Disentil Jokowi Soal Defisit Migas, Ini Jawaban Jonan

News - Gustidha Budiartie, CNBC Indonesia
08 July 2019 16:30
Disentil Jokowi Soal Defisit Migas, Ini Jawaban Jonan
Jakarta, CNBC Indonesia- Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menyentil kinerja sejumlah menteri, salah satunya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan. Jonan disinggung Jokowi terkait impor migas RI yang masih tinggi.

"Coba dicermati angka-angka ini, kenapa impor begitu sangat tinggi. Migas naiknya gede sekali, hati-hati di migas Pak Menteri ESDM, Bu Menteri BUMN yang terkait dengan ini," singgung Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (8/7/2019)

Terkait hal ini, Menteri ESDM Ignasius Jonan pun menjelaskan impor minyak kian naik seiring dengan konsumsi BBM yang juga cenderung naik. Ini didorong salah satunya karena pembangunan ruas jalan yang meningkat, sementara produksi tidak bisa serta merta naik begitu saja karena membutuhkan upaya eksplorasi yang besar.


Upaya ini, lanjutnya, sedang dilakukan dan ditingkatkan lagi setelah sekian lama sempat terhenti. "Dan upaya ini juga akan banyak bergantung dari komitmen para kontraktor (KKKS) besar termasuk Pertamina," jawabnya dalam pesan tertulis yang diterima CNBC Indonesia, Senin (8/7/2019).



Total produksi minyak saat ini capai 775 ribu barel sehari dan konsumsi minyak harian sekitar 1,3 juta barel sehari. Konsumsi naik seiring pertumbuhan kendaraan bermotor. "Oleh sebab itu ESDM sangat berharap bisa segera ada insentif untuk mobil listrik."

Sementara untuk gas alam, produksinya kini capai 1,2 juta BOEPD di mana 65% sudah diserap untuk dalam negeri. "Jika mayoritas gas alam diekspor seperti sebelum tahun 2000, maka saya yakin neraca migas tidak akan defisit."

Seharusnya, lanjut Jonan, ekspor yang diandalkan adalah ekspor manufaktur yang mengkonsumsi gas alam serta listrik. Sektor inilah yang mestinya berperan lebih besar ketimbang migas, karena jika negara harus ekspor migas atau sumber daya alam yang dimiliki maka kebutuhan bahan bakar dalam negeri yang akan dikorbankan.

"Jika gas alam diekspor, industri dan listrik di dalam negeri mau pakai energi apa lagi saat ini?"

Defisit migas tak hanya dialami Indonesia, negara-negara maju seperti Jepang, China juga alami defisit migas karena mereka terbatas sumber daya energinya. "Tapi apakah neraca perdagangan secara keseluruhan defisit? Tentu tidak kan?"

Mencontoh Jepang juga, agar ini bisa dikendalikan kementerian energi, perdagangan, dan perindustrian dijadikan satu oleh pemerintahnya yakni kementerian METI yang meliputi energy, trade, dan industry. "Di RRT juga ada national energy administrator."

(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading