Walah Kacau, Penerimaan Pajak Sektor Pertambangan Jeblok!

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
04 November 2019 16:08
Walah Kacau, Penerimaan Pajak Sektor Pertambangan Jeblok!
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati bertemu dengan Komisi XI DPR untuk melaporkan realisasi APBN hingga September 2019. Sayangnya, hingga periode tersebut terjadi penurunan yang cukup dalam untuk penerimaan pajak dari sektor pertambangan.

Hal ini terungkap dalam realisasi penerimaan pajak yang dipaparkan Sri Mulyani di Gedung DPR, Senin (4/11/2019).

"Dampak perlambatan beberapa sektor ekonomi terlihat dari penerimaan pajak sektoral," terang bahan presentasi tersebut.


Sampai dengan September 2019 penerimaan pajak dari sektor pertambangan mengalami penurunan yang cukup dalam sementara penerimaan pajak dari sektor Jasa Keuangan dan Transportasi & Pergudangan mengalami pertumbuhan tertinggi.

Ini datanya :

Walah Kacau, Penerimaan Pajak Sektor Pertambangan Jeblok!Foto: dok kemenkeu



Dari data tersebut, terlihat penerimaan pajak dari sektor pertambangan hanya Rp 43,21 triliun, terjadi penurunan hingga 20,6%.

Lemahnya kinerja perdagangan Internasional juga tercermin pada Perlambatan kinerja Bea Masuk & Bea Keluar yang terjadi di beberapa sektor lapangan usaha utama.

Bea keluar dari sektor pertambangan terkoreksi 48,18%.

"Perekonomian dunia mengalami tekanan yang cukup berat. Terlihat dari revisi menurun dari proyeksi 2019. Di mana turun hampir 0,7%. Tadinya 3,9%, kemudian 3,7% dan 3,5% dan terakhir proyeksi hanya akan tumbuh 3%," terangnya.

Menurut Sri Mulyani, IMF bicara jika ekonomi dunia sudah masuk kategori resesi. Eropa, AS, dan China mengalami perlambatan.

"Risiko global yang perlu diwaspadai lainnya perang dagang, kemungkinan ada negosiasi, masih menyelimuti ketidakpastian global."

"Di berbagai dunia, mengalami penurunan dalam posisi trennya. AS juga tidak terelakkan karena dunia melambat. Jerman tumbuh 0,04 pct, China biasanya mendekati 7% sekarang tinggal 5%. Sementara, Indonesia stabil, hanya sekitar 0,1%," terang Sri Mulyani.

(dru/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading