Krisis 2008 vs Pandemi Corona, Bagaimana Potensi Saham BNI?

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
09 April 2020 09:28
Pandemi COVID-19 berpotensi menimbulkan dampak yang sama seperti krisis 2008-2009.
Jakarta, CNBC Indonesia- Pandemi COVID-19 berpotensi menimbulkan dampak yang sama seperti krisis 2008-2009. Sebab, serangan virus corona benar-benar mengubah pola hidup penduduk dunia bukan hanya di Indonesia, ataupun China, tempat virus ini bermula.

"COVID-19 ini jauh lebih kompleks dan berat dibandingkan krisis keuangan 2008-2009 karena mengancam jiwa manusia dan mematahkan semua fondasi di seluruh dunia dan gejolak di pasar modal yang tidak ada jangkarnya," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam rapat kerja secara virtual dengan Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2020).

Seperti kata Sri Mulyani pada krisis 2008-2009, yang menjadi epicentrum adalah lembaga keuangan dan korporasi, termasuk industri perbankan Indonesia. Kala itu, IHSG sempat terlempar level psikologis 1.800 menjadi 1.719,25, atau anjlok 4,7% pada September 2008.


Sejak krisis subprime mortgage melanda IHSG anjlok lebih dari 60% dari posisi tertinggi 2008 di 2.830 hingga posisi terendah 1.111. Sementara itu secara year to date 2008, IHSG anjlok lebih dari 50% hingga menyentuh 1.355,41 pada 31 Desember 2008.



Industri perbankan ikut merasakan imbas dari krisis ini termasuk PT Bank Negara Indonesia Tbk (Persero). Pada masa yang sama, saham BNI pun harus terlempar dari level Rp 1.071/saham hingga menyentuh Rp 393/saham pada 24 November 2008. Saham BNI, terdepresiasi 72,6% hanya dalam 2 bulan.

Kondisi ini berlanjut hingga memasuki 2009, dimana sejak awal tahun hingga pertengahan tahun saham BNI bergerak di kisaran Rp 600-900/saham.
Namun, pasca Mei 2009, saham BNI bergerak di atas level Rp 1.000 dan perlahan-lahan bangkit dan hampir menyentuh Rp 2.000 per saham.

Kemudian, saham BNI kembali "pulih" dan kembali bergerak di kisaran Rp 2.000/saham pada Maret 2010, dan bangkit ke level Rp 3.081/saham pada Agustus. Di penghujung tahun 2010 pun BNI mencapai level tertinggi sejak krisis menghantam yakni Rp 4.700/saham.

Artinya sejak menyentuh titik terendah, BNI bisa menanjak 1.127% dan membalikkan posisinya dalam periode 2 tahun, serta tidak lama setelah krisis berakhir pada 2009.

Pandemi Corona
Jika melihat dengan kondisi saat ini, pandemi corona juga sempat membuat IHSG tertekan dan menyentuh titik terendahnya sejak 2013, pada penutupan perdagangan Senin (23/03/2020) merosot ke level 3.989. Sejak awal tahun (year to date) IHSG pun tercatat sudah turun 26,56%.

Meski demikian, penurunan terhadap IHSG tidak berlangsung lama, segera setelah mencatat level terendah IHSG pun segera bangkit dan kini, Rabu (08/04/2020) kembali di level 4.626. Begitu juga dengan saham BNI yang sempat menyentuh Rp 3.390/saham saat IHSG meninggalkan 4.000.
Namun tidak butuh waktu lama untuk BNI perlahan tapi pasti menanjak naik, dan ditutup Rp 4.010/saham hari ini.

Pengamat pasar modal Yazid Muammar menyatakan potensi rebound saham BNI termasuk paling cepat dibandingkan bank besar lainnya. Hal ini terlihat dari valuasi betanya yang berada di 1,5 kali. Selain itu, penurunan saham BNI juga masih belum 50% hingga saat ini, sementara pada 2008 penurunan sahamnya pernah lebih dari 75%.

Dia menilai saat ini pun valuasi BNI dengan PBV 0,6 kali sudah termasuk murah dibandingkan bank besar lainnya, apalagi jika melihat rata-rata PBV BNI dalam lima tahun terakhir ada di posisi 1,45%.

PBV adalah penilaian harga saham dengan nilai buku perusahaan. Biasanya, saham yang memiliki rasio PBV besar, punya valuasi tinggi (overvalue) sedangkan saham dengan PBV di bawah 1 kali, punya valuasi rendah alias undervalue.

"Untuk itu strategi masuk ke saham BNI adalah tepat saat ini, dengan cara beli cicil. Besar kemungkinan BNI akan kembali ke PBV normalnya. Lantaran saham-saham blue chip akan lebih dulu diincar investor bermodal besar dan membuat valuasinya juga meningkat," kata Yazid.

Sementara Analis Profindo Sekuritas Dimas Wahyu menyatakan secara teknikal BNI memang tengah fase koreksi, dengan arah penurunan ke kisaran Rp 3.450/saham sebagai bottom fishing (membeli di harga terendah). Sementara target kenaikannya ditargetkan ke level resisten Rp 4.659/saham.

Dengan posisi harga saham BNI ini, Dimas menilai sudah menarik dan layak dikoleksi. Meski secara keseluruhan sektor perbankan akan mengalami tekanan pendapatan bunga bersih dan laba bersih tahun ini.


Berbeda dengan krisis 2008, dimana perbankan di Indonesia tidak memegang sindikasi pembiayaan properti ataupun memegang surat utang AS sehingga perbaikan setelah krisis berlangsung cepat. Pandemi COVID-19 ini bukan hanya negatif bagi industri perbankan, tetapi juga ke pertumbuhan ekonomi global.

"Untuk Asia cuma tiga negara yang survive, yakni China, India, dan Indonesia yang masih akan positif. Biarpun secara makro akan lebih berat," kata Dimas.

Meski perbaikan secara keseluruhan tidak secepat yang diharapkan, dia memproyeksikan ekonomi Indonesia akan kembali normal pada 2021. Karena dunia usaha akan beroperasi secara normal, termasuk industri perbankan.

[Gambas:Video CNBC]



(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading