Ekonomi Korut di Bawah Kim Jong Un: Barang Ilegal & Hacker

News - 
 Savira Wardoyo, CNBC Indonesia
26 April 2020 21:40
FILE - In this April 13, 2017,choech file photo, North Korean leader Kim Jong Un, right, and Choe Ryong Hae, vice-chairman of the central committee of the Workers' Party, arrive for the official opening of the Ryomyong residential area, in Pyongyang, North Korea. With North Korea saying nothing so far about outside media reports that leader Kim Jong Un may be unwell, there’s renewed worry about who’s next in line to run a nuclear-armed country that’s been ruled by the same family for seven decades. (AP Photo/Wong Maye-E, File)
Jakarta, CNBC Indonesia - Korea Utara adalah salah satu negara paling tertutup di dunia. Sebanyak 25 juta orang diperintah oleh dinasti Kim selama lebih dari 70 tahun dalam kediktatoran. Kini dipegang oleh Kim Jong Un, yang belakangan jadi pembicaraan hangat karena dikabarkan meninggal.

Perekonomian Korea Utara bergulir di tengah kebijakan isolasi, tapi kesulitan yang terjadi Korea Utara tidak diketahui seluruhnya, karena negara tersebut tidak merilis data terperinci.

Kesejahteraan di Korut memang sangat rendah, para pekerja rata-rata hanya mengantongi pendapatan $ 2.000 per tahun, sebagian besar penduduknya kekurangan gizi.

Berikut fakta-fakta mengejutkan tentang ekonomi Korea Utara yang dilansir oleh Business Insider, dikutip Minggu (26/4). 

40% Penduduk Kekurangan Gizi.

Sejak tahun 2000, persentase orang Korea Utara yang kekurangan gizi meningkat dari 37,5% menjadi 43,4% pada tahun 2018, menurut Global Hunger Index. Namun, persentase anak-anak yang kekurangan gizi di bawah usia lima tahun telah menurun selama rentang waktu yang sama.

Menurut metrik, Korea Utara bukan negara yang paling kekurangan gizi di dunia melainkan berada di peringkat 109 dari 199. Tapi situasinya sempat mengerikan sejak kelaparan pada 1990-an, dimana sebanyak 2 juta orang meninggal.


Internet Hal Langka di Korea Utara

Pemerintah Korea Utara sangat membatasi akses internet bagi warganya, hanya sedikit yang benar-benar aman. Warga Korea Utara harus menggunakan jaringan intranet yang dikendalikan oleh negara yang disebut Kwangmyong. Layanan ini gratis, bagi yang mampu membeli komputer hanya dapat mengakses internet dengan daftar situs yang disensor.

Menurut The Daily Telegraph, warga Korea Utara yang dapat menggunakan internet pada umumnya adalah para pemimpin politik dan keluarganya, siswa di universitas elite serta orang-orang yang bekerja untuk negara di badan siber milik pemerintah.

Negara Kaya Mineral


Korea Utara memiliki cadangan mineral yang banyak, diperkirakan mencapai hampir $ 10 triliun dan lainnya mencapai lebih dari $ 6 triliun, menurut laporan media Quartz.

Endapan mineral di Korea Utara dapat mencakup lebih dari 200 jenis mineral, termasuk besi, emas, seng, tembaga, dan grafit. Demikian juga, ada banyak logam langka yang digunakan dalam produksi ponsel cerdas di China dan Korea Selatan.

Dualisme Pada Kegiatan Ekonomi

Sebagai negara komunis, ekonomi Korea Utara yang dikelola oleh negara dan ekonomi "bawah tanah", sehingga menyebabkan dualisme di lapangan.

Bill Brown, seorang profesor di Universitas Georgetown, mengatakan kepada Marketplace, ada satu pekerja negara bagian Korea Utara mungkin dibayar sebagian kecil dari pekerja lain yang dipekerjakan oleh pabrik China.

Seorang pekerja tekstil di perusahaan milik negara di Ibu Kota Pyongyang hanya menghasilkan 3.000 won Korea Utara per bulan. Sementara pekerja yang sama mungkin menghasilkan 100 kali lipat dengan bekerja di pabrik yang berafiliasi dengan China. 

Korea Utara Raja Hacker dan Bisnis Ilegal

Korea Utara terkenal dengan aktivitas peretasan termasuk terhadap uang-uang virtual. Nilai yang berhasil diretas oleh Korea Utara mencapai US$ 670 juta termasuk mata uang kripto, seperti laporan dewan keamanan PBB.

Korbannya antara lain Bank Sentral Bangladesh sebesar US$ 81 jura, US$13,5 juta dari Cosmos Bank di India, dan US$10 juta dari jaringan ATM Bank Chile.

Selain itu, Korea Utara juga dianggap bertanggung jawab dari kegiatan ilegal yang bisa mengantongi US$ 50 juta per tahun. Modusnya seperti penjualan narkoba dan mata uang dolar AS palsu. Korea Utara membantah tuduhan tersebut, tanpa memberikan statistik ekonomi resmi, sehingga sulit untuk membuktikannya. PBB menduga dana ilegal tersebut untuk mendanai gaya hidup mewah Kim.

Hidup dalam kondisi ekonomi yang dikekang negara, banyak juga warga yang ingin membelot ke luar seperti ke Korea Selatan. Namun, untuk bisa keluar, ada biaya yang harus dirogoh. Setidaknya butuh US$ 12.000-US$ 17.000 yang harus dibayarkan ke broker bagi yang ingin meninggalkan Korea Utara.

Para pembelot semakin sulit untuk meninggalkan Korea Utara sejak Kim Jong-un berkuasa sejak akhir 2011. Ongkos yang harus dibayar ke broker semakin mahal, padahal pada awal 2000-an, biayanya hanya US$45.
(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading