Karut Marut Pilpres RI 2019 di Luar Negeri, Salah Siapa?

News - Herdaru Purnomo, CNBC Indonesia
15 April 2019 11:01
Karut Marut Pilpres RI 2019 di Luar Negeri, Salah Siapa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Antrean terlihat mengular layaknya masyarakat yang menunggu giliran mendapatkan sembako gratis. Kala itu Den Haag bersuhu kurang lebih 4 derajat.

Ternyata bukan antre sembako, Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada di Belanda berduyun-duyun mendatangi 'Sekolah Indonesia di Nederland' (sebuah sekolah milik tanah air yang ada di Den Haag). Mereka mengantre untuk ikut meramaikan pesta demokrasi.

Uci (33) bersama kedua anak dan suaminya menjadi saksi pesta demokrasi di Belanda yang penuh dengan perjuangan. Di tengah suhu yang menusuk tulang, hingga rintiknya hujan salju ia berhasil memutuskan pilihannya setelah bersabar hingga 3,5 jam.


"WNI di Belanda memiliki dua opsi dalam pemilu. Pilihan pertama mencoblos melalui pos di mana surat dikirim ke rumah dan dikirim balik oleh sang pemilih. Pilihan kedua langsung ke TPS di mana dipusatkan di Sekolah Indonesia Den Haag," kata Uci.

Carut Marut Pilpres 2019 RI di Luar Negeri, Salah Siapa?Foto: Pemilu 2019 RI di Den Haag (Ist)


Uci untuk pertama kalinya bangga bisa mencoblos pilihannya. Memilih presiden dan calonnya yang akan duduk di kursi legislatif. Berjarak 14.000 km lebih dari tanah air, Uci dan kedua anak serta suaminya menjadi saksi sejarah di mana pemilihan umum di luar tak semudah mencoblos di dalam negeri.

Hal yang sama terjadi kepada Ariningsun Cinantya. Ia tak dapat menyembunyikan rasa kecewanya setelah gagal ikut serta dalam pemilihan umum (pemilu) luar negeri di Sydney, Australia, Sabtu (13/4/2019).

Padahal, pemilu ini bukanlah kali pertama ia menyalurkan suaranya di luar negeri. Di tahun 2014, ia berkesempatan mencoblos di Singapura dan saat itu semuanya berjalan lancar.

"Tapi di Sydney itu menurut saya agak chaos, ya," tuturnya kepada CNBC Indonesia melalui pesan singkat, Minggu (14/4/2019).


Ia merasa panitia di lapangan kurang siap untuk mengatur proses pemungutan suara tersebut.

Carut Marut Pilpres 2019 RI di Luar Negeri, Salah Siapa?Foto: Suasana debat kelima Capres dan Cawapres Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)


Pemilu luar negeri di Sydney memang diadakan di beberapa lokasi yang berjauhan, seperti Townhall, Konsulat Jenderal RI di Maroubra, dan Marrickville, karena luas kota tersebut yang cukup besar.

Keluhan-keluhan lain dicurahkan WNI di akun media sosialnya. WNI di Singapura, Anastasia Ratna juga mengantre sekitar satu jam hingga akhirnya bisa mencoblos. Antrean WNI yang hendak nyoblos mengular hingga ke pinggir jalan di luar KBRI Singapura.

CNN Indonesia memberitakan, di Hong Kong, WNI juga harus mengantre hingga 3 jam dalam proses pencoblosannya.

Carut Marut Pilpres 2019 RI di Luar Negeri, Salah Siapa?Foto: Foto/Suasana Pemilu di Manila/Dok. PPLN Manila


Jawaban KPU

Sebanyak 2 juta lebih atau tepatnya 2.058.191 pemilih berpartisipasi di luar negeri. Jumlah pemilih terbanyak ada di Malaysia di mana mencapai 985.216 orang. Kemudian disusul China mencapai 465.032.

Adapun anggaran KPU di 2019 mencapai Rp 18,1 triliun. Dana logistik bisa mencapai Rp 16,6 triliun. Sedangkan untuk dana Pedoman Petunjuk Teknis Bimbingan Supervisi Publikasi Sosialisasi Penyelenggaraan Pemilu dan Pendidikan itu jumlahnya hanya Rp 2,5 triliun.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjelaskan alasan banyak Warga Negara Indonesia (WNI) yang terpaksa mengantre berjam-jam sebelum dapat menggunakan hak suaranya dalam pemilu luar negeri akhir pekan ini.

"Dugaan sementara, antrean itu kategori Daftar Pemilih Khusus (DPK), yakni pemilih yang tidak masuk DPT/DPTb, dan baru sadar belakangan untuk ikut milih (bukan lapor saat masih proses pendataan)," ujar Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi, Minggu (14/4/2019), sebagaimana dikutip dari detikcom.

"Putusan MK (Mahkamah Konstitusi) bilang mereka bisa nyoblos di satu jam terakhir," tambahnya.

Selain itu, bisa tidaknya pemilih tambahan itu mencoblos juga tergantung pada ketersediaan surat suara.

Terkait persoalan antrean, khususnya di Melbourne dan Sydney, Pramono mengatakan membludaknya Daftar Pemilih Khusus (DPK) di Melbourne masih bisa ditangani karena masih tersedianya surat suara. Sedangkan TPS di Sydney, dijelaskan Pramono, ditutup karena masa sewanya sudah habis.

"Info sementara, di Melbourne pemilih DPT yang datang ke TPS hanya 40%. Jadi membludaknya pemilih DPK masih terfasilitasi dengan surat suara yang tersedia (60% plus cadangan). Kalau di Sydney, TPS luar negeri ditutup karena tempatnya menyewa, dan sudah habis jam sewanya," ujar Pramono.

Untuk diketahui, WNI di luar negeri lebih dulu menggunakan hak pilihnya pada tanggal 8 hingga 14 April 2019. Nantinya, surat suara akan dihitung pada tanggal 17 April 2019.










(miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading