Bursa Hancur & Minyak Terjun, Ini yang Dirasakan Pengusaha

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
13 March 2020 20:54
Apa kata pengusaha soal kondisi bursa saham yang jatuh dan harga komoditas turun.
Jakarta, CNBC Indonesia - Kalangan pengusaha menanggapi penurunan harga minyak dunia yang menyentuh US$ 30 per barel dalam beberapa waktu terakhir. Saat bersamaan pasar keuangan di dunia dan dalam negeri sedang hancur-hancuran karena sentimen negatif corona.

Wakil ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Industri Johnny Darmawan menilainya kondisi di atas sebagai dua sisi mata uang koin. Maka harus disikapi dengan kebijakan yang baik.

"Buat kita ada dua, plus minus. Plusnya kita udah jadi net importir (minyak). Pembelian lebih murah tapi selalu yang namanya minyak turun akan berdampak pada harga komoditi CPO (minyak kelapa sawit), batu bara, segala macam," sebut Johnny kepada CNBC Indonesia, Jumat (13/3).




"Ini yang menurut kita buah simalakama. (Sebagai) Net importir tapi di lain pihak, akan kena dampaknya," lanjutnya.

Indonesia memang sudah menjadi net importir minyak sejak tahun 2002 lalu. Karena jumlah produksi minyak jauh lebih rendah daripada konsumsinya. Artinya, ketika harga minyak dunia turun, sebagai pembeli, Indonesia akan diuntungkan karena bisa membelinya dengan harga yang lebih murah.

Di sisi lain, harga komoditas seperti sawit dan batu bara juga ikut turun. Hal ini dikarenakan harga minyak sering jadi acuan harga komoditas ekspor unggulan. Sehingga bisa mengancam kinerja ekspor di awal tahun 2020 ini.

"Biasanya ya, jadi kalau udah minyak turun akan dampak ke komoditi. Baik itu turun. Ekspor kita umumnya komoditi, (seperti) batu bara, tambang, CPO itu semua komoditi," sebutnya.

Johnny juga menilai jatuhnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah hal wajar. Hari ini, Jumat (13/3) IHSG sempat menyentuh angka 4.650. Namun jika melihat secara global, hal ini tidak lepas faktor global.

"IHSG biasa (wajar jatuh). Kan itu dunia. Itu kalo Dow Jones segala macem jatuh, itu kan otomatis semua terlibat. Jadi nggak mungkin negara Indonesia nggak kena, ngga mungkin. Pasti IHSG kena dampaknya," katanya.

Menurunnya indeks saham di berbagai belahan dunia disinyalir salah satunya karena sentimen negatif virus corona. Pertumbuhan ekonomi pun diprediksi bakal stagnan, bahkan melambat.

Untuk mengatasinya, pemerintah sudah merumuskan stimulus untuk meningkatkan daya beli masyarakat, antara lain insentif PPh 21, PPh 22, dan PPh 25

"Paling penting kesiapan daya beli. Daya beli nggak boleh berkurang. Jika berkurang harus ada cash yang dipegang. Nah itu dikasih di PPh 21. karena yang paling kena kan karyawan. Itu langsung diberikan," sebut mantan Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor ini.

[Gambas:Video CNBC]



(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading