Disindir Jokowi, Begini Sebenarnya Realita Kondisi Migas RI

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
09 July 2019 10:41
Disindir Jokowi, Begini Sebenarnya Realita Kondisi Migas RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo kembali menyinggung soal defisit migas yang masih tinggi.

"Coba dicermati angka-angka ini, kenapa impor begitu sangat tinggi. Migas naiknya gede sekali, hati-hati di migas Pak Menteri ESDM, Bu Menteri BUMN yang terkait dengan ini," singgung Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (8/7/2019).




Sebenarnya, bagaimana kondisi migas RI sekarang?

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan memaparkan, total produksi minyak saat ini mencapai 775 ribu barel sehari dan konsumsi minyak harian sekitar 1,3 juta barel sehari. Sementara untuk gas alam, produksinya kini capai 1,2 juta BOEPD, yang mana 65% sudah diserap untuk dalam negeri. 

Adapun, mengutip data BPS, impor migas di Mei 2019 mencapai US$ 2,09 miliar atau setara Rp 29,6 triliun turun 6,41% dibanding April yang menyentuh US$ 2,23 miliar atau setara Rp 31 triliun. 

Penurunan impor migas dipicu oleh turunnya nilai impor hasil minyak atau BBM sebesar US$ 263,6 juta atau 18,29% dan impor gas turun US$ 59,5 juta atau 18,13%. 

Dari Januari hingga Mei 2019, impor migas tercatat menurun hingga 23,77%. Lebih lanjut penurunan impor migas disebabkan oleh turunnya impor seluruh komponen migas, yaitu minyak mentah US$1.766,5 juta (43,74%), hasil minyak US$1.043,1 juta (15,44%), dan gas US$24,2 juta (2,14%).

Tetapi, memang masih terdapat impor yang naik signifikan yakni minyak mentah atau crude sebanyak 38,59%. Impor minyak mentah di Mei 2019 naik jadi US$ 645,4 juta dari sebelumnya US$ 465,7.

Sebenarnya sektor migas sudah menunjukkan perbaikan. Pada empat bulan pertama tahun 2019, defisit neraca migas hanya sebesar US$ 2,76 miliar, sudah mengecil dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$ 3,89 miliar.

Kinerja perdagangan sektor migas terbantu oleh kebijakan pemerintah yang memberi mandat kepada Pertamina untuk membeli minyak jatah ekspor hasil produksi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang sebelumnya dijual ke luar negeri.

Selain itu, program B20 juga berperan mengurangi kebutuhan minyak impor. Sebagai informasi, dalam program B20, pemerintah memberi ketentuan porsi campuran sawit pada biosolar sebanyak 20%.

Namun demikian hingga saat ini Indonesia masih menjadi negara net-importir minyak untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Dengan begitu neraca migas kemungkinan besar akan selalu defisit.

Jonan menilai, seharusnya, ekspor yang diandalkan adalah ekspor manufaktur yang mengonsumsi gas alam serta listrik. Sektor inilah yang mestinya berperan lebih besar ketimbang migas, karena jika negara harus ekspor migas atau sumber daya alam yang dimiliki maka kebutuhan bahan bakar dalam negeri yang akan dikorbankan. 

"Jika gas alam diekspor, industri dan listrik di dalam negeri mau pakai energi apa lagi saat ini?" pungkasnya.




(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading