Refleksi

Akar Aneka Defisit Negeri Ini: Spesialisasi Setengah Hati!

News - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
26 February 2019 22:20
Akar Aneka Defisit Negeri Ini: Spesialisasi Setengah Hati!
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia memang belum menyandang predikat sebagai negara maju. Namun, namanya masuk di jajaran negara G-20 menyusul potensinya yang besar, dengan pasar dan ukuran ekonomi yang unggulan di kawasan Asia Tenggara.

Tidak percaya? Silahkan cek dari sisi populasi, di mana negeri ini memiliki 260 juta penduduk yang bergerak melakukan aktivitas ekonomi. Dari sisi produk domestik bruto (PDB), Indonesia juga sudah menembus angka keramat US$1.000 miliar (Rp 14.500 triliun). Dari sisi wilayah? Jangan tanya. Kita masih lebih unggul.


Namun di tengah besarnya potensi tersebut, Indonesia dalam 4 tahun terakhir justru membukukan aneka defisit. Berawal dari defisit sehat di neraca anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), defisit perdagangan, hingga defisit neraca transaksi berjalan (current account).


Indonesia memikul defisit anggaran selepas runtuhnya rezim Orde Baru-yang merupakan penganut garis keras fiskal berimbang sehingga "mengharamkan" defisit. Defisit APBN bukanlah sebuah petaka karena negara emerging market memang perlu suntikan penerimaan di struktur anggarannya guna memutar roda ekonomi lebih cepat.

Seiring dengan aktivitas ekonomi, ternyata sektor riil bertumbuh dengan proporsi asing yang lebih besar daripada lokal baik dalam bentuk barang dan jasa. Dari sisi barang, impor tumbuh makin cepat, mengalahkan ekspor, sehingga berujung defisit perdagangan. Terbaru pada Januari, negeri ini membukukan defisit perdagangan US$1,16 miliar.

Dalam skala lebih besar, kondisi defisit tersebut menular hingga berujung pada defisit neraca transaksi berjalan (current account/CA). Begitu seringnya negeri ini mengidap defisit di porsi ini, istilah CAD (current account deficit)-dengan embel-embel 'deficit'-menjelma menjadi frase baru menggantikan istilah CA.

Terbaru pada 2018, angka CAD mencapai 2,98% dari PDB atau setara dengan US$31,1 miliar. Angka ini di atas kertas masih terkendali karena masih di bawah batas aman yang diizinkan sebesar 3%. Namun jika berbicara tren, kita melihat garis yang terus menurun sejak tahun 2010.

Sumber: BI

Apa pemicu penurunan itu? Ada beberapa hal, tetapi salah satunya adalah pertumbuhan impor barang dan jasa yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekspornya, sehingga Indonesia membukukan defisit perdagangan.

Namun, jangan disalahpahami. Impor bukanlah dosa. Dia hanya menjadi beban ketika struktur rumah tangga bernama Indonesia ini tidak bisa memproduksi lebih banyak barang yang dijual ke tetangganya. Impor untuk produk pangan misalnya, tak terelakkan ketika kita bicara produk yang tak bisa dihasilkan di negeri ini seperti misalnya gandum.

Problemnya, penerimaan negara kita secara fundamental masih bergantung di situ, belum sampai pada investasi lintas negara laiknya ekonomi negara maju seperti Singapura dan Temaseknya. Dengan demikian, aspek keunggulan produk yang diekspor harus menjadi perhatian jika ingin penerimaan negara aman.

"Industri makanan dan minuman memang masih harus impor, karena tidak semua bisa diproduksi di Indonesia. Kita harus memilih mana produk yang bisa dikembangkan dan mana yang tidak. Jika bawang putih tidak bisa diproduksi secara optimal di Indonesia maka tidak perlu memaksa ke sana, lebih baik fokus menggarap tanaman lain yang kita unggul di sana," ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman dalam wawancara dengan CNBC Indonesia TV pada Senin (26/2/2019).

Sayangnya, di negeri yang kaya akan sumber daya alam, Indonesia terlihat kehilangan kendali spesialisasi (specialization) produk ekonomi. Padahal dalam persaingan global, sebuah negara akan berjaya jika memiliki keunikan yang membuatnya unggul dari negara lain. Ekonom menyebutnya sebagai keunggulan komparatif (comparative advantage).

Vietnam, misalnya, memiliki keunggulan dari produksi beras yang tinggi meski luas negaranya hanya seperempat dari Indonesia. Dengan produksi berlimpah, tahun lalu mereka menargetkan ekspor beras 6,5 juta ton, cukup untuk memberi makan seperlima populasi Indonesia setahun.

Di Indonesia, spesialisasi produk ini yang belum terlihat diseriusi kuat. Pengembangan industri terjadi secara natural mengikuti hukum pasar. Ketika ada booming minyak pada era 1960, sektor itu digenjot. Lalu muncul era batu bara pada tahun 2000, dan juga sawit. Mengalir saja.

Jika sektor tersebut disepakati sebagai produk ekonomi spesialitas, pemerintah dan swasta mestinya bahu-membahu membangunnya hingga menjadi industri strategis. Dan tipikal industri strategis, dia menciptakan nilai tambah yang begitu besar hingga tak ada komponennya yang balik lagi ke Indonesia, diimpor sebagai barang jadi.

Atau, jangan-jangan itulah spesialitas Indonesia dalam sistem supply chain dunia yang tanpa sadar sedang kita jalankan: memasok bahan mentah dan setengah jadi-sehingga berujung pada minimnya nilai ekspor (bahan mentah/baku) di tengah terus naiknya kebutuhan (impor) bahan jadi?

Semoga saja tidak. Kemungkinan, negeri ini hanya belum tuntas membangun spesialitas produk andalannya.



TIM RISET CNBC INDONESIA






(ags/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading