Korban Tewas Bom Sri Lanka Bertambah Jadi 359 Orang

News - Wangi Sinintya, CNBC Indonesia
24 April 2019 13:56
Korban Tewas Bom Sri Lanka Bertambah Jadi 359 Orang
Jakarta, CNBC Indonesia - Pada Rabu (24/04/2019), polisi Sri Lanka telah menahan 18 orang lagi untuk diinterogasi, atas serangan bom di Minggu Paskah terhadap gereja dan hotel, yang diklaim dilakukan oleh kelompok Negara Islam. Akibat serangan itu, jumlah korban tewas bertambah menjadi 359 orang.

Kelompok Negara Islam ekstrem (ISIS) itu mengklaim setelah pejabat Sri Lanka mengatakan, bom bunuh diri di Sri Lanka dilakukan sebagai pembalasan atas serangan terhadap dua masjid di Selandia Baru yang menewaskan 50 orang pada Maret.

Juru bicara kepolisian, Ruwan Gunasekera, mengatakan jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 359 orang dari 321 orang, dengan sekitar 500 orang lainnya terluka.


ISIS mengatakan melalui kantor berita AMAQ, serangan di Sri Lanka dilakukan oleh tujuh penyerang tetapi tidak memberikan bukti pertanggungjawaban untuk mendukung klaimnya. Jika benar, itu akan menjadi salah satu serangan terburuk yang dilakukan oleh kelompok di luar Irak dan Suriah.

Menteri junior untuk Pertahanan, Ruwan Wijewardene mengatakan kepada parlemen, dua kelompok Islam Sri Lanka (Jamaah Thawheed Nasional dan Jammiyathul Millathu Ibrahim) bertanggung jawab atas ledakan itu, yang terjadi selama kebaktian Paskah dan ketika hotel sedang waktu sarapan.



Polisi terus menggeledah rumah di sekitar pulau Samudra Hindia itu semalaman, yang mengarah ke penahanan 18 orang lainnya. Total jumlah orang yang dibawa untuk diinterogasi mendekati 60 orang, termasuk satu orang Suriah.

Sidak tersebut meliputi daerah-daerah dekat gereja St Sebastian bergaya Gotik di Negombo, utara ibu kota, tempat sejumlah orang tewas pada hari Minggu, kata seorang juru bicara kepolisian. Sejumlah orang ditahan di Sri Lanka barat, tempat kerusuhan Muslim terjadi pada 2014.

"Operasi pencarian sedang terjadi di mana-mana, ada pengecekan ketat di wilayah Muslim," kata sumber keamanan, seperti dilansir dari Reuters.

Pemboman di Minggu Paskah menghancurkan ketenangan yang telah ada di Sri Lanka, yang mayoritas beragama Buddha, sejak perang saudara melawan sebagian besar Hindu, etnis separatis Tamil berakhir 10 tahun yang lalu. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan kembalinya kekerasan sektarian.

Sebanyak 22 juta orang di Sri Lanka adalah termasuk Kristen minoritas, Muslim, dan Hindu. Sampai sekarang, orang-orang Kristen sebagian besar telah berhasil menghindari konflik terburuk dan ketegangan komunal di pulau itu.

Serangan-serangan itu telah diramalkan terjadi oleh pasukan keamanan Sri Lanka, dengan Presiden Maithripala Sirisena mengatakan bahwa ia berencana mengubah beberapa kepala pertahanannya setelah dikritik bahwa peringatan intelijen tentang serangan Paskah diabaikan.

Tiga sumber mengatakan kepada Reuters, pejabat intelijen Sri Lanka telah diperingatkan oleh India beberapa jam sebelum ledakan bahwa serangan oleh kelompok Islam sudah dekat. Tidak jelas tindakan apa (jika ada) yang akan diambil.

Kebanyakan dari mereka yang terbunuh dan terluka adalah orang-orang Sri Lanka, meskipun pejabat pemerintah mengatakan 38 orang asing juga terbunuh. Itu termasuk warga negara Inggris, AS, Australia, Turki, India, China, Denmark, Belanda, dan Portugis.

UN Children's Fund mengatakan ada 45 anak-anak termasuk di antara yang tewas.

Menteri junior untuk pertahanan, Wijewardene, mengatakan para penyelidik percaya balas dendam atas serangan masjid 15 Maret di kota Selandia Baru Christchurch adalah motifnya, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut. Serangan saat salat Jumat di Christchurch dilakukan oleh seorang pria bersenjata.

Pemerintah Sri Lanka telah memberlakukan undang-undang darurat dan jam malam, juga telah memblokir layanan pesan online untuk menghentikan penyebaran desas-desus yang merebak yang dikhawatirkan dapat memicu bentrokan komunal. Biro Investigasi Federal (FBI) AS juga membantu penyelidikan ini. (wed/wed)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading