Amerika Jadi Epicentrum Corona, Apa Karena Telat Lockdown?

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
02 April 2020 16:23
Amerika Serikat (AS) kini menjadi pusat dari pandemi COVID-19 atau virus corona.
Jakarta, CNBC Indonesia- Amerika Serikat (AS) kini menjadi pusat dari pandemi COVID-19 atau virus corona. Jumlah pasien aktif corona di negara adidaya tersebut mencapai 201.354 orang, dan total kasus menjadi 215.344 orang.

Angka ini menjadikan AS jadi epicentrum baru dengan jumlah kasus melebihi China, dengan total kasus 81.554 orang dan pasien positif corona tersisa 2.004 orang.

Salah satu epicentrum virus corona di AS adalah kota New York, yang kemudian memberlakukan lockdown pada 22 Maret 2020, demi membendung penyebaran virus tersebut. Saat ini ada 75.540 warga New York yang positif corona, dengan jumlah kematian 2.219 orang.


Sayangnya kebijakan lockdown ini baru diterapkan oleh Gubernur New York Andrew Cuomo setelah kasus positif melonjak 8.000 kasus setelah ada tes corona. Sebelum ada lonjakan kasus corona, area Big Apple ini masih tetap berjalan seperti biasa dimana warganya masih bekerja dan berkegiatan di luar rumah.

Selain New York, Los Angeles, Chicago, New Jersey, dan Connecticut juga memutuskan untuk melakukan lockdown.


Profesor sekaligus Direktur Center Suistainable Development di Universitas Columbia Jeffrey Sachs dalam opininya di CNN mengatakan salah satu penyebab AS menjadi epicentrum corona dan melampui China adalah fundamental penanganan yang berbeda. Ketika kasus ini muncul di Wuhan, pemerintah China segera menutup kota Wuhan hingga provinsi Hubei demi menghindari penyebaran.

Dia menyayangkan sikap pemerintah AS terutama presiden Trump yang intensinya adalah menyelamatkan perekonomian, sementara masyarakatnya berjuang untuk hidup.

Ketika COVID-19 akhirnya masuk ke AS dan belum banyak menyebar, Trump hanya secara gampang mengingatkan warganya mengurangi berpergian hingga paskah nanti. Peringatan ini sebelumnya dianggap cukup untuk menghentikan penyebaran corona, nyatanya Negeri Paman Sam ini gagal mengatasi penyebaran corona.

Dilansir dari CNN, Sachs mengatakan AS kemungkinkan harus menerima 81 ribu kematian akibat virus ini pada Juli mendatang, meski dengan penanganan aktif.

"Respon terhadap virus ini harusnya menjadi bagian dari kebijakan negara," katanya.

Dia menegaskan Amerika gagal merespon epidemi ini dan tidak siap menghadapinya. Terlebih menurutnya Trump telah mengobrak-abrik sistem kesehatan yang sudah ada, membuat AS semakin tidak siap dengan pemangkasan tim kontrol epidemi.

Dengan posisinya sebagai epicentrum baru corona, AS pun harus meningkatkan kapasitas rumah sakit dan tenaga kesehatan. Walikota New York, Bill de Blasio mengatakan bahwa kota itu telah meningkatkan kapasitas rumah sakit hingga tiga kali lipat. Terutama, sebagai persiapan untuk menghadapi puncak pandemi yang diperkirakan terjadi dalam dua hingga tiga minggu mendatang.

"(Kami) akan membutuhkan tingkat kapasitas rumah sakit yang belum pernah kami lihat, bahkan tidak pernah dipahami," kata Bill kepada NBC, dikutip dari AFP.

Sekitar selusin tenda, dilengkapi dengan 68 tempat tidur dan 10 ventilator, telah dipasang di taman ikonik Manhattan, yakni Central Park, dengan COVID-19 pasien diperkirakan akan mulai tiba pada Selasa (31/3/2020) malam waktu setempat.

Area Big Apple juga sedang diubah untuk menampung pasien yang sudah membanjiri rumah sakit. Di sebelah selatan Central Park, Javits Convention Center kini beroperasi dengan hampir 3.000 tempat tidur setelah diubah oleh Army Corps of Engineers.

Usai New York dan beberapa kota serta negara bagian di AS memutuskan lockdown, Presiden AS Donald Trump menumpahkan kekesalannya ke China, dan bersikeras bahwa lockdown hanya perlu diberlakukan di kota yang padat penduduk.

"Mereka seharusnya memberi tahu kami tentang ini," kata Trump dalam konferensi pers reguler di Gedung Putih, Minggu (22/3/2020) waktu setempat, sebagaimana dikutip AFP.

"Saya sedikit kesal dengan China. Saya akan jujur dengan Anda ... sebanyak saya suka dengan Presiden Xi dan sebanyak saya menghormati dan mengagumi negara."

Trump juga sempat menghubungi Presiden China Xi Jinping. Dalam sebuah konferensi pers, Trump mengatakan bahwa dia akan berbicara dengan Xi pada Kamis (26/3/2020) pukul 21:00 malam waktu setempat.

Trump mengatakan dia dan Xi membahas pandemi corona dan kejatuhan ekonomi besar-besaran karena lockdown sejumlah negara. Dia dan Xi juga membahas rencana untuk menegosiasikan perjanjian perdagangan keduanya.

Jika dibandingkan dengan AS, China secara cepat memberlakukan lockdown di kota Wuhan pada 23 Januari 2020 dan meluas hingga provinsi Hubei segera setelah virus ini berkembang. Setelah melakukan lockdown, pemerintah China juga tidak hanya sekedar lockdown, tetapi dibarengi dengan pembangunan belasan rumah sakit temporer untuk menampung pasien corona.



Rumah sakit itu merawat belasan ribu pasien yang tidak tertampung dua rumah sakit permanen. Di Kota Wuhan saja, ada 15 rumah sakit temporer yang merawat sekitar 12.000 pasien. Kini setelah kasus COVID-19 menurun drastis, pemerintah China pun menutup RS temporer tersebut.

"Keberadaan rumah sakit temporer ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pelayanan dan menampung pasien semaksimal mungkin dengan sumber daya dan tempat yang minimal. Mulai 11 Februari, rumah sakit ini sudah memulangkan 28 pasien dan sejak saat itu setiap harinya ada pasien yang diperbolehkan pulang," kata Wang Chen, Presiden Akademi Ilmu Kedokteran China, seperti dikutip dari China Daily belum lama ini.

Bahkan, aktivitas masyarakat kembali pulih meski belum 100%. Konsumen mulai memadati pusat perbelanjaan dan restoran karena social distancing tidak lagi diperlukan.

"Sudah terlihat banyak orang di pusat kota, jauh berbeda dengan pemandangan Februari. Orang-orang sudah mulai mengantri untuk membeli barang," ujar Chen Jiayi, seorang mahasiswi di Shanghai, seperti dikutip dari Reuters.


[Gambas:Video CNBC]





(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading