Rupiah Jeblok, Keuangan Pertamina & PLN Semakin Sulit

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
31 October 2018 08:59
PLN merugi karena rupiah jeblok sementara Pertamina terbebani harga minyak dan nilai tukar.
Jakarta, CNBC Indonesia - PT PLN (Persero) mencatat kerugian sebesar Rp 18,48 triliun untuk kinerja kuartal III tahun ini. Kerugian itu terjadi karena terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan naiknya harga bahan bakar (komoditas).

Kinerja PLN tahun ini berbalik dengan tahun lalu, di mana perseroan bisa mencetak laba bersih Rp 3,05 triliun. Berdasar laporan keuangan yang dipublikasikan di situs Bursa Efek Indonesia, kerugian dipicu kenaikan beban usaha 12%. 

Beban terbesar masih berasal dari beban bahan bakar dan pelumas yang naik dari Rp 85,28 triliun menjadi Rp 101,88 triliun. PLN juga menderita pembengkakan kerugian karena selisih kurs. Jika pada kuartal III-2017 rugi dari selisih kurs mencapai Rp 2,23 triliun, maka pada kuartal III-2018 menjadi Rp 17,33 triliun.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai, jika kondisi ini terus berlangsung, tentunya akan semakin memberatkan PLN, dan bisa berpotensi merugi semakin dalam.

"Hitungan persisnya belum ada, tetapi estimasi kasarnya, kerugian PLN bisa mencapai sekitar Rp 30 triliun sampai akhir tahun ini," ujar Komaidi kepada CNBC Indonesia saat dihubungi Selasa (30/10/2018).

Lebih lanjut, ia mengatakan, dalam kondisi energi primer pembangkit dan rupiah melemah pilihannya memang dua, merugi atau menaikkan tarif listrik. Menurutnya, pemerintah sebagai pemegang saham sudah memilih pilihan pertama, sehingga ketika kondisi seperti saat ini terjadi, maka konsekuensinya memang harus ditanggung.

Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) Telisa Aulia mengatakan, memang sudah saatnya PLN melakukan diversifikasi produk, dan melakukan restrukturisasi jangka panjang, agar kerugian tidak semakin dalam.

"Misalnya diversifikasi sumber energi listrik, seperti mengembangan tenaga air dan matahari, dan melakukan hedging kewajiban valas juga penting," pungkas Telisa.

Lalu, bagaimana dengan nasib PT Pertamina (Persero) yang memikul beban distribusi BBM di kala harga komoditas naik gila-gilaan dan rupiah anjlok?

Sampai saat ini belum ada yang bersuara soal laporan keuangan perusahaan migas pelat merah terbesar di RI ini, tak ada pengumuman untuk kinerja semester I maupun kuartal III. Sudah lama tidak ada kabar. 

Berdasarkan informasi yang diterima CNBC Indonesia, keuangan Pertamina saat ini masih seret. Tidak merugi, tapi keuntungan yang dipetik merosot sangat dalam dibanding kinerja tahun lalu. Kabarnya, Pertamina hanya mencetak laba US$ 60 juta atau sekitar Rp 900 miliar hanya untuk kuartal III. 

Untuk semester I perusahaan disebut hanya sanggup bukukan laba di bawah Rp 5 triliun. Hal itu sebagaimana pernah diungkap Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno. 

Komaidi mengakui, memang kondisi yang berat pun dialami Pertamina, namun ia berpendapat, kondisi Pertamina relatif bisa lebih baik, karena dibantu dengan industri di hulu migas perusahaan. "Yang terjadi hanya untungnya saja yang berkurang," imbuh Komaidi.

Hal serupa juga disampaikan oleh pengamat energi Fabby Tumiwa. Menurutnya, karena Pertamina memiliki diversifikasi produk dan harga yang lebih luas dibandingkan PLN, ditambah struktur biaya produksi yang lebih fleksibel. Sehingga, pada dasarnya pendapatan dari bisnis Pertamina lebih beragam dan Pertamina masih positif keuangannya walaupun margin keuntungan berkurang.

"Saya kira dengan harga minyak sekarang, Pertamina masih aman, tapi kalau harga minyak tinggi Pertamina bisa bahaya kalau harga BBM jenis Premium (Ron 88) tidak dinaikkan," tutur Fabby ketika dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (30/10/2018).

Adapun, ketika dikonfirmasi terkait laporan keuangan perusahaan, Pertamina belum memberikan jawaban pasti. External Communication Manager Pertamina Arya Dwi Paramita hanya menyebut laporan keuangan masih dikonsolidasi. "Sampai kuartal III sepertinya lagi dikonsolidasikan," ujarnya, Selasa (30/10/2018).





(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading