Wamenkeu Ungkap Borok BPJS Kesehatan Hingga Defisit Rp 32 T

News - Lidya Julita S, CNBC Indonesia
07 October 2019 15:40
Defisit BPJS Kesehatan tahun ini diprediksi meningkat lebih besar dari prediksi awal Rp 28 triliun menjadi Rp 32 triliun.
Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo membeberkan penyebab defisit Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan terus mengalami defisit. Tak lain adalah peserta golongan mandiri atau Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) yang menyebabkan defisit terus meningkat.

Mardiasmo memaparkan, defisit BPJS Kesehatan tahun ini diprediksi meningkat lebih besar dari prediksi awal Rp 28 triliun menjadi Rp 32 triliun.

"Sebetulnya yang membuat bleeding itu PBPU yang jumlahnya 32 juta, yang lainnya itu sebenarnya enggak buat bleeding. Itu ada dua jenis PBPU yang jelita dan jelata," ujarnya dalam diskusi Forum Merdeka Barat (FMB9) di Gedung Kominfo, Jakarta, Senin (7/10/2019).




Mardiasmo menyebutkan, golongan PBPU yang saat ini tidak menjadi tanggungan pemerintah tengah di data kembali. Dengan demikian PBPU yang tidak mampu bisa menjadi tanggungan pemerintah dengan masuk ke golongan peserta penerima bantuan iuran (PBI) dari pemerintah pusat maupun daerah.

"Kalau ada yang PBPU 3,5 juta yang sudah dikeluarkan Kemensos tinggal 29 juta. Jadi nanti tinggal PBPU yang mampu yang jelita tadi. Ini lah yang membuat defisit di BPJS tadi," jelasnya.

Lanjutnya, saat ini hanya 50% dari total peserta PBPU yang taat membayarkan iurannya. Sedangkan sisanya hanya daftar BPJS saat membutuhkan layanan atau sakit. Dan saat mendaftar itu, penyakit yang dialami biasanya mahal sehingga membuat BPJS Defisit.

"PBPU ini hanya 50% saja yang bayar. Apalagi dia itu biasanya penyakit yang katastropik, yang membebani biaya," tegasnya.



Wamenkeu Ungkap Borok BPJS Kesehatan Hingga Defisit BengkakFoto: Forum Merdeka Barat 9 dengan topik Tarif Iuran BPJS (CNBC Indonesia/Lidya Julita S)



(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading