Ini Kisah Ekuador dari Raja Minyak jadi Raja Utang

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
15 October 2019 12:26
Ini Kisah Ekuador dari Raja Minyak jadi Raja Utang
Jakarta, CNBC Indonesia - Ekuador merupakan salah satu negara anggota organisasi pengekspor minyak (OPEC) yang berencana meninggalkan organisasi tersebut mulai tahun depan. Keluarnya Ekuador dari OPEC dikarenakan adanya masalah fiskal yang melilit negara yang terletak di kawasan Amerika Selatan tersebut.

Ekuador merupakan negara terkecil OPEC dengan kapasitas produksi minyak mentah mencapai 167.400 barel/hari yang sedang mengalami kesulitan fiskal.

Sejak pengumuman penghentian subsidi bahan bakar diumumkan pemerintah pada 3 Oktober lalu, gelombang demo masa yang memprotes kebijakan tersebut menjadi tak terelakkan.


Stabilitas politik Ekuador menjadi terguncang bahkan kantor pemerintahan harus dipindahkan dari Quito ke Guayaquil karena ibukota sudah diduduki oleh warga. Gesekan antara warga dan aparat menjadi tidak terelakkan.

Ada beberapa penyebab yang membuat Ekuador dulunya adalah raja minyak kini jadi melarat... salah satunya apalagi kalau bukan utang.

Sebagai negara yang struktur ekonominya bertumpu pada komoditas, ekonomi Ekuador mengalami guncangan besar ketika harga minyak anjlok dalam di tahun 2014. Anjloknya harga minyak membuat keseimbangan fiskal terganggu. Penerimaan negara berkurang menjadi berkurang menyebabkan defisit fiskal yang parah.

Defisit fiskal tersebut ditambal dengan utang domestik jangka pendek, penarikan cadangan bank sentral hingga penempatan utang luar negeri dengan biaya yang sangat tinggi. Sejak 2014-2017 utang Ekuador naik signifikan hingga melebihi batas aman 40% dari total PDB.

Ini Kisah Ekuador dari Raja Minyak jadi Raja UtangSumber : IMF
Faktor lain yang juga semakin memberatkan perekonomian Ekuador adalah pengeluaran pemerintah untuk gaji serta subsidi bahan bakar yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tetangganya. Adanya kebijakan populis untuk menaikkan gaji dan juga subsidi bahan bakar pada akhirnya hanya memberatkan ekonomi Ekuador.

Pasalnya peningkatan gaji yang tidak disertai dengan peningkatan pada produktivitas yang signifikan serta subsidi yang tidak tepat sasaran justru malah semakin melukai ekonomi Ekuador. Selain itu, ekonomi Ekuador yang terlalu bertumpu pada dolar juga menjadi faktor pemberat ekonomi Ekuador untuk kembali pulih.

Ini Kisah Ekuador dari Raja Minyak jadi Raja UtangSumber : IMF

Ini Kisah Ekuador dari Raja Minyak jadi Raja UtangSumber : IMF

Ini Kisah Ekuador dari Raja Minyak jadi Raja UtangSumber : IMF

Ekuador telah mencapai kesepakatan pembiayaan sebesar $ 4,2 miliar dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Negara itu juga akan menerima pinjaman $ 6 miliar dari lembaga multilateral termasuk Bank Dunia, Bank Pembangunan Antar-Amerika, dan bank pembangunan Andes CAF, kata Moreno dalam pesan yang disiarkan di televisi dan radio nasional. Dilansir dari Reuters Februari lalu.

Banyak yang memandang skeptis atas pinjaman lembaga keuangan global tersebut yang dikucurkan ke Ekuador. Ekuador harus menetapkan kebijakan penghematan/austherity yang dinilai semakin memperburuk situasi di negara tersebut.

Kebijakan penghematan ini ditempuh dengan berbagai cara untuk mengurangi beban perekonomian negara seperti PHK karyawan hingga penghentian subsidi bahan bakar. Kalau kita lihat maka kisah ekonomi Ekuador ini masalahnya ada di kurangnya diversifikasi ekonomi Ekuador serta pengelolaan fiskal yang kurang prudent.



(TIM RISET CNBC INDONESIA) (twg/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading