Ini Maskapai Penerbangan yang Terancam Bangkrut Karena Corona

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
14 March 2020 18:31
orona sudah memberikan dampak buruk ke beberapa industri di dunia. Salah satunya adalah industri penerbangan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebelum ditetapkan menjadi pandemik oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), corona sudah memberikan dampak buruk ke beberapa industri di dunia. Salah satunya adalah industri penerbangan.

Salah satu maskapai penerbangan terbesar di Inggris, Flybe, jatuh bangkrut akibat semua penerbangannya macet karena virus corona.

Dalam pernyataan di situs web, Flybe yang memiliki 2.000 karyawan, menyatakan telah memasuki proses administratif dan gagal mengatur penerbangan alternatif untuk para penumpang.


"Semua penerbangan telah dibatalkan dan bisnis Inggris telah menghentikan perdagangan dengan efek langsung," kata maskapai itu, dilansir dari AFP, Kamis (4/3/2020).



Sebelumnya, Flybe sempat selamat dari kehancuran pada Januari lalu. Perusahaan diberikan pembebasan pajak oleh pemerintah Inggris. Namun Flybe gagal memulihkan peruntungan akibat permintaan yang lemah, ditambah dengan persaingan yang ketat.

Pengumuman itu keluar beberapa jam setelah Inggris melaporkan kemungkinan bangkrutnya maskapai itu. Pasalnya Flybe gagal mendapatkan pinjaman negara sebesar 100 juta poundsterling (Rp 1,8 triliun) untuk membantu menstabilkan bisnis.

Selain Flybe, sebelumnya berbagai maskapai penerbangan di kawasan Asia-Pasifik diprediksi akan kehilangan pendapatan sekitar US$ 27,8 miliar atau setara dengan Rp 378 triliun (asumsi kurs Rp 13.600/US$) karena menurunnya permintaan penerbangan akibat penyakit COVID-19.

Sebagian besar kerugian akan dirasakan oleh perusahaan penerbangan di China. Menurut The International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), dalam perkiraan yang dirilis di New York, China merugi US$ 12,8 miliar (Rp 174 triliun) hanya untuk pasar domestik.

Di sisi lain, perusahaan penerbangan China memang sudah memangkas 80% dari kapasitas penerbangan domestik dan internasional pada minggu ini. Bahkan, menurut perusahaan data penerbangan OAG, mereka harus mengalami penurunan angka permintaan penerbangan yang terjun bebas saat virus corona muncul.

Dua maskapai di Asia, Cathay Pacific Airways dan Singapore Airlines juga ikut memangkas kapasitas penerbangan di seluruh jaringan global guna melewati krisis tersebut. Cathay tercatat di Bursa Hong Kong, sementara Singapore Airlines tercatat di Bursa Singapura.



Secara keseluruhan, IATA memperkirakan lalu lintas penumpang di wilayah Asia-Pasifik turun 8,2% awal tahun ini, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya yang memiliki kenaikan 4,8%.

Selain itu, maskapai Air France bulan lalu memperkirakan hanya akan mencapai laba 150 juta euro hingga 200 juta euro (US$ 162 juta - US$ 216 juta atau setara Rp 2,2 triliun-Rp 2,94 triliun) pada bulan April karena kalah bersaing dengan wabah virus corona terhadap industri penerbangan.


[Gambas:Video CNBC]




(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading