Jokowi: Akhir Serial Game of Thrones Bisa Ditebak

News - Arys Aditya, CNBC Indonesia
12 October 2018 11:19
Jokowi: Akhir Serial Game of Thrones Bisa Ditebak
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo membandingkan konstelasi perekonomian dunia dengan serial televisi terkenal Game of Thrones. Jokowi bahkan berani menebak akhir dari serial tersebut meski season terakhir GoT baru akan tayang pada tahun depan.

Dalam Opening Plenary Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Bali Nusa Dua Convention Center Bali, Jumat (12/10/2018), Jokowi mengemukakan sejumlah negara besar saat ini tengah berada pada situasi saling berperang, mirip dengan para keluarga bangsawan di GoT yang bertarung untuk memperebutkan tahta kerajaan tanah Iron Throne di Westeros.

"Perebutan kekuasaan antar para Great Houses itu bagaikan sebuah roda besar yang berputar. Seiring perputaran roda, satu Great House tengah berjaya, sementara House yang lain menghadapi kesulitan dan setelahnya House yang lain berjaya," paparnya.


"Namun, yang mereka lupa, tatkala para Great Houses sibuk bertarung satu sama lain, mereka tidak sadar adanya ancaman besar dari Utara. Seorang evil winter, yang ingin merusak dan menyelimuti seluruh dunia dengan es dan kehancuran."


Jokowi mengibaratkan bahwa saat ini, dunia sedang berada dalam peperangan tersebut. Dan secara tegas, Presiden Indonesia mengatakan bahwa 'musim nestapa akan datang', atau 'winter is coming', frasa yang sangat terkenal dalam serial itu.

Dalam serial itu, frasa tersebut adalah ungkapan salah satu keluarga bangsawan (House of Stark) ketika mendapati serangan dari para vampir (White Walker) yang muncul dari sisi Utara dengan dipimpin oleh Night King.

"Dengan adanya kekhawatiran ancaman Evil Winter tersebut, akhirnya mereka sadar: tidak penting siapa yang duduki di Iron Throne, yang penting adalah kekuatan Bersama untuk mengalahkan Evil Winter agar bencana global tidak terjadi. Agar dunia tidak berubah menjadi tanah tandus yang porak poranda yang menyengsarakan kita semua."

Jokowi mengemukakan, ancaman ekonomi global makin hebat karena diiringi oleh ancaman dari sisi lingkungan, berupa perubahan iklim yang meningkatkan intensitas badai di AS hingga Filipina sampai sampah plastik di seluruh dunia. Berbagai ancaman itu, tegasnya, hanya bisa diatasi apabila semua negara bekerja sama.

"Untuk itu, kita harus bertanya: apakah sekarang ini merupakaan saat yang tepat untuk rivalitas dan kompetisi? Ataukah saat ini merupakan waktu yang tepat untuk kerjasama dan kolaborasi?" tanya Jokowi kepada hadirin.


"Apakah kita telah terlalu sibuk untuk bersaing dan menyerang satu sama lain, sehingga kita gagal menyadari adanya ancaman besar yang membayangi kita semua? Apakah kita gagal menyadari adanya ancaman besar yang dihadapi oleh negara kaya maupun miskin, oleh negara besar ataupun negara kecil?"

Tak kurang juga, Jokowi menyatakan bahwa akhir dari GoT bisa ditebak. Ia meyakini bahwa akhir cerita GoT akan diiringi oleh pesan moral bahwa konfrontasi dan perselisihan akan mengakibatkan penderitaan, bukan hanya bagi yang kalah, namun juga bagi yang menang.

Jokowi kembali mengingatkan, ketika kemenangan sudah dirayakan dan kekalahan sudah diratapi, barulah kemudian kedua pihak sadar bahwa kemenangan maupun kekalahan dalam perang selalu hasilnya sama, yakni dunia yang porak poranda.

"Tidak ada artinya kemenangan yang dirayakan di tengah kehancuran. Tidak ada artinya menjadi kekuatan ekonomi yang terbesar di tengah dunia yang tenggelam."


Presiden RI menekankan bahwa dalam 'season terakhir' dari pertarungan dan ekspansi ekonomi global yang penuh rivalitasi, bisa jadi akan muncul situasi yang lebih genting dibandingkan dengan krisis finansial global 10 tahun lalu.

"Kami bergantung pada Saudara-saudara semua, para pembuat kebijakan moneter dan fiskal dunia untuk menjaga komitmen kerjasama global," seru Jokowi.

"Saya sangat berharap saudara-saudara akan berkontribusi dalam mendorong para pemimpin dunia untuk menyikapi keadaan ini secara tepat diperlukan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal yang mampu menyangga dampak dari Perang Dagang, disrupsi teknologi, dan ketidakpastian pasar." (ray)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading