Mari Intip Tambang-tambang Raksasa di Indonesia

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
07 June 2019 11:09
Mari Intip Tambang-tambang Raksasa di Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Kekayaan sumber daya alam Indonesia memang tidak diragukan lagi. Tak heran banyak perusahaan tambang global Indonesia untuk mencari hasil tambang.

Lalu, apa saja tambang terbesar yang ada di Indonesia?

1. Tambang Batu Bara
Berlokasi di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, terdapat tambang batu bara bernama Kaltim Prima Coal (KPC) yang membentang seluas 84.938 hektar dan berdiri sejak 1982. Pada 2003, tambang ini diambil alih kepemilikannya oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebanyak 100%.


Saat ini, kepemilikan BUMI di KPC 51%, sebanyak 30% dimiliki oleh Tata Power asal India, dan 19% dimiliki oleh China Investment Cooperation (CIC). KPC merupakan perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia. Lokasinya di Sangatta dan Bengalon.

Tahun lalu produksi batu bara KPC sekitar 58 juta ton. Di tahun ini, produksi akan ditingkatkan menjadi sekitar 60-62 juta ton.
Mengintip Tambang-Tambang Raksasa di IndonesiaFoto: Wahyu Daniel

Di 2018, KPC merajai produksi batu bara secara nasional. Dengan produksi sekitar 58 juta ton, KPC menyumbang sekitar 11% dari produksi batu bara nasional yang pada tahun lalu mencapai 528 juta ton.

Direktur Independen BUMI Dileep Srivastava, mengatakan tahun lalu KPC menyumbang pajak dan royalti ke negara hingga US$ 1,5 miliar.

Jumlah sumber daya batu bara KPC mencapai 7,055 miliar ton dengan cadangan 1,178 miliar ton. Dari cadangan tersebut, sebanyak 948 juta ton di Sangatta dan 230 juta ton di Bengalon.
Mengintip Tambang-Tambang Raksasa di IndonesiaFoto: Wahyu Daniel

Tambang raksasa batu bara ini juga memiliki pelabuhan sendiri untuk mengirimkan batu bara langsung ke para pembelinya. Untuk listrik, tambang KPC di Sangatta memiliki pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 3x18 MW dan 2x5 MW.

PLTU ini sebanyak 18 MW diberikan KPC kepada PLN untuk melistriki warga di Sangatta. Pembangkit ini juga menggerakkan conveyor yang berfungsi mengirim batu bara dari tempat pengolahan batu bara mentah menuju ke pelabuhan.

2. Tambang Migas
Selain tambang batu bara, Indonesia juga memiliki sumber daya migas besar. Hal ini dibuktikan dengan adanya blok Rokan yang merupakan blok migas raksasa di Indonesia, yang sampai 30 April 2019 tercatat, produksi minyak dan kondensatnya mencapai 196,5 ribu barel per hari.

Selain blok Rokan, kini ada juga blok Cepu yang realisasi produksinya sampai 30 April 2019 mencapai 219,7 ribu barel per hari.

Operator untuk blok Rokan kini masih dipegang oleh Chevron Pacific Indonesia (CPI) sampai nanti 2021 ketika kontraknya habis, dan kemudian beralih untuk dikelola oleh PT Pertamina (Persero).
Mengintip Tambang-Tambang Raksasa di IndonesiaFoto: detikFinance/Muhammad Idris

Sementara untuk blok Cepu, operatornya saat ini adalah ExxonMobil Cepu.

Adapun, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menobatkan produksi dan lifting minyak Blok Cepu menjadi jawara, menyalip kejayaan produksi blok Rokan yang bisa bertahan selama berpuluh-puluh tahun.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto membeberkan alasannya. Menurut Dwi, pihaknya melihat hal tersebut sebagai hal yang lumrah. Pasalnya memang saat ini produksi di Blok Rokan trennya sedang mengalami penurunan.

Mengintip Tambang-Tambang Raksasa di IndonesiaFoto: aristya rahadian krisabella


3. Tambang emas dan tembaga
Jawara tambang emas dan tembaga di Indonesia siapa lagi kalau bukan Tambang Grassberg di Papua milik PT Freeport Indonesia (PTFI). Pada Desember 2018 lalu, negosiasi divestasi saham PTFI akhirnya berhasil dilakukan, dan kini Indonesia memiliki 51% saham perusahaan tersebut.

Dalam media sosial Instagram miliknya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menuliskan, tambang Grasberg adalah tambang emas terbesar di dunia dan tambang tembaga ketiga terbesar di dunia.
Mengintip Tambang-Tambang Raksasa di IndonesiaFoto: Suasana penambangan Grasberg Freeport. (Dok. PT Freeport Indonesia)

Biaya membangun tambang di atas gunung sebesar US$ 3 miliar. Pada 2004, tambang ini diperkirakan memiliki cadangan 46 juta ounce emas. Pada 2006 produksinya adalah 610.800 ton tembaga, 58.474.392 gram emas, dan 174.458.971 gram perak.

Tambang Grasberg sendiri ditemukan setelah tambang Estberg. Semestinya, Freeport baru perpanjang kontrak mereka pada 1997, namun karena tambang Grasberg ditemukan mereka meminta agar perpanjangan dilakukan lebih cepat. Yakni, pada 1991. Ini dilakukan karena saking besarnya potensi cadangan di tambang ini.

Distrik Grasberg sendiri memiliki tiga tambang yakni tambang terbuka (open pit) Grasberg, tambang bawah tanah (underground) Deep Ore Zone, dan tambang bawah tanah Big Gossan. Lalu pada September 2015, PT Freeport Indonesia menginisiasi produk pra-komersial tambang bawah tanah Deep Mill Level Zone.
Mengintip Tambang-Tambang Raksasa di IndonesiaFoto: Suasana penambangan Grasberg Freeport. (Dok. PT Freeport Indonesia)

Satu hal yang membuat Freeport Mc Moran AS "tergila-gila" dengan tambang Grasberg adalah emas. Tambang Grasberg menyimpan 23,2 juta ounce cadangan emas per 31 Desember 2017, jauh lebih melimpah dari cadangan emas di Amerika Utara yang hanya 0,3 juta ounce.

Bahkan, tidak hanya di Indonesia, Tambang Grassberg ini juga merupakan salah satu tambang dengan cadangan emas terbesar di DUNIA!



(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading