Banyak Berguguran, Tenaga Medis Minta Ikut Tes Corona

News - Gustidha Budiartie, CNBC Indonesia
26 March 2020 11:32
Tenaga medis mulai banyak yang berguguran dan terpapar covid-19, mendesak pemerintah untuk diprioritaskan tes corona
Jakarta, CNBC Indonesia- Jumlah tenaga medis yang berperang melawan penyebaran covid-19 sangat terbatas. Dengan alat pelindung diri yang juga kurang, para pejuang di garda terdepan ini berisiko paling tinggi terkena virus yang mematikan tersebut.

Data Pemerintah DKI Jakarta pada Selasa (24/3/2020) lalu menyebut, jumlah tim kesehatan yang terpapar Covid-19 sudah sebanyak 44 orang. Selain itu, selama berperang melawan corona juga sudah terdapat beberapa tenaga medis yang berguguran dan kehilangan nyawa. 

Padahal, semakin banyak tenaga medis yang terpapar maka tenaga akan semakin berkurang di medan perang melawan covid-19.


Para dokter dan tenaga medis pun sudah banyak yang berstatus ODP (Orang Dalan Pemantauan), seperti yang dialami oleh Mitha, seorang dokter di Semarang, Jawa Tengah.




"Saya sebenarnya sudah status ODP, tapi tidak bisa ikut tes karena daftar antrean-nya sangat panjang sekali. Diutamakan untuk yang sudah status PDP (Pasien Dalam Pengawasan), " ujarnya dalam pesan singkat kepada CNBC Indonesia, Rabu (25/3/2020).

Begitu juga dengan yang dialami oleh para dokter yang berada di Jakarta.

"Kalau terpapar pastinya kami semua ini sudah terpapar dengan peralatan yang minim. Tapi bagaimana lagi. Kami sudah pasrah dan jaga diri masing-masing saja kalau sudah begini," ujar Leoni, dokter yang bertugas di RSCM.

Hal serupa disampaikan oleh Ucha, dokter yang juga bertugas di RSCM. Menurutnya, risiko terpapar dan menjadi ODP ini akan minim jika terdapat APD yang memadai.




Ia menginginkan, ke depannya sebelum menunjuk rumah sakit menjadi rujukan covid-19 dipastikan dan disiapkan terlebih dulu APD-nya. "Dibuat alur yang jelas agar tidak membahayakan dan mengorbankan tenaga kesehatan."

Para tenaga medis ini bagaimanapun juga mengkhawatirkan kesehatan diri sendiri maupun keluarga dan orang-orang terdekat mereka.

"Tes swab atau skrining harus dilakukan besar-besaran, kalau sekarang ada kuota per hari jadi hanya sedikit sample yang bisa diambil. Orang yang butuh swab harus mengantri panjang."

Dengan kondisi seperti ini, pemerintah diminta untuk memprioritaskan tes corona atau swab untuk para tenaga medis. "Saran saya, skrining setiap tenaga kesehatan untuk swab tenggorokan tanpa harus ada gejala," ujar ahli dan spesialis paru yang sejak corona mewabah di negeri ini tak berhenti bekerja, dr Fariz Nurwidya.





[Gambas:Video CNBC]




(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading