Di Depan Investor Kakap, Luhut: Ekonomi RI Masih Oke

News - Arys Aditya, CNBC Indonesia
28 September 2018 12:09
Di Depan Investor Kakap, Luhut: Ekonomi RI Masih Oke
Jakarta, CNBC Indonesia- Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan menyampaikan Indonesia optimis bisa bertahan dari situasi sulit perekonomian global. 

Hal itu ia sampaikan ketika bertemu sejumlah investor raksasa global, seperti Morgan Stanley Asset Management, Blackrock Investment Management, NN Investment Partners, TIAA Creft Investment Management, Prudential, Lazard Investment Management, dan Horizon Investment Management di New York, Kamis (28/9/2018) waktu setempat. 




"Saya yakin pemerintahan sekarang bisa melewati situasi ekonomi saat ini. Momentum ini kami jadikan untuk melakukan beberapa perubahan karena berada di dalam situasi nyaman dengan kebijakan yang tidak jelas sangat berbahaya," katanya, dikutip dari siaran resmi. 

Dalam setiap pertemuan dengan para imvestor, Menko Luhut membawa perwakilan Bank Indonesia dan pelaku bisnis di Indonesia. 

Menurutnya, saat ini masalah Indonesia adalah menguatnya dolar AS terhadap rupiah tetapi masih dapat diatasi. Pasalnya, angka inflasi di sekitar 4%, pertumbuhan ekonomi stabil dan perbaikan di berbagai sektor adalah bekal Indonesia. 

"Double digit pendapatan pajak adalah hal yang jarang terjadi. Tax ratio biasanya berkisar 10% sekarang bisa 12%. Tax revenue  mencapai double digit. Sejak tahun 1970 angka kemiskinan kita sekarang bisa single digit, 9,28 % tetapi kami ingin tahun depan lebih baik lagi. Kemudian adalah Investment grade dari Moody's,  S&P, dan Fitch," jelasnya.

Luhut memaparkan transaksi berjalan Indonesia yang cenderung defisit adalah indikasi bahwa mesin ekonomi sedang tumbuh pesat. Ekonomi tumbuh pesat salah satunya karena jumlah kelas menengah yang makin besar. 

"Jumlah kelas menengah yang sekarang meningkat tajam mengakibatkan meningkatnya permintaan untuk barang-barang impor seperti mobile phone, dll. Kelas menengah ini juga membuat pariwisata domestik kita meningkat. Bisnis pariwisata berkembang, seperti hotel dan tujuan wisata," paparnya. 

"Dalam lima tahun terakhir pembelian pesawat Boeing dan Airbus kebanyakan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan penerbangan Indonesia."

Faktor lain dari pertumbuhan ekonomi ini, kata Menko Luhut, karena tingginya angka impor bahan mentah terutama di sektor migas dan barang-barang konsumsi. 

"Kekeliruan kami selama ini adalah tidak mengintegrasikan industri-industri kami. UU nya sudah ada sejak tahun 2009, tapi tidak disiplin dalam pelaksaannya. Sekarang presiden Joko Widodo  bertekad untuk melaksanakan semua peraturan yang sudah ada," ujar Menko Luhut. 

Saat ini, ia menyatakan untuk memperbaiki neraca pemerintah mengimplementasikan biodiesel B20 untuk mengurangi defisit transaksi migas.

"Dengan pertimbangan industri kita bisa tidak tergantung lagi kepada sumber energi berbahan fosil. Sekarang kita bisa mengkonversi minyak sawit menjadi bahan bakar."
     
Menko Luhut menjelaskan terhitung sejak tanggal 1 September semua produsen diwajibkan mencampur biodiesel dengan kandungan minimum 20%, jika tidak, akan dikenakan denda sebesar US$ 40 sen/liter. 

Kedua, menerapkan kewajiban meningkatkan penggunaan produk lokal. 
Ketiga, adalah meningkatkan fasilitas dan infrastruktur pariwisata. 

"Sektor ini berbiaya murah tetapi masukan yang didapat luar biasa. Saya tidak pernah menyangka pariwisata bisa menjadi primadona pemasukan negara," tuturnya. 

"Kami sudah melakukan berbagai perbaikan seperti perpanjangan runway, pembangunan infrastruktur di tujuan-tujuan wisata dan hasilnya jumlah kunjungan wisatawan ke tempat-tempat tersebut berlipat ganda."

(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading