2 Perusahaan Masih Kena Larangan Ekspor Nikel

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
19 November 2019 19:11
ESDM masih evaluasi 2 perusahaan nikel, dan terkena larangan ekspor.
Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ariyono mengatatakan evaluasi 2 perusahaan nikel yang ekspornya dilarang sementara masih terus dilakukan.

Sejak akhir Oktober lalu, pemerintah melakukan evaluasi soal ekspor nikel yang diduga terjadi pelanggaran. Hasilnya 11 perusahaan dievaluasi, 9 di antaranya dinyatakan bisa kembali melakukan ekspor.

"Belum selesai (evaluasinya)," ungkapnya singkat di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Selasa, (19/11/2019).


Sebelumnya, pemerintah mengambil langkah tegas menghentikan sementara ekspor bijih nikel. Langkah ini diambil karena banyak pelanggaran terkait ekspor bijih nikel menjelang pelarangan 1 Januari 2020 mendatang.



Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan para penambang menguras habis sumber nikelnya dan melakukan ekspor besar-besaran. Menurut Luhut saat ini ekrpor bijih nikel per bulan mencapai 100-130 kapal dari biasanya hanya 30 kapal per bulan.

Kondisi ini dikhawatirkan bakal merusak lingkungan. "Penyetopannya tetap 1 Januari 2020, tidak berubah. Tapi ini karena tiba-tiba ada lonjakan luar biasa sampai 3 kali target," ungkap luhut di Kantornya, Selasa, (29/7/2019).

Penghentian sementara ini sekaligus memberi waktu pemerintah unntuk mengevaluasi kebijakan. Selama ini aturannya ekspor diperbolehkan untuk produsen tambang yang memiliki smelter dan memproduksi nikel dengan kadar 1,7%. Namun, pada kenyataannya mereka yang tidak punya smelter bisa sembarangan ekspor bijih nikel.
(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading