RI Impor Beras Terus, Rakyat Diminta Pilih Sagu Cs

News - Samuel Pablo, CNBC Indonesia
19 November 2018 09:29
RI Impor Beras Terus, Rakyat Diminta Pilih Sagu Cs
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian akan meluncurkan program Pengembangan Industri Pangan Lokal (PIPL) di tahun depan.

Tujuan dari program ini adalah untuk mengupayakan diversifikasi pangan dengan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras dan gandum, serta melokalkan bahan baku industri pangan di Tanah Air.

Kepala BKP, Agung Hendriadi menjelaskan, program ini akan menargetkan daerah-daerah dengan potensi pangan lokal yang besar, seperti sagu, jagung, singkong, atau umbi-umbian lainnya.


Nantinya, Kementan akan mendorong dan memfasilitasi masyarakat setempat untuk melakukan budidaya yang intensif, baik untuk kebutuhan konsumsi pribadi maupun industri. Program ini akan dimulai tahun depan dengan pilot project di 10 provinsi.

"Papua dalam 3 tahun terakhir masih rentan rawan pangan karena ketiadaan akses transportasi sehingga menyulitkan distribusi pangan dari wilayah lain. Intervensi kita, mereka punya sagu, kenapa tidak kita dorong mereka menanam itu," kata Agung di kantornya, Jumat (18/11/2018).


Agung mengungkapkan, BKP bekerjasama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) sedang membangun unit pengolahan sagu di Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Dia menyebutkan wilayah tersebut memiliki potensi produksi tepung sagu hingga 600 ribu ton per tahun. "Sementara saat ini produksinya masih di bawah 100 ribu ton," ujarnya.

Seperti diketahui, makanan pokok masyarakat di Indonesia adalah beras di mana isu terkait komoditas itu khususnya terkait dengan impor selalu menjadi polemik.

Baru-baru ini, Badan Pusat Statistik (BPS) juga baru merilis data beras nasional yang menyatakan bahwa surplus beras RI pada tahun ini dinyatakan hanya 2,85 juta ton, atau jauh dari perkiraan Kementerian Pertanian mencapai 13,03 juta ton.


Agung menegaskan, produksi pangan lokal suatu daerah tetap diprioritaskan untuk konsumsi rumah tangga masyarakat setempat, baru sisanya diserap industri.

"Kita harapkan sih sebetulnya untuk konsumsi masyarakat sendiri, sehingga mereka tidak ketergantungan dengan beras. Baru sisanya nanti di-offtake industri," tegasnya.

Kendati demikian, dia tidak bisa menjamin porsi konsumsi masyarakat dan industri yang sama untuk setiap daerah.

"Tergantung daerahnya, seperti di Papua dan Maluku mungkin lebih banyak untuk konsumsi lokal. Tapi di Riau? Nggak juga," pungkasnya.

Foto: Aristya Rahadian Krisabella
(ray/ray)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading