FAA: Boeing Seri 737 MAX Dilarang Terbang Hingga Mei

News - Wangi Sinintia Mangkuto, CNBC Indonesia
15 March 2019 10:33
FAA: Boeing Seri 737 MAX Dilarang Terbang Hingga Mei
Jakarta, CNBC Indonesia - Administrasi Penerbangan Federal (Federal Aviation Administration/FAA) Amerika Serikat (AS) melarang seluruh pesawat Boeing 737 Max 8 dan 9 sampai Mei setelah kecelakaan fatal Ethiopian Airlines pada Minggu 10 Maret 2019.

Semua pesawat produksi Boeing tersebut tidak akan diperbolehkan terbang sampai pembaruan perangkat lunak dapat diuji dan diinstal, kata regulator AS.

Kecelakaan Ethiopian Airline pada Minggu, tak lama setelah lepas landas dari Addis Ababa, menewaskan 157 orang dari 35 negara. Itu adalah kecelakaan kedua yang melibatkan 737 Max dalam kurun waktu enam bulan, setelah sebelumnya pesawat Lion Air mengalami hal yang sama pada Oktober silam.

Beberapa pihak sudah menyatakan kecurigaan adanya kesamaan antara insiden tersebut, dengan mengutip beberapa mengutip data satelit dan bukti dari lokasi kecelakaan menunjukkan hubungan antara kecelakaan pada Minggu dan kecelakaan Oktober di pesawat Lion Air di Indonesia yang menewaskan 189 orang.


Perwakilan AS Rick Larsen mengatakan upgrade perangkat lunak akan memakan waktu beberapa minggu untuk selesai, dan menginstalnya di semua pesawat akan memakan waktu "setidaknya hingga April".

FAA mengatakan bahwa perbaikan perangkat lunak untuk 737 Max telah dikerjakan Boeing sejak Lion Air jatuh, dan akan memakan waktu berbulan-bulan untuk diselesaikan.

Sementara itu, penyelidik di Prancis mengambil alih kotak hitam pesawat Ethiopian Airlines yang jatuh, berusaha mengungkap apa yang menyebabkan kecelakaan Boeing 737 Max.

Biro Penyelidikan dan Analisis untuk Keselamatan Penerbangan Sipil (BEA) menerima data penerbangan dan perekam suara kokpit pada Kamis.

Pembacaan pertama bisa memakan waktu berhari-hari, tetapi tergantung pada kondisi kotak.

Regulator di seluruh dunia terus menangguhkan pesawat Boeing.

Pada Kamis, Rusia, Jepang dan Tunisia melarang pesawat tersebut dari wilayah udara mereka. Pada Rabu malam, FAA mengatakan kepada maskapai penerbangan negara itu untuk menangguhkan armada mereka, tetapi dikritik karena tidak melakukannya lebih cepat.

Kemungkinan kesamaan antara kecelakaan itu, dengan fokus pada sistem anti-stall pesawat, telah mengejutkan industri penerbangan dan menimbulkan pertanyaan atas desakan Boeing, dan FAA, yang mengatakan Max 737 aman untuk terbang.

Selain pesawat Max yang beroperasi, sekitar 5.000 lainnya dipesan dari maskapai. Garuda Indonesia mengatakan ada kemungkinan akan membatalkan 20 pesanan pesawat Max, tergantung pada apa yang dilakukan FAA.

Seorang juru bicara BEA mengatakan dia tidak tahu dalam kondisi apa kotak hitam itu. "Pertama kita akan mencoba membaca data," kata jurubicara itu, sembari menambahkan bahwa analisis pertama bisa memakan waktu antara setengah hari dan beberapa hari.

Ada laporan, termasuk oleh Reuters, bahwa ada pergolakan di mana otoritas keselamatan akan memimpin dalam memeriksa kotak hitam.

Laporan-laporan mengatakan Jerman pada awalnya diminta untuk melakukan analisis, karena Ethiopian Airlines tidak senang dengan cara organisasi di Paris yang saat itu menyelidiki kecelakaan di Lebanon pada 2010.

Inggris dan AS sama-sama memiliki agen investigasi kecelakaan yang sangat dihormati. (hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading