OJK Ramal Bakal Banjir Fund Raising Pasar Modal di 2020

News - Yanurisa Ananta, CNBC Indonesia
13 June 2019 21:41
OJK Ramal Bakal Banjir Fund Raising Pasar Modal di 2020
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan tahun depan nilai penghimpunan dana (fund raising) dari pasar modal akan mulai merangkak naik. Sebab, saat ini kecenderungan imbal hasil (yield) surat utang sudah semakin menurun dibanding kondisi 2018.

"2019 dan 2020 kondisi [penghimpunan dana] sudah lebih bagus. Yield secara gradual akan turun. Mudah-mudahan yield-nya bisa turun seperti di 2017 sehingga raising fund pasar modal tidak terlalu mahal," kata Wimboh di Gedung DPR, Kamis (13/6/2019).

Wimboh menjabarkan pada tahun 2017 penghimpunan dana dari pasar modal sebesar Rp 265 triliun. Penurunan terjadi di 2018 menjadi sebesar Rp 166 triliun. Di tahun 2019 ini ditargetkan fund raising dari pasar modal sebesar Rp 180 triliun. Artinya, lebih besar dari fund raising di tahun 2018.




Namun, target-target itu cukup muluk, karena hingga Mei 2019 nilai penggalangan dana dari pasar modal Indonesia baru mencapai Rp 54,17 triliun. Angka tersebut merupakan hasil dari penerbitan obligasi, saham dan saham baru atau rights issue.

Pada tahun 2018 lalu, yield di Amerika Serikat (AS) mengalami kenaikan hingga menyentuh 3%. Sehingga Indonesia turut menyesuaikan. Dengan kecenderungn yield turun tahun ini dan tahun depan, maka fund raising pasar modal tidak akan lagi mahal seperti yang terjadi di 2018.

"Kalau kemarin [2018] memang mahal. Sehingga kemarin tidak menguntungkan bagi pengusaha untuk fund raising di pasar modal. Jadi kalau yield-nya mahal artinya dapat [untung] sedikit waktu keluarkan surat utang," jelas Wimboh.

Target penghimpunan dana dari pasar modal tahun 2020 senilai Rp 190 triliun. Wimboh mengatakan, nilai tersebut 3,2% dari kebutuhan investasi yang dipatok Kementerian Keuangan (Kemenkeu) di 2020 sebesar Rp 5.800 triliun.

Namun demikian, Wimboh menekankan penghimpunan dana ini harus terserap dengan adanya permintaan. Pengusaha juga harus antusias untuk melakukan investasi di pasar modal atau dari perbankan.



Dengan begitu, kata Wimboh, mesti ada terobosan yang dilakukan agar sektor usahanya bisa menyerap tenaga kerja, berorientasi ekspor, ramah lingkungan dan bisa memberi multiplier effect untuk tumbuhnya UMKM.

"Sehingga bisa menjawab pengangguran karena orientasi ekspor bisa menjawab kemungkinan tekanan cadangan devisa dan bisa menjawab pertumbuhan ekonomi yang lebih merata karena memberi multiplier ke UMKM," katanya.

(hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading