Sri Mulyani Disebut Menebar Hoax, Bagaimana Faktanya?

News - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
12 June 2019 15:58
Ketergantungan ekspor Indonesia terhadap komoditas mentah perlu menjadi perhatian yang serius.
Kinerja ekspor yang loyo sedikit banyak merupakan dampak dari ketergantungan Indonesia atas barang-barang mentah yang besar ketimbang barang jadi.

Hingga saat ini, komoditas minyak sawit dan batu bara masih menjadi primadona ekspor Tanah Air. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada tahun 2018 porsi kedua komoditas tersebut terhadap total ekspor non-migas hampir mencapai 30%. Porsi yang dapat mempengaruhi kinerja secara keseluruhan.

Alhasil, sat harga-harga komoditas berguguran seperti yang terjadi pada tahun 2018, kinerja perdagangan Indonesia akan mendapat tekanan hebat. Tercatat pada tahun 2018 neraca dagang RI mengalami defisit hingga US$ 8,7 miliar atau yang pailng dalam sepanjang pencatatan Badan Pusat Statistik (BPS).


Hal itu tidak terlepas dari profil industri manufaktur dalam negeri yang selalu berada dalam tekanan dalam 10 tahun terakhir.

Pada tahun 2017, porsi industri manufaktur Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sudah tinggal 20,16% saja. Sedangkan Malaysia masih lebih tinggi, yaitu 22,72%.

Padahal jika ditarik ke belakang, yaitu pada tahun 2009, industri manufaktur Indonesia bisa menyumbang 26,35% PDB, jauh lebih tinggi dibanding Malaysia yang hanya 23,8%.

Vietnam memang agaknya masih jauh tertinggal, karena porsi manufakturnya masih 15,32% PDB di tahun 2017. Akan tetapi bila dicermati, sejak tahun 2010 porsi manufaktur Vietnam sudah melesat cukup tinggi. Tampaknya memang ada usaha dari Vietnam untuk mengejar ketertinggalan di bidang industri pengolahan.



Melihat data-data tersebut, kondisi perekonomian Indonesia terindikasi merupakan yang paling rentan terhadap gejolak ekonomi global (dibanding Malaysia dan Vietnam).  Sebab, lambatnya pertumbuhan industri manufaktur dalam negeri akan membuat ketergantungan ekspor akan barang-barang mentah akan semakin tinggi.

Alhasil harga komoditas global akan semakin memainkan peran yang cukup penting. Saat harga-harga komoditas sedang anjlok seperti sekarang ini, kemungkinan kinerja ekspor Merah Putih juga akan lesu.

Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI) di tahun 2019, Indeks Harga Komoditas Ekspor Indonesia (IHKEI) akan terkontraksi sebesar 3,1 poin, lebih dalam ketimbang kontraksi tahun 2018 yang sebesar 2,8 poin.

KOMODITAS2016201720182019f2020f
Tembaga -10,527,16,7-2,41,0
Batu Bara6,848,22,5-9,8-2,0
CPO21,35,7-19,2-0,73,0
Karet -2,228,1-16,86,6-0,5
Nikel-15,48,927,8-1,72,4
Timah13,113,10,52,4-0,9
Aluminium-3,522,97,4-9,60,6
Kopi4,3-2,9-15,4-15,55,5
Lainnya1,06,81,2-0,3-0,3
IHKEI*5,421,7-2,8-3,10,1
Sumber: Bank Indonesia

TIM RISET CNBC INDONESIA
(taa/taa)
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading