Internasional

Ada Apa Nih? AS Tiba-tiba Patroli di Laut China Selatan

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
15 May 2020 04:25
FILE - In this April 3, 2020, file photo, the USS Theodore Roosevelt, a Nimitz-class nuclear powered aircraft carrier, is docked along Kilo Wharf of Naval Base Guam. The U.S. Navy says that after weeks of work, all of the roughly 4,800 sailors on the coronavirus-stricken USS Theodore Roosevelt aircraft carrier have been tested for the virus. The ship has been sidelined in Guam since March 27, moving sailors ashore, testing them and isolating them for nearly a month.(Rick Cruz/The Pacific Daily via AP, File)
Kuala Lumpur, CNBC Indonesia - Suasana di sekitar kawasan Laut China Selatan belakangan memanas. Terbaru, tiga kapal angkatan laut Amerika Serikat (AS) berpatroli di dekat ladang operasi minyak dan gas di lepas pantai Malaysia dalam beberapa hari terakhir.

Dikutip dari Wall Street Journal, ini merupakan bentuk dukungan AS terhadap Malaysia, yang kegiatan eksplorasi lepas pantainya di Laut China Selatan, disebut 'diganggu' Negeri Tirai Bambu.

Media itu menulis, AS mengirim kapal tempur USS Gabrielle Giffords untuk berpatroli di sekitar kapal bor West Capella, Selasa (12/5/2020) lalu. Kapal bor itu dikontrak Petronas dari perusahaan pengeboran lepas pantai Seadrill.


Operasi ini dilakukan AS setelah West Capella meninggalkan kawasan karena tekanan dari China. Kapal itu melakukan eksplorasi di dekat daerah yang diklaim tiga negara, Malaysia, Vietnam serta China.

"Angkatan Laut AS menyebut ini sebagai 'operasi kehadiran'," tulis WSJ, Rabu (13/5/2020). Pada minggu lalu, dua kapal angkatan laut AS lainnya juga berpatroli di sana.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya kapal perang AS mulai masuk di akhir April ke Laut China Selatan. Khusus wilayah eksplorasi Petronas, AS masuk berbarengan dengan pemberitaan insiden antara kapal China Haiyang Dizhi 8 dan West Capella.

Saat itu, West Capella diberitakan dibuntuti oleh Haiyang Dizhi 8. Kapal perang itu, menurut Reuters, dikawal oleh penjaga pantai dan kapal-kapal Milisi Maritim China.

Sementara itu, Direktur Komunikasi Seadrill Iain Cracknell, telah mengkonfirmasi bahwa West Capella meninggalkan daerah itu setelah menyelesaikan pekerjaan yang direncanakan. Namun, kapal Haiyang Dizhi 8, masih berada di daerah itu.

Menurut situs web pelacakan kapal Marine Traffic, kapal itu berada di sekitar 371 km di lepas pantai Borneo Malaysia. Data menunjukkan, kapal itu telah bergerak di dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE) Malaysia dalam pola berbentuk hash yang konsisten sambil melakukan survei.



Ini adalah hal yang sama dengan yang dilakukan China di perairan Vietnam. Ini membuat ketegangan terjadi antara Vietnam dan China.

Sementara itu, AS sendiri menganggap kegiatan kapal China sebagai upaya untuk memaksa negara-negara kecil keluar dari kegiatan pengembangan sumber daya lepas pantai. Selain itu, angkatan laut China juga telah beberapa kali berselisih dengan angkatan laut AS dan negara lainnya di wilayah ini dalam beberapa bulan terakhir.

Oleh karenanya, para pejabat Angkatan Laut AS mengatakan operasi perlu dilakukan di kawasan guna menunjukkan komitmen terhadap kawasan dan kemampuan angkatan lautnya. Lagipula pada 2016, pengadilan internasional telah memutuskan bahwa klaim China, tumpang tindih dengan klaim Vietnam, Malaysia, Brunei, Taiwan, dan Filipina, dan tidak memiliki dasar hukum.

Menanggapi ketegangan terbaru tersebut, Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa kapalnya hanya melakukan kegiatan normal di wilayahnya. Mereka juga mendesak AS untuk tidak melakukan tindakan yang dapat memperumit situasi.

Malaysia belum mengomentari secara spesifik situasi itu. Tetapi pada bulan lalu telah mengatakan mereka tegas dalam komitmennya melindungi kepentingan dan haknya di Laut China Selatan. Pemerintah dan perusahaan minyak nasional, Petronas, tidak menanggapi permintaan komentar.

[Gambas:Video CNBC]




(miq/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading