Vaksin & Obat Corona Mungkin Baru Ada 2021, Ini Penyebabnya

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
11 May 2020 14:56
Peneliti melakukan pemisahan hasil ekstraksi tanaman herbal di di Lab Cara Pembuatan Obat Tradisonal Baik (CPOTB) Pusat Penelitian Kimia LIPI, Puspitek, Tangerang Selatan,Rabu (6/5/2020). Saat ini laboratorium Cara Pembuatan Obat Tradisonal Baik (CPOTB) sedang menguji beberapa tanaman herbal yaitu ekstrak Cassia Alata (daun ketepeng badak) dan Dendrophtoe Sp (daun benalu) untuk dijadikan obat penyembuhan sekaligus penghambatan covid-19. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang melawan virus corona (Covid-19) belumlah usai. Berbagai perisai dengan peluru (vaksin dan obat) terus dikembangkan untuk segera mengakhiri tragedi kemanusiaan terbesar dekade ini. Namun senjata ini dikabarkan baru tersedia tahun depan. 

Data John Hopkins University CSSE mencatat jumlah infeksi Covid-19 secara global sudah mencapai angka 4 juta orang hingga hari ini dini hari tadi. Lebih dari 185 negara dan teritori telah terjangkiti.

Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, kita telah menyaksikan tak kurang dari 282.000 orang terenggut nyawanya. Namun sampai detik ini pun belum ada satu vaksin atau satu obat pun yang terbukti mujarab dan sah dinobatkan menjadi penangkal Covid-19. Maklum waktu pengembangan vaksin dan obat membutuhkan waktu yang tak sebentar. Bisa bertahun-tahun.


Suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga semasif sekarang, perusahaan farmasi, biotek, startup, lembaga penelitian dan universitas bekerja bersama untuk mengembangkan vaksin dan mengidentifikasi terapi baru untuk mengobati penyakit ini. Moderna, Pfizer, dan Inovio sudah memulai uji klinis.

Namun menurut Dale Fisher, ketua Global Outbreak Alert dan Response Network, kemungkinan besar belum ada vaksin sampai akhir 2021. Penyebabnya adalah fase uji klinis 2 dan 3 yang memakan waktu untuk menjamin keamanan dan kemanjuran 'amunisi' tersebut sebelum digunakan secara masal. Di sisi lain ada tantangan untuk meningkatkan produksi dan distribusi juga menjadi faktor yang membuat vaksin dan obat lama tersedia, mengutip CNBC International.

Berbagai perusahaan farmasi sudah mulai membahas timeline untuk produksi vaksin dan obat untuk Covid-19. Pfizer, yang bermitra dengan perusahaan bioteknologi Jerman BioNTech, mengatakan minggu lalu berencana untuk memproduksi jutaan dosis siap guna pada akhir tahun ini, dan ratusan juta tahun depan. Ini semua dapat terjadi jika uji klinis pada ribuan orang yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan hasil yang baik. 

Beberapa perusahaan farmasi lain yang juga bekerja sama dengan lembaga penelitian dan universitas juga sudah melakukan uji klinis terhadap manusia. Mereka adalah Moderna, yang bermitra dengan NIAID; Inovio, tim di Universitas Oxford, yang sekarang bermitra dengan AstraZeneca; dan beberapa perusahaan Cina.

Namun ini bukanlah jadwal yang pasti. Mengingat semua uji klinis harus dilalui dengan lancar jika vaksin ingin tersedia tahun depan. Jika berkaca pada pengalaman historis, lolos dalam sekali uji klinis di tiap fase bukanlah hal yang mustahil. Namun sangatlah susah. Probabilitasnya kecil. 

Mengembangkan vaksin adalah sebuah perlombaan dengan waktu. Kandidat-kandidat vaksin Covid-19 dikembangkan dengan menggunakan berbagai teknologi mulai dari yang konvensional hingga canggih.

Ada teknologi baru yang digunakan oleh Moderna dan Pfizer / BioNTech, yang dikenal sebagai messenger RNA. Vaksin berbasis RNA ini membuat ketiga perusahaan tersebut dapat bergerak dengan kecepatan tinggi.

Namun kandidat vaksin mereka juga menghadapi tantangan yang besar jika mengingat tidak ada obat atau vaksin berdasarkan mRNA yang pernah mencapai pasar. Hal ini menyisakan pertanyaan terkait keamanan dan kemanjuran vaksin RNA.

Di sisi lain, tim dari Oxford University menggunakan pendekatan yang telah mereka coba pada virus corona lain, sehingga mereka dapat memulai uji coba pada orang-orang lebih awal yakni pada bulan April.



Untuk obat yang potensial melawan Covid-19 selain remdesivir Gilead, ada juga antibodi yang dikembangkan oleh Regeneron. Perusahaan berhasil mengembangkan obat antibodi untuk Ebola yang terbukti efektif dalam uji klinis di Republik Demokratik Kongo, dan kini perusahaan tersebut melakukan hal yang sama untuk Covid-19, dengan rencana untuk memasuki uji coba manusia pada bulan Juni.


Di tengah upaya untuk melawan pandemi ini, berbagai pihak terus menggandeng pihak lain untuk mengembangkan penangkal obat. Mereka bahkan berupaya keras agar penangkal ini segera tersedia. Pihak regulator pun baik pemerintah maupun otoritas kesehatan yang berwajib seperti FDA AS terus mendukung upaya ini. 

Tersedianya vaksin dan obat yang cepat untuk Covid-19 memang satu hal yang positif. Namun hal yang harus diingat adalah ini menyangkut nyawa seseorang. Sehingga aspek keselamatan (safety) dan kemanjuran (efficacy) tidak bisa dikompromikan. 

TIM RISET CNBC INDONESIA

Artikel Selanjutnya

Doakan Sukses! Eropa Mulai Uji Klinis Obat Perawatan Corona


(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading