Memori Jembatan Selat Sunda yang Bangkit Kembali

News - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
12 June 2019 - 08:12
Memori Jembatan Selat Sunda yang Bangkit Kembali Foto: Infografis/Jembatan Selat Sunda/Aristya Rahadian Krisabella
Jakarta, CNBC Indonesia - Wacana megaproyek Jembatan Selat Sunda (JSS) kembali mencuat setelah beberapa tahun tenggelam. Ya, RI memang pernah bercita-cita membuat Jawa dan Sumatra tersambung jembatan.

Pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sempat ada Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang memasukkan JSS dalam satu paket pembangunan koridor di Sumatra.

Namun, pada awal 2016 lalu pemerintahan Jokowi menunda proyek JSS. Ekonom Faisal Basri secara tegas berpendapat proyek jalan tol Trans-Sumatra sepanjang lebih dari 2.000 km pada dasarnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proyek JSS.


Faisal sempat menganggap pemerintah sesat pikir bila menunda atau membatalkan JSS tapi malah membangun jalan tol Trans-Sumatra. Namun, saat itu jalan tol Trans-Sumatra belum terbangun, dan jalan tol Trans Jawa belum tersambung penuh, yang terjadi kini sebaliknya.



Asal mula bangkitnya memori JSS berawal dari usul pengusaha di bawah Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) yang meminta Jokowi mempertimbangkan kembali wacana pembangunan jembatan tersebut.

Alasan mereka memang cukup relevan dengan kondisi infrastruktur terkini. Rampungnya Jalan Tol Bakauheni-Palembang yang merupakan bagian dari Jalan Tol Trans Sumatra membuat pasokan arus barang dan orang ke penyeberangan Merak-Bakauheni diproyeksikan akan meningkat pesat pada masa mendatang. Kondisi itu bila tak diantisipasi sejak dini maka bakal jadi persoalan baru.



"Mudik tahun ini, ruas tol ini semakin padat. Sebab waktu tempuh semakin singkat Jakarta-Palembang. Tapi masalahnya, ke depan di penyeberangan Merak-Bakauheni," ujar Sekjen Gapensi Andi Rukman Karumpa kepada CNBC Indonesia, Senin (10/6/2019).

Andi mengusulkan agar pemerintah menggulirkan kembali wacana membangun JSS. Cara berpikir Andi cukup sederhana, bila ruas tol Bakauheni-Palembang sukses menggerakkan roda perekonomian di Sumatra, maka geliat ekonomi bakal pesat. Sehingga, ada risiko arus kendaraan dan barang Jawa-Sumatra akan semakin padat. Ujung-ujungnya akan terjadi antrean panjang pada penyeberangan antara Jawa dan Sumatra.

Memori Jembatan Selat Sunda yang Bangkit KembaliFoto: Infografis/Jembatan Selat Sunda/Aristya Rahadian Krisabella

"Tentu beban dari angkutan penyeberangan akan meningkat tajam," katanya.

Keberadaan JSS jadi keniscayaan di masa mendatang, dengan segala risiko teknis seperti gempa dan letusan gunung api. Namun, gagasan ini jauh dari harapan karena sejak awal proyek ini padat modal dengan taksiran investasi Rp 100 triliun, sehingga sulit direalisasikan.

Direktur Jembatan Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Iwan Zakarsi mengatakan modal yang diperlukan itu sangat besar dan tantangan konstruksi butuh teknologi tinggi karena ada palung laut di lintasan jembatan.

"Jadi, itu secara konstruksi masih sulit. Jadi kita tunggu perkembangan teknologinya yang memungkinkan," kata Iwan kepada CNBC Indonesia, Selasa (11/6/2019).



Iwan mengakui secara manfaat, keberadaan JSS memang sangat dibutuhkan apalagi di Jawa sudah tersambung dengan tol Trans Jawa dan sebagian di Sumatra ada Tol Trans Sumatra dari Bakauheni-Palembang.

"Kalau melihat manfaatnya ya ada. Karena begitu tersambung tolnya itu kan volume lalu lintas mulai menambah," pungkasnya. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading