Updated-1

BPS : Ekspor Maret 2018 Naik 6,14%, Impor Tumbuh 9,07%

News - Arys Aditya, CNBC Indonesia
16 April 2018 11:05
BPS : Ekspor Maret 2018 Naik 6,14%, Impor Tumbuh 9,07%
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data ekspor dan impor Maret 2018 serta neraca perdagangan. Ekspor pada Maret 2018 tercatat naik 6,14% (year on year) dengan nilai US$ 15,58 miliar.

Angka tersebut diumumkan oleh Kepala BPS, Suhariyanto di Gedung BPS, Senin (16/4/2018).

"Nilai ekspor secara bulanan tumbuh 10,24%. Ekspor non migas tumbuh 11,77% sementara ekspor migas turun 3,81%," kata Suhariyanto.


Secara bulanan, ekspor produk pertanian meningkat hingga 20,01%. "Didorong oleh ekspor sarang burung dan aromatik," ujar Suhariyanto.

Untuk industri manufaktur secara bulanan naik 9,17%. Didorong oleh ekspor besi-baja, tembaga, tekstil, dan pulp. Untuk pertambangan, secara bulanan naik 22,66%. "Didorong oleh batu bara 24%, dan biji tembaga yang naik 36%," tutur Suhariyanto.

Sementara ekspor untuk timah secara bulanan mengalami penurunan hingga 45%.

Data Ekspor :

Ekspor nonmigas Maret 2018 mencapai US$14,24 miliar, naik 11,77% dibanding Februari 2018. Demikian juga dibanding ekspor nonmigas Maret 2017 naik 8,16%.

Secara kumulatf, nilai ekspor Indonesia Januari-Maret 2018 mencapai US$44,27 miliar atau meningkat 8,78% dibanding periode yang sama tahun 2017, sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$40,21 miliar atau meningkat 9,53%.

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Maret 2018 terhadap Februari 2018 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$358,9 juta (18,58%), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada timah sebesar US$92,5 juta (45,25%).

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari-Maret 2018 naik 4,60% dibanding periode yang sama tahun 2017, demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya naik 41,48%, sementara ekspor hasil pertanian turun 9,32%.

Ekspor nonmigas Maret 2018 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$2,36 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,59 miliar dan Jepang US$1,43 miliar, dengan kontribusi ketganya mencapai 37,78%. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,53 miliar.

Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari-Maret 2018 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$7,53 miliar (17,02 persen), diikut Jawa Timur US$4,77 miliar (10,77 persen) dan Kalimantan Timur US$4,59 miliar (10,37%).

Impor

BPS mencatat nilai impor pada Maret 2018 mengalami pertumbuhan hingga 9,07% dengan nilai US$ 14,49 miliar. Sehingga neraca perdagangan mencatatkan surplus hingga US$ 1,09 miliar.

"Impor barang konsumsi secara tahunan turun 9,54%. Bahan baku penolong naik 9,01% dan barang modal naik 21,6%," kata Suhariyanto.

Sementara, Suhariyanto mengatakan impor beras tercatat turun tajam. "Hal ini karena dibatasi hanya 500.000 ton. Sementara impor bahan baku didorong oleh kenaikan impor raw sugar," tuturnya.

Data Impor :

Impor nonmigas Maret 2018 mencapai US$12,23 miliar atau naik 2,30% dibanding Februari 2018, sementara jika dibanding Maret 2017 meningkat 11,08%.

Impor migas Maret 2018 mencapai US$2,26 miliar atau naik 1,24% dibanding Februari 2018, namun turun 0,64% dibanding Maret 2017.

Peningkatan impor nonmigas terbesar Maret 2018 dibanding Februari 2018 adalah golongan mesin dan pesawat mekanik US$286,9 juta (14,84%), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan mesin dan peralatan listrik sebesar US$153,1 juta (9,19%).

Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Maret 2018 ditempat oleh Tiongkok dengan nilai US$10,16 miliar (27,30 persen), Jepang US$4,33 miliar (11,64 persen), dan Thailand US$2,57 miliar (6,89%). Impor nonmigas dari ASEAN 20,84 persen, sementara dari Uni Eropa 9,41%.

Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari-Maret 2018 mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 22,08%, 18,35%, dan 27,72%.

(dru/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading