutip kajian yang dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), ada 16,6 juta hektare kawasan hutan non hutan layak dikonversi menjadi lahan pertanian produktif. Sebagian besar lahan ada di Papua, disusul Kalimantan, dan Sumatera.

"Kita ingin mengoptimalkan lahan ini agar tidak menjadi opportunity loss bagi negara. Rasionalisasi kawasan hutan adalah faktor penting bagi kelestarian pengelolaan hutan dan menjadi enabler untuk pembangunan nasional," kata Trenggono belum lama ini.

Menurutnya jika pandemi diibaratkan dengan suasana perang, maka dibutuhkan peralatan tempur yang kuat untuk melawan. Peralatan yang digunakan salah satunya cadangan pangan yang panjang.

Mantan Bendahara PAN ini bahkan menegaskan saat ini komoditas beras di Indonesia hanya kuat untuk 69 hari dalam konteks tersebut (perang). "Bandingkan dengan India yang bisa setahun. Karena itu kami dari Kemhan sedang mengajukan satu model yang bisa meningkatkan ketahanan pangan nasional," katanya.

Selain itu, WHO menyatakan seandainya pandemi Covid-19 usai, tak menjamin di masa depan wabah penyakit baru tak muncul. Untuk itu perlu peningkatan ketahanan pangan di masa depan untuk mengantisipasi serangan wabah penyakit.

Menurutnya saat sebuah pandemi terjadi yang berujung kepada krisis seperti yang ada sekarang, beberapa hal paling rentan terkena dampaknya. Pertama, di sektor pekerjaan dimana muncul pengangguran karena kegiatan ekonomi dipaksa berhenti. Kedua, masalah ketersediaan pangan. Ketiga, ketahanan kesehatan.

"Kalau ketiga hal ini tak bisa dikelola dengan baik bisa berpengaruh kepada ketahanan dan kedaulatan negara secara keseluruhan. Karena itu semua elemen bangsa perlu bekerjasama secara serius melawan ancaman pandemi agar ketahanan nasional terjaga," kata Trenggono belum lama ini.

Wamenhan memaparkan untuk sektor pangan, komoditas yang banyak dikonsumsi masyarakat adalah beras, gula, terigu, dan kedelai.

"Beberapa komoditi seperti beras dan gula itu perlu perhatian kondisi cadangannya. Di samping itu sekarang ada pergeseran dimana Indonesia pengkonsumsi mie terbesar kedua di dunia. Ini membuat kita impor gandum tinggi, begitu juga kedelai," katanya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyebutkan bahwa stok beras pada akhir Juni mencapai 7,49 juta ton. Bahkan, stok beras hingga akhir tahun diklaim masih aman.

"Angka tersebut sudah termasuk dalam hitungan stok hingga akhir Desember 2020 yang mencapai 6,1 juta ton," ujar Syahrul, sepert dikutip laman Sekretariat Kabinet, Kamis (11/6/2020).

Kebutuhan konsumsi beras di dalam negeri setiap bulannya sekitar Rp 2,5 juta ton, jadi apa yang disampaikan oleh Wamenhan cukup klop dengan yang disampaikan oleh Mentan soal cadangan beras.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading