Industri Farmasi RI Doyan Impor, Disentil Erick Thohir

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
17 April 2020 16:47
Menteri BUMN Erick Thohir (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri BUMN Erick Thohir mengungkit soal industri farmasi Indonesia yang terus-terusan melakukan impor bahan baku obat hingga alat kesehatan. Saat kondisi pandemi corona seperti ini, ketergantungan impor bahan baku jadi persoalan karena banyak negara juga membutuhkan bahan baku farmasi.

Bagi industri farmasi keputusan impor bukan semata-mata soal kepentingan sesaat. Namun, mereka menuding ada regulasi soal Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Regulasi ini sudah dibahas sejak dua tahun silam namun juga belum dikeluarkan Kementerian Perindustrian. Dampaknya pada perkembangan industri bahan baku yang memerlukan investor padat modal, investor enggan masuk.

Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia, Darodjatun Sanusi mengakui bahwa saat ini banyak perusahaan farmasi dalam negeri yang menggunakannya bahan baku impor. 




"90-95% lah. Saya nggak ingin bicara 90%, karena 10% belum tau produknya apa. Kalau kami kasih pernyataan bisa selalu 95%," katanya kepada CNBC Indonesia, Jumat (17/4).

Besarnya angka ketergantungan terhadap impor sebenarnya bisa dikurangi. Yakni melalui pengembangan lebih lanjut. Darodjatun mengatakan bahwa ada 7-9 investor, baik dalam maupun luar negeri bersedia membiayai. Dimulai dari segi riset hingga produksinya. Dari sini, bahan baku lokal bisa dipilih untuk lebih banyak digunakan.

"Orang luar negeri mau sama-sama ambil resiko bahan baku ini karena kita sampaikan ada prospek untuk TKDN. Kalau TKDN terus-terusan ngga keluar, mereka liat kebijakan ini masih belum keluar. Investor lain (awalnya) tertarik untuk masuk, mungkin jadi nggak tertarik masuk," kata Darodjatun.

Jika kondisi ini terus bergulir, bukan tidak mungkin produsen lokal bisa lebih tersingkirkan oleh produk obat impor. Termasuk investor yang semula berani menanamkan modalnya dalam pengembangan riset pembuatan obat, jadi lebih memilih menjadi trader demi mendapat keuntungan.

"Trader kan nggak ada risiko terhadap investasi. Nggak harus sediakan dana, bayar pajak lokal. Sedangkan jika produksi sendiri bisa serap tenaga kerja. Munculnya bisnis-bisnis lain yang merupakan penunjang. Kalau muncul kegiatan industri biasanya ada keg lain di samping pajak. Multiplier effect," katanya.

Sebelumnya Erick Thohir sempat mengungkapkan bahan baku dari impor menyebabkan banyaknya munculnya praktik-praktik kotor yang dilakukan oleh mafia, dalam pengadaan bahan baku obat hingga alat kesehatan.

"Saya mohon maaf kalau menyinggung beberapa pihak, janganlah negara kita yang besar ini selalu terjebak praktik-praktik yang kotor, sehingga tadi, alat kesehatan musti impor, bahan baku musti impor," kata Erick.

[Gambas:Video CNBC]




(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading