Bukan Vaksin, Ini 'Obat' Corona yang Siap Dibuat RI

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
21 April 2020 14:15
cover topik/dunia berlomba mencari vaksin virus corona dalam/Aristya Rahadian Krisabella
Jakarta, CNBC Indonesia - Akhir-akhir ini tersiar kabar bahwa Indonesia sedang menyiapkan sejenis 'obat' untuk menyembuhkan pasien yang menderita Coronavirus Disease 19 (COVID-19). Menariknya, ini bukan sembarang 'obat' karena diambil dari darah pasien COVID-19 yang dinyatakan sembuh untuk diberikan kepada mereka yang masih sakit. Sebenarnya obat apa sih ini?

COVID-19 disebabkan oleh virus yang masih sejenis dengan penyebab SARS 2003 silam. Bedanya virus ini menyebar lebih cepat dan menyebabkan dunia berada dalam pandemi.

Hingga saat ini virus ganas ini sudah menginfeksi lebih dari 2,4 juta orang secara global. Tak kurang dari 165 ribu orang meninggal akibat sistem pernapasannya rusak dirongrong oleh musuh tak kasat mata itu.


Di Indonesia jumlah kasus kumulatif sejak kasus pertama dilaporkan sudah mencapai angka 6.000 lebih dan menduduki ranking dua di klasemen negara dengan jumlah kasus terbanyak se-regional Asia Tenggara setelah Singapura.

Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan jumlah orang yang positif COVID-19 sehari bertambah lebih dari 300 orang dan membuat total kasus di Tanah Air mencapai 6.760 per kemarin (20/4/2020). Sebanyak 590 di antaranya meninggal, 747 dinyatakan sembuh dan sisanya dalam perawatan.

Kendala dalam menangani wabah ini adalah, virus yang menginfeksi manusia kali ini merupakan jenis virus yang baru dan belum dikenali oleh sistem imun tubuh manusia. Sehingga vaksin dan obat belum tersedia.

Penelitian dan pengembangan vaksin dan obat terus dilakukan. Berbagai negara dan perusahaan farmasi global sedang berlomba-lomba menemukan antivirus untuk pandemi dekade ini.
.
Namun penelitian dan pengembangan tersebut membutuhkan dana yang besar, sarana dan fasilitas yang mendukung hingga waktu yang lama. Untuk vaksin bisa dikembangkan butuh waktu bertahun-tahun.

Mengacu pada jurnal ilmiah kenamaan global yakni Nature, vaksin paling cepat bisa dikembangkan dalam kurun waktu 12-18 bulan. Lama juga ya, padahal ini sudah yang paling cepat.

Menunggu vaksin ada keburu pandeminya sudah lewat. Namun vaksin tetap berguna, apalagi ada kemungkinan munculnya gelombang kedua wabah serta potensi menjadi penyakit musiman seperti flu. Artinya vaksinasi tetaplah penting. Saat ini kandidat vaksin paling kuat adalah mRNA-1273 yang dikembangkan oleh Moderna.



Vaksin digunakan untuk meningkatkan kekebalan tubuh seseorang sehingga, bagi yang divaksinasi ketika terpapar ke penyakitnya langsung sistem imun dalam tubuh sudah siap dan penyakit yang diderita tidak akan parah.

Berbeda dengan vaksin, obat digunakan untuk menyembuhkan orang yang sudah terserang virus. Vaksin lebih bersifat preventif (pencegahan) sementara obat bersifat kuratif (penyembuhan).

Saat ini ada beberapa kandidat obat terkuat yang digunakan untuk menangani pasien COVID-19 mulai dari Remdesivir, Chloroquine, hingga Tamiflu. Untuk saat ini Remdesivir menunjukkan dampak yang lebih efektif terutama di Amerika Serikat.



Namun tetap saja untuk mengembangkan obat tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Harus melalui serangkaian uji klinis yang panjang. Pada tahap uji klinis ini, efektivitas obat benar-benar diuji dengan metode yang ilmiah.

Obat Apa sih Memangnya?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading