4 Isu Ini Bakal Dinanti Pelaku Usaha di Debat Pilpres Ke-4

News - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
30 March 2019 18:55
4 Isu Ini Bakal Dinanti Pelaku Usaha di Debat Pilpres Ke-4
Jakarta, CNBC Indonesia - Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Sabtu (30/3/2019) malam ini menggelar debat calon presiden (capres) putaran keempat dengan tema "Ideologi, Pemerintahan, Pertahanan dan Keamanan, serta Hubungan Internasional".

Apa saja isu-isu terkait topik tersebut yang berpeluang besar diperhatikan dan dipantau oleh pelaku usaha serta investor karena relevan dengan bisnis mereka? Berikut ini rangkuman Tim Riset CNBC Indonesia:

Tema pertama yang paling hangat dan relevan terutama adalah minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya, yang saat ini sedang menghadapi tantangan di tingkat global.


Baru-baru ini, Parlemen Uni Eropa menyatakan bahwa CPO Indonesia terkategori merusak hutan hujan tropis, sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai bahan bakar nabati (BBN) ramah lingkungan (green energy). Padahal, Uni Eropa adalah pasar terbesar keempat bagi CPO kita.

Sebelumnya, India juga telah "ngerjain" produk sawit Indonesia dengan menaikkan bea masuk. Kebijakan ini direvisi setelah diprotes oleh pemerintah Indonesia, tetapi dengan besaran revisi yang diskriminatif dibandingkan yang dikenakan bagi CPO Malaysia.

Bagaimana pendekatan yang akan diambil oleh kedua calon presiden tersebut dengan menggunakan kaca-mata hubungan internasional? Apakah retaliasi seperti yang diserukan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B. Panjaitan akan didukung kubu 02?

Tema kedua adalah revitalisasi industri pertahanan dan industri baja. Sebagaimana diketahui,  industri baja adalah the mother of industry, alias induknya industri lain. Ketika industri pertahanan dikembangkan, maka kebutuhan baja akan meningkat dan menempatkan industri baja ke titik penting untuk bisa memasok baja dalam skala masif.

Dalam buku berjudul The Defense Industry (1982), J.S. Gansler menilai industri pertahanan bisa menjadi lokomotif terhadap industri lainnya.Tingginya intensitas riset berujung pada inovasi yang pada titik tertentu bisa diaplikasikan juga di sektor industri swasta atau sipil.

Hal yang sama juga dikemukakan R.A. Bitzinger dalam bukunya berjudul Defense industries in Asia and The Technonationalist Impulse (2015). Bitzinger bahkan menilai bahwa industri pertahanan tidak hanya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, tapi juga memodernisasinya.

Tidak heran, negara yang maju industri pertahanannnya juga maju dari sisi ekonomi.



Tema ketiga adalah adalah stabilitas keamanan dan penanganan terorisme. Sebagaimana diketahui, terorisme, terutama yang berkedok agama, masih menjadi ancaman serius bagi negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia ini.

Bagi investor global, aksi terorisme menciptakan ketidakstabilan dan menambah risiko terhadap kelangsungan bisnis mereka, termasuk di antaranya menaikkan premi asuransi risiko gagal bayar (credit default swap/CDS) yang harus dibayar oleh investor pemegang surat berharga di pasar modal Indonesia.

Sikap dan kebijakan strategis yang tegas dan efisien diperlukan untuk meredam aksi terorisme ini sehingga bakal diperhatikan oleh para investor. Apakah petahana akan memperkuat penanganan terorisme seperti yang sekarang sudah dijalankan, ataukah penantang memiliki kebijakan lain yang lebih strategis.

Tema keempat yang cenderung ditunggu adalah soal Laut China Selatan. Ketegangan di Kawasan ini bukanlah semata faktor geopolitik dan batas negara, melainkan sumber daya. Kawasan yang diklaim China tersebut sempat memasukkan perairan Natuna yang merupakan wilayah Indonesia dan mengandung cadangan gas besar.

Saat ini, Satuan Kerja (SKK) Migas telah menunjuk Kontraktor Kerja Sama (KKS) premier Oil Natuna Sa BV untuk mengembangkan tiga lapangan gas, yakni Lapangan Bison, Iguana, dan Gajah Puteri (BIGP), di Laut Natuna, Kepulauan Anambas.

Di sisi lain, ketegangan Laut China Selatan agak mereda setelah pada Mei 2017 China dan Asean menyepakati code of conduct (CoC), sebagai pedoman negara-negara di kawasan dalam menyikapi sengketa di perairan tesebut agar tidak berujung pada konflik militer.

Di luar keempat tema itu, tentu saja masih banyak topik lain yang juga penting untuk diperhatikan, seperti misalnya keberpihakan terhadap Palestina serta profesionalitas Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian RI (Polri).

Hanya saja, tema itu merupakan isu sampingan bagi para pengambil kebijakan di bidang ekonomi dan bisnis. Diperhatikan, tetapi tidak banyak memengaruhi gambaran perkembangan industri dan bisnis di Indonesia.

Apakah keempat tema yang terkait dengan ekonomi-bisnis tersebut akan diangkat, atau sebaliknya dikesampingkan, demi memprioritaskan retorika politik pada agenda politik dan nasional? Kita lihat saja...

TIM RISET CNBC INDONESIA


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading