Internasional

Kisah Pilu di Balik Kekacauan Lockdown A La PM Modi di India

News - Muhammad Iqbal, CNBC Indonesia
30 March 2020 20:18
Mulai dari New Delhi hingga Gujarat, terlihat begitu nyata ketidaksiapan pemerintah dalam implementasi kebijakan itu.
New Delhi, CNBC Indonesia - Belum sepekan kebijakan lockdown demi mencegah penyebaran virus corona diumumkan PM India Narendra Modi, kekacauan telah tampak di sejumlah wilayah. Mulai dari New Delhi hingga Gujarat, terlihat begitu nyata ketidaksiapan pemerintah dalam implementasi kebijakan itu.

Pihak berwenang India bukannya tidak menyadari hal itu. Seperti dilaporkan AFP, pada Senin (30/3/2020), mereka berusaha keras membantu jutaan orang yang menganggur gegara pandemi Covid-19.

Sejak lockdown dimulai pada Rabu pekan lalu, ratusan ribu pekerja telah pulang ke desa asal mereka. Ironisnya, kebanyakan dari mereka berjalan kaki sejauh ratusan mil.


Eksodus itu telah menimbulkan kekhawatiran bahwa mereka akan menyebarkan virus corona ke daerah-daerah perdesaan. Apalagi ditambah fakta pihak berwenang memilih untuk 'menjejalkan' orang ke dalam bus, kamp-kamp bantuan, hingga tempat-tempat penampungan tunawisma.

Pada akhir pekan lalu, di Delhi, para pekerja dan keluarga mereka berusaha keras untuk dapat kembali ke negara bagian yang paling padat penduduknya di India, yaitu Uttar Pradesh.


"Saya tidak mampu membeli kamar yang kami punya sehingga tidak ada pilihan lain, kami harus pergi," ujar Ranjid Kumar, pekerja yang bejalan bersama istri dan putranya yang berusia dua tahun selama dua hari. Mereka berjalan selama itu demi pergi dari Haryana ke terminal bus.

Times of India melaporkan, sekitar 90 ribu orang diangkut dengan bus pada Minggu (29/3/2020) dari Ghaziabad, di luar New Delhi. Pada Minggu malam, pemerintah setempat memerintahkan semua perbatasan baik distrik maupun negara bagian ditutup dalam rangka menghentikan eksodus. Pemerintah juga membuat tempat penampungan sementara.

Kisah Pilu di Balik Kekacauan Lockdown A La PM Modi di IndiaFoto: Suasana lockdown di India. (AP/Manish Swarup)


Pada Senin ini, tidak lagi tampak kerumunan orang di pinggiran New Delhi. Pemerintah kota menyatakan telah memberi makan pada 400 ribu orang dengan lebih dari 550 sekolah yang menyediakan tempat berlindung.

Negara bagian Maharashtra telah mendirikan 262 kamp bantuan dan menyediakan tempat berlindung bagi 70.399 orang.

Pihak berwenang pun memerintahkan agar pacuan kuda di luar New Delhi digunakan untuk menampung 5.000 pekerja migran.

Uttar Pradesh telah mengumumkan bantuan dan mendirikan 600 kamp penampungan yang difungsikan sebagai pusat karantina. Demikian disampaikan pejabat setempat Alok Kumar kepada AFP.



Kekacauan di Gujarat
Minggu malam, ratusan buruh bentrok dengan polisi di Surat, negara bagian Gujarat. Ini setelah mereka dilarang untuk meninggalkan daerah itu.

"Sekitar 30 peluru gas air mata ditembakkan untuk membubarkan massa yang telah merusak beberapa kendaraan polisi. Lebih dari 90 orang telah ditangkap," ujar Wakil Komisaris Polisi Vidhi Chaudhary.

Otoritas negara bagian itu juga menyediakan bus untuk membawa pekerja pulang. Tetapi, mereka juga diminta tetap tinggal, seraya mengatakan mereka akan diberi makanan dan tempat tinggal. Namun, pada Senin ini, ribuan orang baik itu pria, wanita, anak-anak, masih memadati jalan-jalan Gujarat.

"Para kontraktor yang membawa kami ke sini untuk bekerja menolak membantu kami," ujar Ramprasad Kevat yang berjalan hampir 30 kilometer dari Ahmedabad menuju Jhansi di Madhya Pradesh.


Dalam sebuah video yang diposting di Twitter, tampak para pekerja disembrot dengan disinfektan. Namun, seorang hakim menilai langkah itu terlalu berlebihan.

Sampai dengan Minggu (29/3/2020), jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19 di India telah melewati 1.000 orang. Dari jumlah itu, 29 orang meningga. Akan tetapi, banyak ahli yang meragukan jumlah itu. Alasannya karena jumlah penduduk India 1,3 miliar orang dan tes yang dilakukan pemerintah terlalu sedikit.

"Migrasi ini telah membawa (virus) ke kota-kota kecil dan desa-desa," ujar Shahid Jameel, salah seorang virolog di Wellcome Trust DBT India Alliance kepada AFP.

[Gambas:Video CNBC]


(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading