"Red Dot", Sebuah Warisan Habibie Untuk Singapura

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
12 September 2019 12:26
Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan Presiden Indonesia yang ketiga, Dr. Ing Bacharuddin Jusuf Habibie atau biasa dipanggil BJ Habibie, ternyata orang pertama yang menjuluki Singapura sebagai "red dot" atau titik merah.

Pernyataan itu ia ungkapkan dalam sebuah artikel yang diterbitkan di Asian Wall Street Journal pada 4 Agustus 1998. Ketika itu, Habibie menjabat sebagai Presiden RI ke-3.

"Tidak apa-apa dengan saya, tetapi ada 211 juta orang (di Indonesia). Semua (area) hijau adalah Indonesia. Dan titik merah itu adalah Singapura," katanya saat itu sebagaimana dilansir The Independent.



Pernyataan Habibie ini semula membuat Singapura meradang. Banyak yang menganggap hal tersebut adalah ejekan untuk negara pulau itu.

Namun Habibie membantah dia menjelek-jelekan Singapura.

Red dot mendeskripsikan bagaimana Singapura yang sering digambarkan sebagai titik merah kecil di banyak peta dunia, karena ukurannya yang relatif kecil.


Berbulan-bulan selanjutnya, ungkapan Habibie itu kian populer di Singapura bahkan dimanfaatkan politisi dan masyarakat setempat.

Red dot kini menjadi sebuah kebanggaan bagi Singapura. Di mana orang-orang menggunakan ungkapan itu untuk menunjukan kesuksesaan sebuah negara di tengah banyak keterbatasan yang dipunya.

Istilah ini berkembang menjadi llencana kebanggaan bagi Singapura. Bahkan, ketika Singapura merayakan ulang tahun ke-50 tahun kemerdekaannya, logo yang digunakan adalah titik merah sederhana dengan tulisan "SG50" di dalamnya.

Habibie memang hanya memimpin sebentar dibanding Presiden RI yang lain. Namun sejarah singkat itu memberi banyak pengaruh signifikan bagi Indonesia.

[Gambas:Video CNBC]



(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading