Defisit Dagang RI Terparah, Akibat Surplus Non-Migas Kerdil

News - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
16 January 2019 13:45
Defisit Dagang RI Terparah, Akibat Surplus Non-Migas Kerdil
Jakarta, CNBC Indonesia - Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, defisit neraca dagang Indonesia di tahun 2018 merupakan yang terparah sepanjang sejarah RI.

Dalam rilisnya, total impor RI sepanjang 2018 meningkat 20,15% dari tahun sebelumnya yang senilai US$ 156,99 miliar menjadi US$ 188,63 miliar.

Sedangkan total ekspor sepanjang 2018 hanya tumbuh 6,65% dari tahun lalu, yang mana meningkat dari US$ 168,83 miliar menjadi US$ 180,06.


Dengan begitu, sepanjang tahun 2018, nilai neraca perdagangan tercatat defisit US$ 8,57 miliar. Angka tersebut merupakan defisit RI yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia, dimana rekor sebelumnya dicatat pada tahun 2013 dengan defisit senilai US$ 4,07 miliar.

Memang, defisit parah pada tahun 2018 salah satunya disebabkan oleh defisit di sektor migas yang menyentuh rekor terparah sejak tahun 2014.

Meskipun terdengar mengerikan, Indonesia memang merupakan net-importir minyak bumi. Jadi, memang sektor migas akan selalu diproyeksikan negatif.

Hal yang menjadi sorotan adalah di sektor non-migas yang seharusnya menjadi penyeimbang dari defisit migas yang hampir pasti.



Berdasarkan pantauan Tim Riset CNBC Indonesia sejak tahun 2013, surplus dagang di sektor non-migas pada tahun 2018 merupakan surplus yang paling kecil.

Hal ini karena pada tahun 2018, pertumbuhan tahunan impor non-migas yang sebesar 19,71% jauh melampaui pertumbuhan ekspor non-migas yang hanya 6,25%. Alhasil, surplus sektor non-migas pun menjadi kerdil.

Sebagai infomasi, barang ekspor non-migas yang palin banyak sumbangsihnya terhadap ekspor adalah pada kategori bahan bakar mineral (HS 27), dan minyak nabati (HS 15). Utamanya, bahan bakar mineral didominasi oleh batu bara, sedangkan minyak nabati sebagian besar merupakan minyak kelapa sawit.



Pertumbuhan impor non-migas di tahun 2018 juga merupakan yang terbesar sejak 2014. Yang menjadi menarik adalah, pertumbuhan impor pada tahun 2018 sebagian besar andilnya dari kenaikan impor untuk barang-barang konsumsi (6,22%). Sedangkan pertumbuhan impor bahan baku/penolong hanya naik 0,88% secara year-on-year (yoy). Lebih parahnya, impor barang modal menunjukan angka pertumbuhan negatif 0,3%.

Rendahnya pertumbuhan impor bahan baku dan barang modal mengindikasikan kegiatan industri yang menghasilkan nilai tambah barang sedang lesu.


TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(taa/wed)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading