Dinanti Seluruh Dunia, Bagaimana Bila Dialog Trump-Xi Buntu?

News - Prima Wirayani & Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
26 June 2019 11:23
Dinanti Seluruh Dunia, Bagaimana Bila Dialog Trump-Xi Buntu?
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akan bertemu di sela-sela pertemuan G20 pekan ini di Jepang.

Kedua pemimpin akan melangsungkan pembicaraan perdagangan setelah Trump menaikkan bea impor terhadap berbagai barang China senilai US$200 miliar menjadi 25% dari 10% pada Mei kemarin. China membalas dengan mengenakan bea masuk yang lebih tinggi juga.

Selain itu, Trump pun menggagas pengenaan tarif impor baru terhadap produk China lainnya senilai US$300 miliar.


Pasar mempunyai beberapa perkiraan skenario untuk pertemuan ini sebagaimana dikemukakan oleh ahli strategi Evercore ISI Donald Straszheim, dikutip dari CNBC International, Rabu (26/6/2019). Ia menyebut ada tiga kemungkinan hasil pembicaraan Trump-Xi, termasuk buntunya pembicaraan.



Straszheim mengatakan ada 20% kemungkinan AS dan China tidak membahas bea masuk tambahan dalam pernyataan mereka akhir pekan ini. Sikap tersebut justru memberi sinyal bahwa tarif-tarif impor baru itu akan segera diterapkan.


Bila benar terjadi, skenario ini merupakan pukulan telak bagi perekonomian China dan meningkatkan kekhawatiran di kalangan investor bahwa konflik perdagangan akan berlangsung lebih lama.

"Ini akan menjadi berita buruk, menunjukkan perbedaan yang semakin tajam," kata Straszheim. "Paling-paling kedua belah pihak hanya akan menjaga komunikasi (ke depannya)."

"Dalam hasil ini, bea impor AS yang baru tidak akan dimasukkan dalam pernyataan, dan menjadi sinyal bahwa AS akan menjatuhkan bea masuk terhadap barang-barang China senilai US$300 miliar," tambahnya. Straszheim memperkirakan Trump akan menaikkan bea 10% terhadap impor China dalam skenario ini.

Dinanti Seluruh Dunia, Bagaimana Bila Dialog Trump-Xi Buntu?Foto: Infografis/Indonesia Tak Dapat Durian Runtuh Perang Dagang/Edward Ricardo

Trump dan Xi akan bertatap muka di sela-sela pertemuan G20 di Osaka, Jepang. Ketegangan antara kedua negara meningkat bulan lalu setelah AS dan China kembali saling menaikkan bea impor terhadap berbagai produk setelah perundingan mereka menemui jalan buntu.

Sebuah survey terhadap investor yang dilakukan Bank of America Merrill Lynch menunjukkan bahwa sekitar dua per tiga responden memperkirakan tidak ada perjanjian yang diteken akhir pekan ini, namun mereka juga memprediksi tidak akan ada bea impor baru yang dijatuhkan kedua negara.



Sejumlah kecil pelaku pasar memperkirakan pertemuan itu akan gagal sepenuhnya. Beberapa ekonom UBS mengatakan bila hal itu yang terjadi dan perang dagang kembali memanas yang ditandai dengan pengenaan bea masuk baru, dunia akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi sebagaimana yang terjadi di masa resesi.

"(Jika perang dagang memanas) kami memperkirakan pertumbuhan global akan menjadi 75 basis poin lebih rendah dalam enam kuartal ke depan - seukuran dengan krisis di zona euro, anjloknya harga minyak pada pertengahan 1980an, dan krisis 'Tequila' di 1990an," tulis kepala riset ekonomi global UBS Arend Kapteyn dalam sebuah catatan riset.

Peter Boockvar, chief investment strategist di Bleakly Advisory Group, bahkan memperkirakan ekonomi dunia berpotensi jatuh ke dalam resesi bila dua negara dengan perekonomian terbesar di planet Bumi itu terus berseteru.



"Peluang bahwa kita akan mengalami resesi global akan meningkat bila tidak ada penurunan ketegangan antara AS dan China," ujarnya, dilansir dari CNBC International.

"Terkait G20, saya tidak merasa akan ada sesuatu yang negatif, dan ini sepertinya akan menjadi sebuah momen 'kumbaya'," lanjutnya. Momen kumbaya adalah sebuah sikap yang menunjukkan persahabatan antara dua pihak yang tengah bermusuhan.


Saksikan video permintaan China jelang pertemuan Trump-Xi berikut ini.

[Gambas:Video CNBC]

(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading