Nasib Batu Bara RI Suram di Kuartal I, Bisa Sentuh US$ 60?

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
05 April 2019 17:04
Nasib Batu Bara RI Suram di Kuartal I, Bisa Sentuh US$ 60?
Jakarta, CNBC Indonesia- Nasib komoditas batu bara kini tengah terluntang-lantung. Sudah tiga bulan pertama sejak 2019, harga si emas hitam ini terus mengalami penurunan, dari yang tadinya berjaya di US$ 100 per ton, kini harus rela tergerus ke level US$ 88,85 per ton.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis angka terbaru untuk Harga Batu bara Acuan (HBA) untuk periode April 2019 yakni di level US$ 88,85 per ton. Level HBA pada April ini masih di tren rendah, melanjutkan tren penurunan sejak beberapa bulan terakhir di tahun ini. Pada Januari lalu HBA di level US$ 92,41 per ton, lalu Februari US$ 91,80/ton, dan Maret US$ 90,57/ton.




Lalu bagaimana nasib harga batu bara ke depannya?

Ketua Indonesia Mining Institute (IMI) Irwandy Arif menuturkan, memang ada kecendrungan harga batu bara menurun di kuartal I 2019, namun, ia menilai hal tersebut merupakan siklus harga batubara yang masih biasa. 

"Saya masih optimistis harga batu bara ke depan rata-rata bisa sekitar US$ 60-80 per ton. Prediksi harga ini tentunya pandangan yang cukup konvensional, bisa saja harga ini lebih dari US$ 80 per ton," ujar Irwandy kepada CNBC Indonesia, Jumat (5/4/2019).

Alasannya, lanjut Irwandy, sangat sederhana. Selama pembangunan PLTU batu bara di Asia masih berlanjut, dan kebutuhan batu bara Asia sangat mempengaruhi permintaan batubara dari Indonesia, maka potensi harga rebound masih ada.

Adapun, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menuturkan, ke depannya, tren harga batu bara dinilai masih akan berpotensi menunjukkan pelemahan jika melihat kondisi global dan juga pasar China yang masih diliputi ketidakpastian.

"Volatilitasnya masih tinggi dan tidak bisa diprediksi. Bisa saja nanti menguat, tetapi bisa juga menukik," ujar Hendra kepada CNBC Indonesia saat dihubungi Jumat (5/4/2019).

Hendra mengakui, memang saat ini adalah masa yang cukup menantang bagi batu bara, di tengah volatilitas harga komoditas. Sehingga, permintaan untuk batu bara memang sedang melemah, dan membuat harga si emas hitam ini turun.

"Faktor pembentukan harga banyak indikatornya, yang jelas memang permintaan di tahun ini cenderung masih stagnan tidak lebih baik dari tahun lalu. Apalagi, ekonomi kedua negara utama impor batu bara sedang melemah," pungkasnya.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (Biro KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi menjelaskan, berdasarkan kondisi pasar global, penyebab penurunan HBA pada April 2019 dipengaruhi oleh adanya pembatasan impor batu bara oleh India, pasalnya beberapa pabrik keramik di Negeri Anak Benua tersebut ada yang ditutup sementara disebabkan masalah lingkungan.

Selain itu, berkurangnya pasokan batu bara Australia ke China membuat Negeri Tirai Bambu tersebut memperbanyak produksi batu bara untuk memenuhi kebutuhan domestik.

"Permintaan Rusia untuk memasok batu bara ke negara Eropa pun menurun, menyebabkan banyak batu bara Rusia yang dijual ke negara lain seperti Jepang dan Korea," jelas Agung.

Hal itu membuat berkurangnya pasokan batu bara Indonesia ke negara Jepang dan Korea.

[Gambas:Video CNBC] (gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading