Jokowi Galau dan Sindir Pertamina Soal Pembangunan Kilang

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
30 November 2018 10:39
Jokowi Galau dan Sindir Pertamina Soal Pembangunan Kilang
Jakarta, CNBC Indonesia- Pembangunan proyek kilang yang berjalan lambat kembali disinggung pemerintah, kali oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B Pandjaitan.

Dalam gelaran Pertamina Energy Forum 2018, di Jakarta, Kamis (29/11/2018) kemarin, Luhut mengungkapkan kegalauan Presiden Joko Widodo karena pembangunan kilang yang lambat tersebut. Bagaimana tidak? Selama empat tahun ia menjabat sebagai RI 1, belum ada satu pun pembangunan kilang yang jadi.




"Presiden pun galau, karena sudah empat tahun jadi Presiden belum ada yang jadi pembangunan kilang," ujar Luhut.

Untuk itu, dirinya meminta Pertamina agar pembangunan kilang jangan mundur lagi. Pasalnya, dengan selesainya pembangunan kilang, dapat membantu negara untuk mengurangi impor minyak.

Luhut menyebutkan, defisit transaksi berjalan (CAD) Indonesia sangat terpengaruh dengan impor minyak. Ia menuturkan, CAD tahun ini diprediksi akan mendekati US$ 24 miliar, dibanding tahun lalu yang sebesar US$ 17 miliar.  

"Sekarang masuk kerja sama dari CPC Corporation Taiwan, ini jadi harapan pembangunan kilang," pungkas Luhut.

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina (Persero) Ignatius Tallulembang menyebutkan, dalam gelaran tahunan IMF kemarin, pihaknya sudah menjalin kerja sama dengan CPC Corporation Taiwan untuk membangun kilangnya. Ia menuturkan, pihaknya sudah melakukan tindak lanjut, dan diskusi awal denga CPC.

"Intinya, kami akan percepat jalannya pembangunan kilang. Tahap pertama, kami akan lahan dulu," tutur Ignatius kepada media saat dijumpai dalam acara Pertamina Energy Forum 2018, di Jakarta, Kamis (29/11/2018). 

Lebih lanjut, Ignatius mengungkapkan, sebenarnya, ada tiga alternatif daerah, tapi kami lihat yang paling manageable dan paling mudah kami eksekusi adalah lahan di samping kilang Balongan.

"Jadi ya nanti kami reklamasi. Dengan teknologi yang ada, bisa cepat reklamasinya. Sudah sindikasi juga dengan pemerintah, perhubungan laut, dan sudah minta dukungan juga dai para stakeholder supaya opsi ini bisa kami eksekusi," jelasnya.

Setelah reklamasi selesai, nantinya Pertamina akan mengurus dan menyiapkan segala macam perizinan, seperti izin lokasi, AMDAL, dan surat izin mulai pekerjaan. Ia berharap, mudah-mudahan semua bisa segera diselesaikan.

"Secara paralel, kami juga akan lakukan studi kelayakan untuk konfigurasi kilang Petrokimia, termasuk produk-produknya nanti apa saja, bersama dengan mitra, CPC Corporation Taiwan," tutur Ignatius.

Sedangkan, targetnya, paling lambat kilang Petrokimia ini bisa beroperasi di 2025 mendatang.

Adapun, ia juga menuturkan, ke depannya untuk kilang tersebut nantinya akan dibentuk perusahaan join venture (JV). Namun, saat ini hal itu masih dalam tahap pembicaraan lebih lanjut, termasuk berapa besar porsi Pertamina.

"Kami berharap bisa mayoritas, karena istilahnya kami kan di dalam negeri, dan pasarnya kan di kami, jadi diharapkan Pertamina yang lebih besar porsinya," pungkas Ignatius.

Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati juga pernah menuturkan, selain kilang Balikpapan, BUMN migas ini juga akan melakukan percepatan pengerjaan kilang Tuban, yang bukan hanya kilang saja, tetapi juga petrokimia.

"Hari ini sudah proses lahan, baik lahan LHK maupun warga, kami juga lakukan reklamasi. Prosesnya semoga cepat, jadi ini baru. Kami lakukan bersama dengan Roseneft," ujar Nicke kepada media saat dijumpai dalam gelaran Pertamina Energy Forum 2018, di Jakarta, Rabu (28/11/2018).

Lebih lanjut, Nicke menuturkan, untuk kilang lainnya, misalnya kilang Bontang, perusahaan akan melakukan tanda tangan frame work agreement di Desember mendatang. Sedangkan untuk kilang Cilacap, Nicke menyebutkan, pihak Saudi Aramco yang merupakan mitra Pertamina di blok tersebut, masih mekakukan finalisasi.

"Kami lakukan land clearing di Cilacap," kata Nicke.

Jokowi Galau dan Sindir Pertamina Soal Pembangunan Kilang Foto: Aristya Rahadian Krisabella


Kemudian untuk kilang Plaju dan Dumai, Nicke menjelaskan, prosesnya bukan membangun baru, melainkan mengonversi solar dan BBM, menjadi green fuel.

"Kami arahkan ke green avtur dengan menggunakan CPO, kami bisa B100, kami bikin long term agreement. Waktu yang diperlukan 24 bulan, dan ini dalam pertengahan bulan depan, kami agreement dengan ENI untuk bisa melakukan konversi tersebut," pungkas Nicke.

Sebagai informasi, kilang-kilang tersebut merupakan proyek yang terdiri dari empat Refinery Development Master Plan (RDMP) atau proyek pengembangan di kilang Cilacap, Balikpapan, Balongan, dan Dumai serta dua proyek Grass Root Refinery (GRR) atau pembangunan kilang baru di Tuban dan Bontang. (gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading