Tentukan Arah Pasar Dunia, Ini 3 Skenario Hasil Nego Trump-Xi

News - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
25 June 2019 11:27
Tentukan Arah Pasar Dunia, Ini 3 Skenario Hasil Nego Trump-Xi
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akan bertemu di sela-sela pertemuan G20 pekan ini di Jepang dan taruhannya untuk Wall Street cukup tinggi.

Kedua pemimpin diharapkan akan membahas perang dagang yang sedang berlangsung di antara mereka.

Pembicaraan tentang kemungkinan tercapainya kesepakatan perdagangan meredup kembali pada Mei setelah Trump menaikkan bea impor terhadap berbagai barang China senilai US$200 miliar menjadi 25% dari 10%. China membalas dengan mengenakan bea masuk yang lebih tinggi juga. Selain itu, Trump juga menggagas pengenaan tarif impor baru terhadap produk China lainnya senilai US$300 miliar.


Ahli strategi Evercore ISI Donald Straszheim mengatakan ada tiga kemungkinan hasil pembicaraan Trump-Xi, yaitu pertama, AS setuju untuk menunda pengenaan tarif impor tambahan pada barang-barang China dalam waktu yang tidak terbatas.



Kedua, AS menunda pungutan tambahan untuk jangka waktu tertentu.

Ketiga, AS tidak membahas mengenai bea impor tambahan dalam pernyataan pasca-pertemuannya, yang akan memberi sinyal bahwa pemerintah akan bergerak maju untuk mengenakannya segera.

Berikut adalah penjabarannya sebagaimana dilansir dari CNBC International, Selasa (25/6/2019).


Skenario 1: AS menunda kenaikan bea masuk China tanpa batas waktu dan perundingan dimulai kembali (probabilitas 45%)
Skenario yang paling mungkin dari pertemuan Trump-Xi di Jepang adalah bahwa AS setuju untuk tidak mengenakan bea impor tambahan terhadap produk China senilai US$300 miliar tanpa kerangka waktu yang konkret, kata Straszheim.

Straszheim mengatakan hasil ini memiliki kemungkinan 45% untuk terjadi dan menempati peringkat kedua yang paling menguntungkan bagi Trump, Xi, dan pasar.

Tentukan Arah Pasar Dunia, Ini 3 Skenario Hasil Nego Trump-XiFoto: Infografis/Perang Dagang/Edward Ricardo

"Ini adalah time-out yang diakui bersama. Bea impor yang lebih tinggi oleh AS tidak diterapkan mungkin untuk waktu yang singkat, mungkin untuk waktu yang lama," kata Straszheim dalam sebuah catatan riset.

"Negosiasi mungkin akan dilakukan kembali. Ini adalah ketidakpastian maksimum terkait tarif impor, dan untuk pasar, juga yang lainnya (di China, AS, dan seluruh dunia), tetapi memberikan fleksibilitas maksimum untuk Trump," tulisnya.


Skenario 2: AS menunda kenaikan tarif impor China selama beberapa hari, pembicaraan dimulai kembali (probabilitas 35%)
Skenario kedua yang paling mungkin adalah kedua belah pihak sepakat untuk memulai kembali pembicaraan perdagangan dan AS menunda pengenaan bea impor tambahan untuk waktu tertentu, kata Straszheim.

Ada kemungkinan 35% dari hasil ini terjadi dan itu akan menjadi yang paling menguntungkan bagi Xi dan pasar saham, karena akan memberi mereka waktu untuk "bernapas". Ini juga akan memberi pasar "kepastian ada lebih banyak waktu negosiasi (dan penilaian)."



Tapi yang membuat skenario ini tidak mungkin adalah hal ini akan melumpuhkan Trump dalam negosiasi di masa depan.

"Trump tidak memiliki fleksibilitas selama periode ini," kata Straszheim.

Skenario ini (bersama dengan yang pertama) kemungkinan akan menguntungkan perusahaan-perusahaan yang sangat bergantung pada perdagangan internasional, seperti perusahaan pembuat alat berat Caterpillar dan saham pembuat chip. Saham-saham ini telah berkinerja buruk di pasar baru-baru ini di tengah kekhawatiran perang dagang yang masih tersisa.

Saham Caterpillar naik sekitar 4% selama tiga bulan terakhir. Micron Technology, Nvidia, Xilinx dan Skyworks Solutions semuanya turun setidaknya 7,9%. Sementara S&P 500, naik lebih dari 5% pada periode tersebut.


Skenario 3: AS dan China tidak menyebutkan bea masuk tambahan, memberi sinyal tarif-tarif impor itu akan segera diterapkan (20% probabilitas)
Ini adalah skenario terburuk bagi Xi dan pasar karena ini merupakan pukulan besar bagi perekonomian China dan meningkatkan kekhawatiran di kalangan investor bahwa konflik perdagangan akan berlangsung lebih lama.

"Ini akan menjadi berita buruk, menunjukkan perbedaan yang semakin tajam," kata Straszheim. "Paling-paling kedua belah pihak hanya akan menjaga komunikasi (ke depannya)."

"Dalam hasil ini, bea impor AS yang baru tidak akan dimasukkan dalam pernyataan, dan menjadi sinyal bahwa AS akan menjatuhkan bea masuk terhadap barang-barang China senilai US$300 miliar," tambahnya. Straszheim memperkirakan Trump akan menaikkan bea 10% terhadap impor China dalam skenario ini.



Aset seperti emas dan surat utang pemerintah AS atau Treasury akan mendapat manfaat dari hasil ini karena pasar-pasar saham akan jatuh. Harga emas telah melesat naik akhir-akhir ini dan mencapai level tertinggi sejak 2013 pada Senin.

Investor juga telah mengalihkan asetnya ke Treasury baru-baru ini dan mendorong imbal hasil surat utang benchmark 10 tahun ke level terendah sejak 2016.

Ini adalah skenario yang paling tidak mungkin (hanya berpeluang 20%) mengingat implikasi politik dan ekonominya yang besar, kata sang ahli strategi. Namun, sekarang kemungkinan ini masih bisa menjadi kenyataan.


Saksikan video mengenai pertemuan Trump-Xi berikut ini.

[Gambas:Video CNBC]

(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading