Tak Lockdown, Herd Immunity Jalan Ninja Swedia Lawan Corona?

News - Exist in Exist, CNBC Indonesia
24 April 2020 13:19
Tepuk Tangan Menggema di Inggris Bagi Tenaga Medis yang Lawan Corona. (AP/Frank Franklin II)
Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa negara  di Eropa memutuskan untuk melakukan karantina wilayah (Lockdown) dengan menutup perbatasan, sekolah, bar, dan bisnis di tengah pandemi Covid-19. Namun, hal ini tidak dilakukan oleh Swedia yang justru lebih memilih membiarkan kehidupan sosial masyarakat berjalan seperti biasa dan sebisa mungkin tanpa batasan.

Strategi yang bertujuan membiarkan sebagian orang terpapar virus untuk menciptakan kekebalan di antara kelompok umum, sambil melindungi kelompok-kelompok rentan seperti orang tua ini disebut juga dengan 'Herd Immunity'. 

Meski sebelumnya menjadi kontroversi, kepala ahli epidemiologi Swedia saat ini malah mengatakan strategi tersebut tampaknya berhasil dan 'Herd Immunity' dapat dicapai di ibukota Stockholm dalam hitungan minggu. 


"Di wilayah-wilayah utama Swedia, di sekitar Stockholm, kita telah mencapai peningkatan [dalam kasus-kasus baru] dan kita sudah melihat efek herd immunity dan dalam beberapa minggu kita bahkan akan melihat lebih banyak efek lagi. Dan di seluruh negeri, situasinya stabil," kata Dr. Anders Tegnell, kepala ahli epidemiologi di Badan Kesehatan Masyarakat Swedia, seperti dikutip dari CNBC International, Jumat (24/4/2020).  



Herd immunity di antara populasi, yang biasanya berhasil melalui vaksinasi, akan tercapai ketika sekitar 60% warga dianggap kebal. Namun, tanpa vaksin untuk virus Corona, para ilmuwan sedang mencari tahu apakah dengan terinfeksi dan pulih dari Covid-19 dapat membuat seseorang kebal dalam jangka panjang. Pasalnya, ada beberapa kasus positif Covid-19 yang sudah sembuh dan dilaporkan kembali terinfeksi (reinfection/reactivation).

Tegnell mengatakan pengambilan sampel dan pemodelan data menunjukkan bahwa 20% penduduk Stockholm sudah kebal terhadap virus. 

"Dalam waktu beberapa minggu kita mungkin mencapai Herd Immunity, dan kami percaya itulah sebabnya kita melihat adanya penurunan jumlah kasus secara perlahan, meskipun pengambilan sampel [pengujian untuk virus corona] semakin banyak," jelasnya.

"Sayangnya, tingkat kematian tinggi karena masuknya [virus] di panti jompo dan kami sedang menyelidiki penyebabnya," tambahnya.

Mayoritas dari 15.322 kasus Swedia yang dikonfirmasi berasal dari Stockholm dan daerah sekitarnya. Jumlah kasus ini hampir dua kali lipat dari jumlah kasus di negara tetanga, seperti Denmark dengan 8.108 kasus dan telah melaporkan 370 kematian serta Finlandia dengan lebih dari 4.000 kasus dan 141 kematian. Kedua negara tersebut  pun menerapkan kebijakan lockdown yang ketat. 

Dengan jumlah penduduk di kedua negara masing-masing sekitar 5 juta, setengah dari jumlah penduduk Swedia, maka tingkat penduduk yang terinfeksi hampir sama.  Meski demikian, 1.937 korban jiwa Swedia tetap jauh lebih tinggi daripada negara tetangganya.

Awalnya, Swedia hanya menguji orang-orang yang datang ke rumah sakit, namun sekarang sedang menguji lebih banyak pekerja utama dan orang-orang di panti jompo. Menurut Tegnell, jumlah tes yang lebih banyak inilah yang membuat jumlah kasus positif tidak menurun dengan cepat.

Saat ini, lanjut Tegnell, Swedia menguji sekitar 20.000 orang per minggu dan ditargetkan meningkat hingga 100.000 dalam waktu beberapa minggu.

Lansia Terkena Imbasnya?

Mekipun jumlah kasus baru tampaknya menurun, 'herd immunity' telah terbukti kontroversial. Dengan membiarkan virus menyebar secara diam-diam (walaupun sudah ada langkah-langkah untuk memperlambat penyebarannya), membuat para lansia dan orang-orang dengan kondisi kesehatan buruk menjadi sakit parah dan berpotensi sekarat.

"Korban tewas sangat terkait panti jompo. Lebih dari separuh orang yang meninggal telah tinggal di panti jompo," ungkap Tegnell.

Namun, Ia menengaskan bahwa ia dan Badan Kesehatan Masyarakat masih sangat peduli dengan para orang tua. "Itu adalah kelompok yang kami katakan perlu kami lindungi," katanya. 

Meskipun demikian, Tegnell cukup percaya diri dengan strategi yang telah diupayakan pihaknya. Namun, menurutnya masih terlalu dini bagi pemerintah Swedia untuk mencabut pembatasan yang diberlakukan untuk menunda penyebaran virus. 

Selain itu, Ia mengatakan bahwa beberapa penelitian akan segera diterbitkan untuk menunjukkan tingkat infeksi, pemulihan, dan  kekebalan terhadap virus. Sejauh ini, data menunjukkan Stockholm sudah mencapai puncak infeksi virus Corona.

Pendekatan Swedia dalam menangani pandemi ini memang sangat mencolok dan berbeda dengan negara lainnya. Swedia lebih memilih mengajak masyarakat untuk secara sukarela mennyetop penyebaran virus.

Saat ini, Pemerintah Swedia telah menganjurkan bekerja dari rumah jika memungkinkan serta menghindari perjalanan yang tidak penting dan kontak dengan orang tua. 

Sementara itu, restoran, bar, kafe, dan klub malam hanya menawarkan layanan meja duduk, dan pertemuan lebih dari 50 orang telah dilarang. Namun sekolah untuk anak di bawah 16 tahun tetap dibuka dan aktivitas umum lainnya berjalan seperti biasanya.

[Gambas:Video CNBC]




(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading