Caution! Tujuh Kapal Selam AS Invasi Laut China Selatan

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
21 May 2020 04:45
FILE - In this April 3, 2020, file photo, the USS Theodore Roosevelt, a Nimitz-class nuclear powered aircraft carrier, is docked along Kilo Wharf of Naval Base Guam. The U.S. Navy says that after weeks of work, all of the roughly 4,800 sailors on the coronavirus-stricken USS Theodore Roosevelt aircraft carrier have been tested for the virus. The ship has been sidelined in Guam since March 27, moving sailors ashore, testing them and isolating them for nearly a month.(Rick Cruz/The Pacific Daily via AP, File)
Jakarta, CNBC Indonesia - Tensi antara Amerika Serikat (AS) dan China memanas di berbagai medan, tidak terkecuali di Laut China Selatan. Terbaru, AS mengirim tujuh kapal selam milik AL ke Laut China Selatan. Menurut salah satu tokoh penting dalam AL, kapal-kapal itu sengaja disiagakan dengan tujuan untuk memastikan kebebasan dan mengimbangi operasi China di kawasan tersebut.

"Operasi kami adalah pertunjukan kesediaan kami untuk membela kepentingan dan kebebasan kami di bawah hukum internasional." kata Laksamana Muda Blake Converse, komandan sub-pasukan Pasifik yang bermarkas di Pearl Harbor, Selasa (19/5/2020), seperti dilansir Express.

Kapal selam yang disiagakan itu termasuk empat kapal selam penyerang (attack submarines) yang berbasis di Guam, USS Alexandria, yang berbasis di San Diego dan beberapa kapal yang berbasis di Hawaii.


Attack submarines merupakan kapal selam yang dipersenjatai dengan torpedo dan rudal jelajah tomahawk. Kapal selam jenis ini mampu melakukan pengawasan rahasia.



Selain kapal selam, AL AS juga telah menyiagakan armada kapal perang di Pasifik Barat sebagai unjuk kekuatan di kawasan. Langkah ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dengan China di Laut China Selatan dan di tengah cekcok kedua ekonomi terbesar di dunia itu soal virus corona baru penyebab Covid-19.



Sebagaimana diketahui, beberapa waktu belakangan China terus meningkatkan aktivitas di Laut China Selatan. China juga terus memperluas kendali atas sebagian besar wilayah di perairan tersebut dengan membangun pulau-pulau buatan atau pulau reklamasi.



China juga diyakini telah melakukan aktivitas yang mengganggu negara-negara lain di kawasan, seperti yang baru-baru ini dilakukannya terhadap kapal eksplorasi minyak yang dikontrak oleh perusahaan energi negara Malaysia, Petronas.



Sebelumnya, AS telah menyebut apa yang dilakukan China di kawasan itu adalah upaya ilegal. China juga dianggap telah dengan sengaja memanfaatkan kondisi di mana pandemi sedang mewabah untuk meningkatkan keuntungan di kawasan.





"Ketika militer AS menangani Covid-19 di dalam negeri, kami tetap fokus pada misi keamanan nasional kami di seluruh dunia. Banyak negara telah berupaya untuk pulih dari pandemi, dan sementara itu, pesaing strategis kami berusaha untuk mengeksploitasi krisis ini untuk keuntungan mereka dengan mengorbankan negara lain," kata Menteri Pertahanan AS Mark Esper.



Esper juga menuduh China meningkatkan "kampanye disinformasi" untuk mengalihkan kesalahan terkait virus mematikan asal kota Wuhan itu dan melindungi citranya.



"Kami terus melihat perilaku agresif oleh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) di Laut China Selatan, mulai dari mengancam kapal angkatan laut Filipina hingga menenggelamkan kapal nelayan Vietnam dan mengintimidasi negara-negara lain agar dibiarkan terlibat dalam pengembangan minyak dan gas lepas pantai," lanjutnya.



Esper mengatakan bahwa dua kapal AS baru menyelesaikan operasi kebebasan navigasi (FONOP) di Laut China Selatan minggu sebelumnya. Kedua kapal itu adalah kapal penjelajah berpeluru kendali USS Bunker Hill dan kapal perusak USS Barry.



Kapal penjelajah berpeluru kendali USS Bunker Hill melakukan FONOP di Kepulauan Spratly, dan kapal perusak USS Barry berlayar dua kali melalui Selat Taiwan dan melalui Kepulauan Paracel, wilayah yang disengketakan yang diklaim China sebagai miliknya.



"[Operasi itu bertujuan] untuk mengirim pesan yang jelas ke Beijing bahwa kami terus melindungi kebebasan navigasi dan perdagangan untuk semua negara besar dan kecil," kata Esper.



Aksi ini sebelumnya telah membuat marah China. Negara ini menyebut upaya AS itu sebagai tindakan provokatif dan mengancam ketenangan di kawasan.



"Tindakan-tindakan provokatif oleh pihak AS ini telah secara serius melanggar kedaulatan dan kepentingan keamanan China, sengaja meningkatkan risiko keamanan regional dan dapat dengan mudah memicu insiden yang tidak terduga." kata komando militer China dalam sebuah pernyataan.

[Gambas:Video CNBC]




(miq/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading