Begini Efek Dahsyat Corona, Dari AS Hingga Timur Tengah

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
02 March 2020 11:48
Prancis bahkan telah mengumumkan larangan sementara untuk mengadakan pertemuan publik dengan lebih dari 5.000 orang di ruang terbatas.
Jakarta, CNBC Indonesia - Para pemimpin di Eropa, Timur Tengah, dan Amerika mengeluarkan larangan menggelar pertemuan skala besar akibat lonjakan jumlah kasus infeksi yang disebabkan penyebaran virus corona (Covid-19) ke berbagai negara. Selain itu, mereka juga memperketat aturan pembatasan perjalanan.

Keputusan itu diumumkan selepas Covid-19 dilaporkan menyebar ke lebih dari 60 negara per Minggu (2/3/2020). Hal itu juga disampaikan setelah Amerika Serikat (AS) melaporkan kasus kematian pertama di mana sang korban adalah seorang pria berusia 50-an di negara bagian Washington DC.

Pada Senin pagi, otoritas kesehatan di Washington kembali mengonfirmasi kasus kematian akibat Covid-19. Ini menjadikan total korban tewas akibat virus itu di wilayah itu menjadi dua orang.


Pasien kedua yang meninggal itu adalah seorang pria berusia 70-an dan dirawat di rumah sakit di EvergreenHealth di Washington. Demikian penjelasan Departemen Kesehatan Masyarakat Seattle dan King County, sebagaimana dilaporkan CNBC International.

Sebelumnya, Wakil Presiden AS Mike Pence mengatakan risiko terjangkit Covid-19 di AS masih rendah. Namun, dia menyatakan jumlah kematian kemungkinan akan meningkat di wilayah itu setelah kasus kematian pertama dilaporkan.

"Kami tahu akan ada lebih banyak kasus," kata Pence kepada Jake Tapper dari CNN International, Sabtu (29/2/2020). Pernyataan Pence tersebut menegaskan kembali pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengatakan kasus Covid-19 akan mungkin bertambah di AS.

Untuk membatasi penyebaran, para pejabat AS termasuk Trump, sebelumnya telah mengimbau warga Negeri Paman Sam untuk tidak bepergian ke daerah yang terkena Covid-19. Para wisatawan yang datang dari daerah terdampak seperti Italia dan Korea Selatan juga akan diperiksa secara lebih ketat.

Sementara itu, larangan memasuki AS bagi wisatawan asal Iran akan diperluas, mencakup larangan pada warga negara asing yang telah mengunjungi Iran dalam 14 hari terakhir.

"Amerika Serikat juga mungkin akan membatasi perjalanan di perbatasan selatannya dengan Meksiko," kata salah seorang pejabat, mengutip Reuters.

Selain AS, pejabat pemerintahan di Eropa dan Asia juga telah banyak yang memberlakukan larangan serupa pada warga mereka. Prancis bahkan telah mengumumkan larangan sementara untuk mengadakan pertemuan publik dengan lebih dari 5.000 orang di ruang terbatas. Keputusan diambil setelah negara tersebut melaporkan lebih dari 70 kasus, di mana per hari ini kasusnya telah kembali meningkat mencapai 130 orang.

Sementara itu, Swiss mengatakan akan melarang acara yang dihadiri lebih dari 1.000 orang.



Di Iran dan dan Jepang, dua negara yang terdampak wabah Covid-19, pemerintahan mereka sebelumnya telah mengumumkan untuk meliburkan sekolah-sekolah guna mencegah meluasnya penyebaran.

Iran juga telah memperpanjang waktu penutupan universitas dan mengeluarkan larangan untuk menggelar konser dan acara olahraga selama seminggu. Pihak berwenang juga telah melarang kunjungan ke rumah sakit dan panti jompo karena jumlah kasus di negara itu terus meningkat, mencapai 978 dengan kematian sebanyak 54 kasus.

Sementara itu di Italia, kasus infeksi oleh Covid-19 telah mencapai 1.694 dengan kematian mencapai 34. Ini menjadikan Italia sebagai negara paling terdampak di Eropa atau paling terdampak kedua di luar China Daratan, setelah Korea Selatan yang memiliki 4.212 kasus dan 17 kematian.

Demi menghindari penyebaran yang lebih luas, negara ini telah mengumumkan pembatalan pengadaan berbagai acara besar dan menutup berbagai tempat umum, seperti sekolah dan universitas di tiga wilayah Italia Utara.

Pemerintah menyebutkan penutupan itu perlu dilakukan hingga 8 Maret mendatang. Museum, teater dan bioskop yang juga telah ditutup sejak pekan lalu, namun kemungkinan besar akan segera dibuka.

Namun demikian, para analis telah memproyeksikan wabah Covid-19 mungkin akan menyebabkan ekonomi Italia yang rapuh, jatuh ke dalam resesi keempatnya dalam 12 tahun. Di mana akibat wabah, banyak bisnis di Negeri Pizza terganggu.

[Gambas:Video CNBC]




(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading