2018: APBN Oke, Kemiskinan Turun, dan Defisit Rendah

News - Iswari Anggit, CNBC Indonesia
02 January 2019 20:12
2018: APBN Oke, Kemiskinan Turun, dan Defisit Rendah
Jakarta, CNBC Indonesia - Pencapaian APBN 2018, diklaim Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati positif. Meskipun berada di tengah kondisi perekonomian global yang penuh tekanan dan ketidakpastian.

Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi yang di atas 5%, diiringi dengan defisit serta inflasi yang rendah, dan penyerapan APBN yang hampir 100% sehingga mampu membantu mengurangi angka kemiskinan.

Dalam pers rilis yang diterbitkan oleh Kementerian Keuangan, dijelaskan prestasi yang berhasil ditingkatkan dan dipertahankan pemeritah terkait realisasi APBN 2018.
2018: APBN Oke, Kemiskinan Turun, dan Defisit RendahFoto: Menteri Keuangan Sri Mulyani Memimpin Konferensi pers kinerja APBN 2018 di Kementerian Keuangan (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)



Pertama, berkaitan dengan realisasi pendapatan negara yang mencapai Rp 1.942,3 triliun, yang tentu saja melebihi target APBN dan menunjukkan kalau pemerintah optimal dalam mengelola anggaran.

Tak hanya itu, realisasi pertumbuhan ekonomi di tahun 2018 pun mencapai 5,15%. Angka ini tentu lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2017 yang hanya 5,07%.

Kedua, realisasi defisit APBN 2018 juga sangat rendah, bahkan di bawah target yang mencapai 2,19%, di mana defisitnya hanya 1,76% dari PDB (Produk Domestik Bruto).

Selain itu, jika mengikuti perkembangan inflasi dan fluktuasi kurs rupiah sepanjang tahun 2018, tentu dapat dilihat bagaimana perjuangan pemerintah menstabilkan hal tersebut.

Jerih lelah pemerintah dapat dikatakan berbuah manis. Realisasi inflasi tahun 2018 cukup rendah, yakni 3,13%. Dan untuk nilai tukar rupiah, rata-ratanya di tahun ini Rp 14.427 per dolar. Angka ini menunjukkan kalau nilai tukar rupiah terdepresiasi sekitar 6,9% jika dibandingkan dengan posisi akhir nilai tukar rupiah di tahun 2017.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan kalau penyerapan APBN 2018 pun optimal, mencapai 99,2%. Hal ini termasuk dengan penambahan anggaran bencana, bantuan sosial seperti PKH, dan sebagainya, dalam belanja non K/L yang mencapai Rp 608,2 triliun.

Semua ini dilakukan pemerintah untuk menekan angka kemiskinan dan pengangguran. Dan lagi-lagi kementerian yang dipimpin mantan COO World Bank ini mengklaim keberhasilannya. Angka kemiskinan dan pengangguran di tahun 2018 ini masing-masing turun 9,82% dan 5,34%.






(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading